Alpen Steel | Renewable Energy

~ PLTA Mrican Terancam Untuk Berhenti

PLTA Mrican Terancam Berhenti


Untuk antisipasi kemarau hingga akhir tahun 2002 Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) menganggarkan dana Rp 4,2 miliar untuk membuat hujan buatan di sejumlah waduk yang mengalami penyusutan debit air cukup signifikan.
”Selain itu, pemerintah butuh dana Rp 1,2 triliun untuk memperbaiki sarana irigasi dan rehabilitasi pascabanjir,” kata Menkimpraswil Soenarno saat dihubungi SH di Jakarta, Kamis (11/7) pagi.

Menurut Soenarno, dalam bulan Juli ini pemerintah mengalokasikan dana Rp 800 juta dari total Rp 4,2 miliar hingga akhir tahun ini. ”Menjelang awal musim hujan kita prioritaskan pengisian reservoar atau waduk-waduk terutama waduk Kedungombo dan Gajah Mungkur. Sebabnya kita khawatir debit air di sana akan di bawah normal jika tidak segera dilakukan hujan buatan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, selain kedua waduk tersebut, yang juga akan diisi kembali antara lain waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Sremo, Sempor.
Depkimpraswil dan instansi di daerah selama musim kemarau ini terus meningkatkan frekuensi pengawasan dan melakukan operasi waduk. Dari pemantauan di sejumlah waduk memang belum ada yang sampai di bawah normal. Namun seperti Kedungombo dan Gajah Mungkur sudah mulai menyusut drastis dan perlu segera diatasi dengan mengisi waduk kembali.

Soenarno mengingatkan pembuatan hujan buatan bekerja sama dengan Menteri Riset dan Teknologi harus dilakukan secara hati-hati karena ada daerah yang sangat rentan dengan hujan buatan. Seperti wilayah Jember yang merupakan daerah penanaman tembakau, di sana tengah musim tanam tembakau sehingga jika mendapatkan hujan justru akan merusak tanaman dan mengganggu produksi tembakau.
Soenarno mengungkapkan akibat bencana banjir yang lalu diperkirakan seluas 175.000 hektare lahan pertanian rusak. Untuk memperbaiki lahan tersebut dan rehabilitasi jalan serta jembatan dan aktivitas perbaikan lain, Depkimpraswil membutuhkan dana Rp 1,2 triliun. Sayang Departemen Keuangan baru menyetujui kucuran dana Rp 329 miliar.

Ia menambahkan, untuk penanganan perbaikan irigasi dan rehabilitasi lainnya, pihaknya memprioritaskan 13 wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi pangan. Daerah tersebut di antaranya Indramayu, Cilacap, Pantai Selatn, Gunung Kidul, Purwodadi, Jepara, dan lain-lain.
”Selama kemarau ini kita memprioritaskan perbaikan irigasi dan tersedianya air bersih bagi penduduk. Jangan sampai irigasi terganggu akibat kekeringan dan mengganggu produksi pangan,” Soenarno menambahkan.

Waduk Mrican
Sementara itu, tiga waduk di Jawa Tengah bagian Selatan masing-masing Waduk Mrican di Kabupaten Banjarnegara, Waduk Sempor dan Waduk Wadas Lintang di Kebumen mengalami penurunan volume air akibat musim kemarau sekarang. Khusus di Waduk Mrican, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrican umur operasionalnya tinggal tiga hari, jika memproduksi tenaga listrik sampai 180 Mega Watt (MW).
Manajer Operasional dan Niaga Unit Pembangkit Bisnis (UPB)

PLTA Mrica Teguh Adi Nuryanto menjawab pers di sela Rapat Koordinasi Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air (PPTA) di Gedung eks Karesidenan Banyumas di Purwokerto Rabu (10/7) menyatakan, saat sekarang volume air mengalami penurunan drastis. Bila hari-hari normal, pasokan air dari hulu ke waduk antara 200 - 700 m3/detik, saat ini hanya 11 m3/detik.
”Dengan pasokan air yang demikian minim, elevasi air di waduk setempat juga turun. Kini elevasi waduk sekitar 228,43 m. Padahal batas elevasi untuk bisa menghasilkan energi listrik setinggi 226,4 m. Jika melewati sampai 226,4 m, operasional harus dihentikan, karena kalau dipaksakan bisa merusak bendungan.

