Alpen Steel | Renewable Energy

~ 52 Sungai Potensi Sangat Besar Untuk PLTMH, Di Papua

Potensi Hydro Power di Papua, Dari Mamberamo Sampai Danau Sentani

 
 
 
Image
 
 
 
Aliran Sungai Mamberamo yang menyimpan potensi Hydro Power untuk Papua (Foto : Dok Yali Papua)
 

JUBI---Fakta menunjukan ternyata sungai-sungai di Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk pembangkit listrik. Ada sekitar 52 sungai dengan potensi maksimal sebesar 22.131,6 MW (Megawatt) atau energi sebesar 135.036,8 GWH. Bagaimana pemanfaatannya?

Papua melalui PT PLN Persero telah memiliki dua Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM). Pertama di Kabupaten Fak-Fak  dan kedua di Wamena. PLTM di Daerah Werbar, Kabupaten Fak-Fak diperkirakan memiliki pasokan listrik sebesar 2x500 MW. Sedangkan untuk Daerah Walesi, di Wamena, diperkirakan pasokan listrik tenaga mikrohidro yang dimiliki sebesar 80.300 KW (80,3 MW). Potensi hydro power ini merupakan sebuah proyek raksasa. Karena tidak ada alasan lain untuk membangun proyek tersebut tanpa menggunakan modal dan investasi yang tinggi.


Dari proyek raksasa itu, direncanakan tahun 2011 nanti, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Holtekam Jayapura, juga siap dioperasikan untuk memasok listrik ke Kota/Kabupaten Jayapura dan sekitarnya. PT. PLN Persero Wilayah Papua optimis pasokan listrik dari PLTU Holtekam akan mencukupi kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Dengan kekuatan tenaga listrik 2x100 Mega Watt (200 MW) yang dihasilkan PLTU Holtekam tiap harinya maka diperkirakan pemadaman listrik tak akan terjadi lagi di Kota Jayapura. Rencana ini terbilang jenius. Namun sayangnya, seperti diakui Kepala Bagian Humas PT. PLN Persero Wilayah Papua, Nazar Gunawan kepada JUBI belum lama ini, ternyata pemanfaatan daya listrik tersebut di Papua masih rendah. Hampir mayoritas masyarakat hanya menggunakannya untuk penerangan saja. Sedangkan untuk industri, pemanfaatan listrik tersebutpun terbilang masih kecil.


Sejalan dengan rencana pembangunan PLTU Holtekam, Pemerintah Propinsi Papua juga berencana membangun sebuah PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dengan memanfaatkan air sungai Mamberamo. Tujuannya tetap serupa. Yakni untuk memberikan kemudahan bagi rakyat Papua dalam penerangan. Sebelumnya, rencana tersebut telah dilakukan sejak 1990-an oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Pengembangan dan Kekayaan Alam untuk pengembangan Sungai Mamberamo. Sungai Mamberamo sendiri memiliki panjang sekitar 600 km dengan DAS seluas 80 ribu meter persegi. Debit airnya sebesar 4.500 meter kubik/detik. Ini tentu mampu menjadi sumber energi listrik sebesar 15 sampai dengan 20 ribu megawatt (MW). Rencana BPPT itu sendiri meliputi pembangunan DAS (Daerah Aliran Sungai), pembangunan irigasi dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Untuk menopang rencana pemerintah itu, sejak awal 1990-an direncanakan juga dibangun sebuah Jembatan Mamberamo serta jalan trans Papua, Wamena ke Jayapura. Ekspedisi jalan darat Wamena ke Jayapurapun dilakukan. Pertama kali dirintis oleh mantan Bupati Jayawijaya, Andreas Karma pada 1968 dengan berjalan kaki selama 30 hari dari Wamena ke Jayapura. Alhasil, belakangan kemudian meski  jalan darat sudah dirintis sejak lama tetapi jalan trans Papua hingga kini belum rampung juga. Bagaimana nanti dengan rencana pembangunan PLTA Mamberamo, apakah akan rampung juga?


Prof. Dr. MM Dandekar dan KN Sharma, dua orang pakar teknik tenaga listrik dari India dalam bukunya Water Power Engineering mengatakan, sebenarnya bahan bakar untuk PLTU adalah batu bara. Berdasarkan pengertian yang sama bisa dikatakan bahan bakar untuk sebuah PLTA adalah air. Air memiliki keunggulan yang tak pernah bakal habis. Ia juga merupakan sumber bahan bakar fosil yang abadi. Air melimpas melalui turbin tanpa kehilangan kemampuan pelayanan untuk wilayah hilirnya. Ia masih mampu mengairi sawah-sawah ataupun memuaskan rasa dahaga warga kota akan air bersih. Dandekar dan Sharma juga mengemukakan, biaya pengoperasian dan pemeliharaan PLTA sangat rendah jika dibandingkan dengan PLTU ataupun PLTN. Turbin-turbin PLTA bisa juga dioperasikan atau pun dihentikan pengoperasiaannya setiap saat. Hal ini tidak dimungkinkan pada PLTU dan PLTN untuk memenuhi kebutuhan beban puncak yang hanya terjadi pada beberapa jam saja.


Menurut mereka, PLTA cukup sederhana untuk dimengerti dan cukup untuk dioperasikan. Ketangguhan sistemnya dapat lebih diandalkan dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Peralatan PLTA yang mutakhir umumnya memiliki peluang yang besar untuk bisa dioperasikan selama lebih dari 50 tahun. Hal ini cukup bersaing jika dibandingkan dengan umur efektif dari PLTN yang sekitar 30 tahun. Senada halnya, Prof. Dr. BJ Habibie pernah juga mengomentari tentang potensi Mamberamo ketika masih menjabat Menristek. Dia mengatakan apabila proyek Mamberamo berhasil maka bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk jangka waktu 50 tahun ke depan. Selanjutnya, Dandekar dan Sharma mengutarakan, mengingat kemudahannya untuk memikul beban ataupun melepaskannya kembali, PLTA juga bisa dimanfaatkan sebagai cadangan yang bisa diandalkan pada sistem kelistrikan terpadu antara PLTU dan PLTA dan PLTN.


Namun dibalik manfaat dan kelebihan PLTA, urai keduanya, ternyata juga memiliki beberapa kelemahan. Misalnya hampir semua proyek PLTA merupakan proyek padat modal. Memiliki nilai  investasi awal yang sangat besar seperti layaknya proyek padat modal. Sementara laju pengembalian modal proyek PLTA rendah. Masa persiapan suatu proyek PLTA umumnya memakan waktu cukup lama, sekitar sepuluh sampai lima belas tahun. PLTA bahkan sangat tergantung pula pada aliran sungai secara alamiah, sedangkan aliran sungai sangat bervariasi. Umumnya tenaga andalan atau tenaga mantap akan sangat kecil jika dibandingkan dengan kapasitas totalnya. Ini berarti potensi yang ada tidak akan termanfaatkan seluruhnya andaikata direncanakan faktor kapasitas yang tinggi bagi suatu PLTA.


Meski demikian, seperti rencana pembangunan pembangkit listrik yang lain, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air misalnya di Danau Sentani dan di Mamberamo juga diprotes. Sejumlah LSM sejak tahun 1980 hingga 1990-an memprotes pembangunan tersebut karena dinilai dapat menyebabkan sumber air di Danau Sentani terganggu. Namun demikian, menurut Nazar, jika PLTA dibangun di Sungai Mamberamo sebenarnya bagi PLN tak masalah. Karena listrik sangat dibutuhkan Masyarakat Papua. "Tetapi harus dibangun pabrik berskala besar di Papua untuk menyeimbangi pasokan listrik yang dihasilkan setiap hari," katanya.

Masyarakat Belum Siap
Bagi beberapa orang termasuk Simon Tawane, Sekretaris II Dewan Adat Mamberamo, pembangunan PLTA di Mamberamo harus hati-hati dan perlu koordinasi dengan masyarakat setempat. “Kami menolak pembangunan DAM Mamberamo karena masyarakat di sana belum disiapkan dan masih perlu koordinasi,” ujar Tawane.


Sementara itu, Pelaksana Tugas Yayasan Lingkungan Hidup (YALI) Papua, Bastian Wamafma kepada JUBI belum lama ini mengatakan, memanfaatkan PLTA Mamberamo memang membutuhkan waktu lama. Namun kesiapan masyarakat di sana untuk menjaga alam dan lingkungannya perlu juga diperhatikan. “Terus terang saya sangat khawatir kalau mereka membangun bendungan Mamberamo jelas akan menghilangkan habitat dan lingkungan di sana,” kata Wamafma. Dia menambahkan, rencana proyek PLTA akan mempengaruhi kualitas lingkungan termasuk kawasan Mamberamo. Misalnya, Gunung Foja yang kini semakin terancam kerusakannya. “Kalaupun mau memanfaatkan PLTA Mamberamo, pemerintah harus tegas untuk mengawasi lingkungan di sana agar Sungai Mamberamo tetap terjaga dan tidak terusik dengan aktifitas penebangan yang akan menghancurkan potensi alam di sana,” urainya mengakhiri. (Musa Abubar/Carol Ayomi/Makawaru da Cunha/Dominggus Mampioper)

 

Sumber : Tabloid Jubi

 

 

 

 


Provinsi Papua sampai saat ini memiliki 29 Kabupaten/Kota, terdiri dari 28 Kabupaten dan 1 Kota. Sembilan belas Kabupaten/Kota diantaranya merupakan Kabupaten/Kota baru hasil pemekaran daerah.

Daftar Nama Kabupaten/Kota Propinsi Papua:

Kabupaten Asmat (Agats),Kabupaten Biak Numfor (Biak), Kabupaten Boven Digoel (Tanah Merah),Kabupaten Deiyai,Kabupaten Dogiyai (Kigamani),Kabupaten Intan Jaya,Kabupaten Jayapura (Sentani),Kabupaten Jayawijaya (Wamena),Kabupaten Keerom (Waris),Kabupaten Kepulauan Yapen (Serui), Kabupaten Lanny Jaya (Tiom),Kabupaten Mamberamo Raya (Burmeso),Kabupaten Mamberamo Tengah (Kobakma),Kabupaten Mappi (Kepi),Kabupaten Merauke (Merauke),Kabupaten Mimika (Timika),Kabupaten Nabire (Nabire),Kabupaten Nduga (Kenyam),Kabupaten Paniai (Enarotali),Kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil),Kabupaten Puncak (Ilaga),Kabupaten Puncak Jaya (Kotamulia),Kabupaten Sarmi (Sarmi),Kabupaten Supiori (Sorendiweri),Kabupaten Tolikara (Karubaga),Kabupaten Waropen (Botawa),Kabupaten Yahukimo (Sumohai),Kabupaten Yalimo (Elelim),Kota Jayapura (Jayapura)


Daftar Kabupaten/ Kota Ibu Kota Provinsi Papua Barat:

Kabupaten Fakfak (Fakfak), kabupaten Kaimana (Kaimana), Kabupaten Manokwari (Manokwari),Kabupaten Maybrat (Kumurkek), Kabupaten Raja Ampat (Waisai), Kabupaten Sorong     Sorong, Kabupaten Sorong Selatan (Teminabuan),Kabupaten Tambrauw (Fef), Kabupaten Teluk (Bintuni  Bintuni),Kabupaten Teluk Wondama (Rasiei), Kota Sorong.

 

 

 

 

 

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook