MOJOKERTO, KOMPAS.com — Kucuran kredit dari industri perbankan nasional masih jadi penghambat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro atau PLTMH di Indonesia. Koordinator Nasional Global Environmental Facility-Small Grants Programme (GEF-SGP) Avi Mahaningtyas, Kamis (7/5), menyebutkan bahwa persoalan tersebut merupakan salah satu soal klasik yang dihadapi program sumber energi terbarukan.
"Pengadaan dana di depan untuk (bidang) renewable energy, bank belum bisa memberikan kredit," kata Avi di sela-sela peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Wot Lemah di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan nilai investasi Rp 450.000.000.
INK

Bank di Indonesia sejatinya hanya mau membagi keuntungan dari pada pengusaha, mereka di cekoki prinsip bahwa setiap kredit yang di keluarkan untuk hal-hal kreatif pasti dianggap high risk, karena bank di Indonesia masih menjadi elemen sistim capitalis kolonialis yang hanya berotientasi pada pembagian margin ketimbang sebagai elemen untuk kemajuan pembanguan bangsa.
sama halnya dengan kredit untuk penghijauan yang di eropa dikenal dengan dengan eco green loan, dimana wajib hukumnya setiap perbankkan membantu setiap usaha masyarakat untuk menciptakan/menanam penghijauan untuk mengurangi polusi dan emisi, demikian juga usaha pengembanan mobil hibryd, Indonesia paling telat.
- Listrik Mikrohidro Murah
- Mikro Hidro Potensial Penuhi Kekurangan Elektrifikasi
- ENERGI TERBARUKAN Bermanfaat, tetapi Program Mikrohidro Masih Minim
- Sumber energi Mikrohidro Diminati di Wilayah Indonesia Bagian Timur
- Energi Terbarukan Pasar Karbon Mikrohidro Diurus Pemerintah
- Hemat Energi pada Sistem “Air Conditioning” Sebagai Upaya Mengatasi Krisis Energi di Indonesia
- ~ Panduan Lengkap Pemasangan Dari Mikrohidro
- ~ Distribusi Perencanaan PLTMH
- ~ Perencanaan Sipil PLTMH
- ~ Pelaksanaan Turbin Air