Dengan asumsi itu, apabila PLTA Mrica memproduksi tenaga listrik dengan turbin penuh 180 MW, maka umurnya tinggal tiga hari saja,” jelasnya.
Untuk itu, kata Teguh, pihak PLTA melakukan penghematan produksi energi listrik. Menurutnya, tiap harinya PLTA Mrica hanya beroperasi selama lima jam dengan produksi 30 MW. Hitungan di atas kertas, dengan produksi 30 MW, maka lama operasi PLTA Mrica bisa diperpanjang maksimal sampai 19 hari. ”Kita melakukan penghematan. Tidak ada cara lain kecuali menghemat, karena pasokan air dari hulu tinggal 11 m3/detik.
Aliran itu pun tidak masuk ke waduk melainkan lewat aliran samping menuju saluran irigasi Banjarcahyana untuk mengairi lahan seluas 4.883 hektare di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara. Jadi praktis, air yang masuk ke waduk tidak ada, karena penyaluran ke saluran irigasi Banjarcahyana juga sebesar 11 m3/detik,”ujarnya.

Teguh menambahkan, ”selama 14 tahun PLTA Mrica beroperasi baru sekarang mengalami kondisi seperti ini. Kita tidak tahu, mengapa pada bulan tujuh saja kondisi Waduk sudah seperti ini. Padahal selama 14 tahun, belum pernah mengalami situasi seperti ini pada bulan yang sama.”
Apa yang menjadi masalah? ”Saya kira banyak faktor, yang pasti pasokan air dari daerah hulu berkurang drastis. Selain kemarau, mungkin kerusakan lingkungan sehingga tidak ada tumbuhan yang menyimpan air di kala hujan tidak datang. Tapi itu dugaan saya, karena kalau mengkaji masalah itu bukan kewenangan saya.”
Dampak lainnya adalah tidak adanya pasokan air ke wilayah Klampok Banjarnegara. Pasalnya, irigasi ke Sungai Serayu dari buangan air bekas penggerak turbin sudah tidak mengalir. Sehingga volume air Sungai Serayu di wilayah Klampok dan sekitarnya turun.
Dikatakan Teguh, tidak ada alternatif lain selain tidak beroperasi bila elevasi air di waduk mencapai 226,4 m. Saat sekarang saja, katanya, pihaknya hanya memasok 50 MW untuk listrik Jateng dan Yogyakarta yang membutuhkan daya sebesar 2000 MW.
Dalam kesempatan terpisah, Asisten Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Sempor dan Wadas Lintang Ir Sukamto menjawab pertanyaan SH mengungkapkan, kedua waduk telah mengalami penurunan volume. Waduk Sempor yang berada di Kecamatan Gombong Kebumen, elevasi airnya tinggal 57,66 m dengan kapasitas volume efektif 13,6 juta m3.
Padahal waduk yang memasok air ke 6480 hektare lahan di Kebumen dan sekitarnya, pada waktu normalnya memiliki elevasi 72 m dengan volume waduk 38 juta m3.

”Tetapi hal ini tidak berpengaruh terhadap lahan pertanian. Sebab, kewajiban kita hanya sampai 15 Juli mendatang, setelah itu petani bisa panen dan mengganti tanamannya dengan palawija,”katanya.
Untuk waduk Wadas Lintang yang berada antara Kebumen dan Wonosobo kondisinya juga sama saja yakni mengalami penurunan volume air waduk. ”Kini volume waduk 216,9 juta m3 dengan elevasi 166,82 m. Dalam kondisi normal volume waduk dapat mencapai 400 juta m3 dengan elevasi 185 m,” katanya.

Waduk Wadas Lintang, katanya, dipakai untuk irigasi lahan seluas 31.500 hektare. Meski saat sekarang volume airnya menurun, tetapi, kata Sukamto, hal itu tidak menjadikan sawah kekeringan. ”Kita masih punya kewajiban mengairi sawah sampai Agustus mendatang. Dan setelah ada hitung-hitungan, air waduk masih cukup untuk mengairi sawah.”(rvs/lid)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Karawang No 2
Bandung 40272 - Indonesia
 
Phone Line1:
022-7244-888 (08:00-17:00)
 
Fax:
022-723-0812 (24 Jam)
 
Handphone:
0852-111-111-77 (Umum) 
 
SMS:
0852-111-111-77 (24 Jam)
BB: 2a02ac52(24 Jam)
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook