Alpen Steel | Renewable Energy

~ Energi Alternatif Pilihan Terbaik

Pilihan utama dalam pemanfaatan energi alternatif telah menjadi keniscayaan global, walaupun terkadang menghadapi berbagai kendala teknis dan nonteknis. Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang sangat bervariasi, seperti: tenaga surya, tenaga laut (gelombang, perbedaan temperatur), tenaga angin, tenaga panas bumi, biomas, tenaga air, dan tenaga bayu.

Potensi energi alternatif yang belum dimanfaatkan itu sangat besar dan seyogianya segera dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mengingat terus meningkatnya tingkat kebutuhan akan energi listrik, tidak menentunya harga energi fosil, serta makin mendesaknya kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang memberikan kontribusi pada peningkatan suhu global.

Menimbang terbatasnya input strategis dalam memanfaatkan potensi-potensi tersebut, selayaknya diajukan pertanyaan kunci: bagaimana menentukan skala prioritas dari berbagai potensi energi alternatif? Apakah alternatif terbaik dari energi alternatif untuk Indonesia, saat ini?

Desa Ampera, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan di ujung kaki Sulawesi Tenggara dihuni oleh sekitar 220 keluarga yang merupakan petani dan nelayan. Ketika bermalam di rumah kepala desa sebagai tempat singgah untuk menyeberang ke Buton Utara subuh keesokan harinya, pada saat melakukan survei lapangan di lokasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) off grid di sana, tim dari Integrated Micro Hydro Development and Application Program (Imidap) menemukan beberapa hal menarik. Sebagian rumah di Desa Ampera telah mendapatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 50 watt yang pengadaannya dengan dana APBN yang disalurkan lewat Pemerintah Provinsi Sultra. Sebagian besar rumah lainnya masih mengharapkan mendapatkan jatah PLTS pada kesempatan berikut.

Rumah yang mendapat jatah PLTS itu hanya dapat menggunakan tiga titik lampu pada malam hari, selama kurang lebih 10 jam, dan masih bergantung pada cuaca pada siang hari serta kinerja baterai kering yang dipakai untuk menyimpan energi. Kepala desa memiliki TV dan perangkat DVD, namun tentu saja tidak dapat digunakan dengan daya listrik dari PLTS tersebut.

Sebuah genset diesel disiapkan untuk keperluan tersebut. Malam itu, genset dinyalakan, karena cukup banyak warga yang berkumpul di sana, sehingga TV, sebagai salah satu hiburan mesti dinyalakan. Beberapa titik lampu juga harus dinyalakan secara bersamaan. Tim Imidap pun menggunakan kesempatan malam itu untuk melakukan diskusi santai dengan masyarakat setempat, sekadar memotret gambaran kehidupan warga, mengidentifikasi berbagai potensi ekonomi, dan yang terpenting menumbuhkan semangat untuk berubah dengan kekuatan sendiri demi kesejahteraan mereka.

Pada awalnya, diskusi santai tersebut diwarnai dengan asumsi kami bahwa desa tersebut tidak memiliki potensi energi lain, selain energi surya, sehingga PLTS menjadi pilihan pertama untuk menerangi rumah rumah penduduk.

 

Potensi Air Ternyata dugaan tersebut keliru. Desa Ampera bersama desa tetangganya memiliki potensi air yang berasal dari sebuah mata air yang tidak pernah mengalami kekeringan. Mata air ini telah digunakan sebagai sumber air bagi kebutuhan rumah tangga tiga desa. Selain itu, mengalir pula sebuah sungai yang selama 20 tahun terakhir hanya satu kali mengalami kekeringan, yaitu ketika daerah tersebut dilanda kemarau berkepanjangan selama delapan bulan.

 

Tim sempat mengukur debit kedua sumber air tersebut. Setelah diambil untuk kebutuhan rumah tangga bagi tiga desa berdekatan, mata air yang dimaksud masih menyisakan aliran yang terbuang dengan debit sekitar 50 liter/detik yang kemudian bergabung dengan aliran sungai dengan debit total sekitar 250 liter/detik. Tinggi head yang dapat diperoleh adalah sekitar 7 m. Dengan demikian, sebuah PLTMH dapat dibangun di Desa Ampera dengan daya sekitar 15 kw. Berdasarkan topografi, tingkat kesulitan pekerjaan bangunan sipil relatif kecil dan jumlah dana yang dibutuhkan diperkirakan Rp 350 juta – Rp 400 juta. Jika dibandingkan dengan investasi untuk PLTS, yaitu satu modul 50 watt peak sebesar Rp 5 juta – Rp 6 juta maka jumlah dana tersebut dapat digunakan untuk memberikan modul 50 watt peak bagi 80 buah rumah . Total daya terpasang hanya berjumlah 4 kw dengan keterbatasan pemanfaatan dari segi waktu pakai dan jenis manfaat.

Sebaliknya daya dari PLTMH, sebesar 15 kw tersebut, selain untuk penerangan sepanjang malam juga akan dapat digunakan untuk pengembangan usaha produktif pada siang harinya, seperti pabrik es curah skala kecil untuk menyuplai kebutuhan es curah para nelayan di Desa Ampera dan dua desa tetangga. Selain itu, pengolahan kelapa dengan mendirikan pabrik minyak kelapa skala kecil, pengolahan jambu mete serta gula aren dapat menjadi pilihan usaha produktif yang bergantung pada manajemen peman-faatan energi.

 Penulis adalah Dosen FTI Usakti, juga bekerja di Imidap (Integrated Micro Hydro Developmentand Application Program)

 Apa yang diterapkan di Desa Ampera, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, hanyalah satu contoh kecil betapa pilihan pemanfaatan energi alternatif sering tidak berpijak pada potensi sumber energi setempat. Mungkin, karena pilihan kebijakan tidak didahului oleh survei potensi energi lokal yang semestinya menghasilkan suatu peta potensi energi lokal. Tentu saja lebih mudah memberikan modul pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan membelinya dari luar negeri ataupun merakitnya di dalam negeri.

Pemasangan di rumah-rumah pun sangat mudah, begitu pula perawatannya. Hal tersebut tentu berbeda dengan membangun suatu pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), apalagi mini hidro, yang harus didahului dengan studi potensi, studi kelayakan, desain teknis, pembangunan fisik, penyiapan lembaga pengelola, inseminasi usaha produktif, dan berbagai kegiatan lain.

Pilihannya jelas, proses yang mudah dengan hasil asal-asalan atau menempuh proses yang sulit serta penuh keringat dan bahkan airmata, namun hasilnya optimal dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika pilihannya adalah pencitraan bahwa jalan yang mudah dan cepat adalah pilihannya, namun jika pilihannya adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, maka jalan yang sulit akan terasa manis walaupun prosesnya lebih panjang.

Energi pada dasarnya adalah prime mover utama dalam mendorong peningkatan produktivitas wilayah dan tidak sekadar menjadi sumber penerangan serta hiburan warga yang bersifat konsumtif. Dalam contoh di Desa Ampera, prioritas sebaiknya diberikan kepada mikro hidro dan bukannya pada energi surya. Secara umum, jika suatu lokasi memiliki potensi sumber air, maka sebaiknya potensi ini yang lebih dulu dimanfaatkan sebelum memanfaatkan sumber energi lain. Dari sudut lingkungan, hadirnya PLTM atau PLTMH akan mendorong aktivitas konservasi lingkungan untuk menjaga keberlanjutan sumber energi. Double impact seperti ini tidak ditemukan dalam pemanfaatan energi alternatif lainnya.

Suatu alasan lain yang mendasar atas rekomendasi untuk menjadikan energi mikro dan mini hidro sebagai prioritas pertama dibandingkan energi alternatif lainnya adalah kesiapan teknologi dalam negeri. Tanpa banyak publikasi, industri mikro hidro tumbuh dengan pesat di Bandung sejak beberapa dekade yang lalu setelah atas kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman (GTZ) terjadi peningkatan kompetensi beberapa engineer muda Indonesia dengan melakukan alih teknologi dari Entec AG dalam memproduksi turbin aliran silang (cross flow).

Sejak saat itu, kelompok perintis ini yang kemudian berkumpul dalam Asosiasi Hidro Bandung (AHB) membangun ratusan pembangkit mikro hidro di Tanah Air dengan turbin-turbin serta berbagai komponen kontrol buatan sendiri. Saat ini, turbin-turbin dengan daya ratusan kw telah berhasil diproduksi dengan tingkat efisiensi yang telah melewati angka 70 %. Yang menarik, perusahaan-perusahaan ini merupakan perusahaan nasional skala menengah yang tumbuh dengan kekuatan dan inovasi sendiri. Saat ini, mereka telah memproduksi jenis turbin di luar cross flow, seperti turbin jenis propeler dan pelton, yang dapat disesuaikan dengan kondisi head (ketinggian terjunan) dan debit tertentu.

 

Melebarkan Sayap Kelompok ini pun telah membuka sayap ke luar negeri dengan memberikan asistensi dan pelatihan ke Filipina, beberapa negara Afrika, dan bahkan Malaysia pun berminat untuk memanfaatkan kompetensi mereka. Satu turbin propeler turbular buatan Cimahi (CV Cihanjuang) telah dipasang di Bucholz – Swiss pada 2006 dan hingga kini masih beroperasi dengan daya optimalnya. Prestasi tertinggi yang telah dicapai oleh kelompok ini adalah turbin tipe francis dengan daya 1 MW buatan PT Kramat, yang dipasang di lokasi Sawidago, Tentena, Sulawesi Tengah yang telah mulai beroperasi. Bersama Heksa, Cihanjuang, dan Kramat adalah tiga perintis pabrikan mikro hidro yang berlokasi di Bandung. Selain itu, PT Poso Energi, sebuah anak perusahaan grup Bukaka, juga bergerak dalam bidang ini dengan membuat turbin jenis kaplan dengan kapasitas 10 kw dan 50 kw. Sayangnya, pengujian kinerja turbin buatan mereka dilakukan di Tiongkok. Turbin tipe francis dengan kapasitas 1 mw telah melewati proses prototyping dan sedang terus dikembangkan.

 

Selain itu, saat ini bermunculan berbagai pabrikan lokal yang memproduksi turbin dengan kapasitas di bawah 200 kw. Pabrikan ini tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat dan beberapa daerah lain. Nama-nama seperi Johny Irfan di Sumatera Barat, Sucipto di Lumajang, dan Pak Linggi di Sulawesi Barat adalah penggiat mikro hidro yang memiliki pabrik lokal di daerahnya. Sebaran berbagai pabrikan ini umumnya mendapat pengaruh dan didikan secara langsung atau pun tidak langsung dari kelompok perintis di Bandung serta bersinergi dengan berbagai politeknik di daerah-daerah tersebut.

Penulis adalah Dosen FTI Usakti, juga bekerja di Imidap (Integrated Micro Hydro Development and Application Program)

Ignas Iryanto
Berbagai inovasi juga dilakukan dalam bidang kincir air yang memiliki putaran rendah. Kincir kaki Angsa serta kincir Ismun yang telah diuji coba di selokan Mataram, Yogyakarta, dan di Sungai Mahakam, menyimpan potensi aplikasi yang luas, khususnya pada saluran-saluran irigasi tanpa terjunan serta pada sungai-sungai yang lebar.

Semua ini merupakan suatu industri yang tumbuh secara mandiri, inovatif, dan potensi keunggulan kompetitif dari bangsa Indonesia. Walaupun berbagai produk dari pabrikan lokal tersebut telah digunakan dalam berbagai proyek pembangunan mikro hidro di Tanah Air yang umumnya dibiayai oleh dana hibah, APBN, APBD, dari lembaga donor internasional, serta negara sahabat, namun dengan pertimbangan keberlanjutan operasi, dirasakan adanya kebutuhan untuk menstandardisasi produk agar hanya pabrikan yang telah melewati suatu standar produk tertentu yang boleh dimanfaatkan.

Dengan demikian, sekaligus menjadi kewajiban pemerintah untuk meningkatkan kualitas produksi berbagai pabrikan lokal. Hal ini menjadi tugas bersama dari ESDM, Departemen Perindustrian serta Departemen Perdagangan agar berbagai pabrik lokal yang tumbuh dapat menyuplai komponen PLTMH di seluruh Indonesia dengan standar kualitas yang baik dan sekaligus berfungsi sebagai repair center jika terjadi kerusakan.

Selain itu, kesiapan kelompok perintis untuk memproduksi turbin-turbin berskala di atas 1 mw seyogianya dilihat sebagai potensi industri nasional yang bahkan dapat menembus pasar perdagangan regional dan internasional. Dari sudut sumber daya manusia, berbagai politeknik di Tanah Air juga telah secara khusus memasukkan teknologi ini dalam kurikulum mereka. Pada jenjang strata dua (S2), Universitas Gadjah Mada memiliki suatu program Magister Sistem Teknik (MST) yang juga secara khusus menghasilkan kader-kader yang mumpuni dalam teknologi ini.

Potensi Dahsyat

Dari pilihan energi alternatif itu, energi surya serta energi lautan, baik dalam bentuk gelombang laut, gelombang pasang maupun perbedaan temperatur antara permukaan dengan bawah laut, merupakan potensi yang mahadahsyat, yang terlihat tidak akan habis habisnya di Nusantara ini. Walaupun demikian, kesiapan teknologi dalam kedua bidang ini masih sangat jauh.

Sampai saat ini, belum terdengar adanya usaha untuk membangun suatu pusat industri dengan basis semikonduktor yang menjadi dasar dari industri fotovoltaik bagi PLTS serta langkah-langkah menuju penguasaan teknologi OTEC (Ocean thermal energy conversion). Pemerintah sudah seharusnya memberikan prioritas pengembangan teknologi-teknologi tersebut dan tidak ragu-ragu untuk menyiapkan pendanaan bagi tujuan jangka panjang yang sangat strategis itu.

Energi angin memiliki beberapa kelemahan, karena rendahnya kualitas angin di Tanah Air, kecuali di beberapa daerah tertentu. Energi panas bumi jelas merupakan pilihan yang baik. Namun, mahalnya biaya eksplorasi serta dampaknya pada lingkungan menjadi faktor yang banyak dipertimbangkan sebagai kendala. Saat ini, masih berlangsung perjuangan para pengusaha panas bumi untuk mendapatkan harga jual yang layak dari PT PLN mengingat mahalnya biaya eksplorasi yang harus mereka keluarkan. Biomas dan biofuel jika dikembangkan secara besar-besaran juga memiliki konsekuensi lingkungan yang patut dipertimbangkan dengan hati-hati.

Pilihan dari jenis energi alternatif sangat bergantung pada potensi lokal dan untuk waktu dekat, sangat dianjurkan untuk memberikan prioritas pada hydropower, khususnya untuk skala mikro hidro dan mini hidro jika potensi lokal memberikan peluang tersebut. Maraknya minat swasta nasional yang masuk pada bisnis pembangkit skala mini hidro yang membutuhkan turbin-turbin di atas 1 mw harus diantisipasi dengan mendorong penguatan pabrikan nasional yang telah siap bermain di tingkat tersebut. Kesiapan mereka dalam memenuhi kebutuhan mini hidro di Tanah Air selain dapat mengurangi impor dari Tiongkok dan Eropa, juga dapat memberikan kepada mereka kekuatan untuk mulai menjadi pemasok teknologi ini ke mancanegara, khususnya negara-negara yang masih berkembang. Selain itu, meningkatnya kebutuhan elektrifikasi pedesaan yang didukung dengan dana APBN yang mendorong penggunaan PLTMH dengan skala di bawah 500 kw sebaiknya diantisipasi dengan segera memperkuat berbagai pabrik local. Komitmen kuat dari pemerintah baru dalam memfasilitasi sinergitas antara sector-sektor terkait seperti ESDM, perindustrian, perdagangan, kehutanan, KLH, dan pihak pihak swasta terkait, akan memberikan hasil yang optimal.

Penulis adalah Dosen FTI Usakti juga bekerja di Imidap (Integrated Micro Hydro Development and Application Program)

Sumber: Suara Pembaharuan

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Karawang No 2
Bandung 40272 - Indonesia
 
Phone Line1:
022-7244-888 (08:00-17:00)
 
Fax:
022-723-0812 (24 Jam)
 
Handphone:
0852-111-111-77 (Umum) 
 
SMS:
0852-111-111-77 (24 Jam)
BB: 2a02ac52(24 Jam)
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook