Alpen Steel | Renewable Energy

Permasalahan Yang Sering Terjadi Pada Sistem Wind Turbine di Indonesia

E-mail Cetak PDF

Energi angin merupakan salah satu potensi energi terbarukan yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan energi listrik domestik, khususnya wilayah terpencil.Pembangkit energi angin yang biasa disebut Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) ini bebas polusi dan sumber energinya yaitu angin tersedia di mana pun, maka pembangkit ini dapat menjawab masalah lingkungan hidup dan ketersediaan sumber energi.

wind-turbinePLTB: bebas polusi dan sumber energinya tersedia di manapun

 

Dari data Blueprint Energi Nasional, Departemen ESDM RI dapat dilihat bahwa potensi PLTB di Indonesia sangat menarik untuk dikembangkan karena dari potensi sebesar 9,29 GW, baru sekitar 0,5 GW yang dikembangkan, yang berarti baru sekitar 5,38%. Secara implisit, hal ini menyiratkan bahwa jumlah penelitian dan jumlah peneliti yang tertarik mengembangkan teknologi ini masih sangat sedikit. Prospek pengembangan teknologi ini masih sangat tinggi. Beberapa wilayah di Indonesia disinyalir dapat berkontribusi besar terhadap penggunaan pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) diantaranya wilayah NTT, Maluku, dan beberapa wilayah Indonesia bagian timur.

Namun dari survey dan studi literatur dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pengembangan teknologi PLTB di Indonesia menghadapi beberapa masalah penting yang harus dipecahkan karena menghambat pengembangan dan mengurangi minat masyarakat untuk memakai energi angin ini, yaitu:

  1. Rendahnya distribusi kecepatan angin di Indonesia. Daerah di Indonesia rata-rata hanya memiliki kecepatan angin pada kisaran 2,5 – 6 m/s.

  2. Besarnya fluktuasi kecepatan angin di Indonesia. Yang berarti profil kecepatan angin selalu berubah secara drastis dengan interval yang cepat.

potensiangin

Peta persebaran potensi angin Indonesia. Dapat dilihat bahwa distribusi kecepatannya relatif rendah.

 

Dengan rata-rata kecepatan angin yang rendah, generator yang dipasang harus dirancang untuk berputar secara optimal pada kecepatan angin yang rendah (yang kemungkinan terjadinya paling besar). Masalahnya, karena fluktuasi kecepatan angin di Indonesia cukup besar, kecepatan angin sering melonjak tinggi selama beberapa saat. Jika kita merancang generator untuk berputar secara optimal pada kecepatan angin rendah, generator tidak akan kuat menahan kecepatan angin yang tinggi. Akibatnya generator akan rusak.

Maka dari itu, biasanya turbin angin yang dipasang di Indonesia  tidak dirancang untuk berputar secara optimal pada kecepatan rendah yang kemungkinan terjadinya paling besar tersebut. Biasanya turbin angin yang dipasang di Indonesia dirancang untuk berputar secara optimal pada kecepatan angin yang sedikit lebih tinggi daripada kecepatan rendah yang dimaksud tadi.

Namun solusi ini menghadapi masalah baru yaitu turbin tidak akan berputar dengan baik pada kecepatan yang sangat rendah (yang sering terjadi juga karena besarnya fluktuasi). Akibatnya daya tidak terbangkitkan pada kecepatan rendah. Maka sistem turbin angin di Indonesia sering tidak menghasilkan daya (karena kecepatan sangat rendah cukup sering terjadi).

Sumber..Fajar Sastrowijoyo

Komentar (3)Add Comment
basuki
basuki
July 06, 2010
202.70.58.205
Votes: +0
...

Salam Green Power

Untuk mengatasi masalah kecepatan yang rendah dan fluktuiasi yang tinggi, bisa diatasi dengan beberapa metode:
1. Secara mekanis dapat dipasang governoor: Governoor mekanis dipasang antara poros turbin dan generator listrik. Fungsinya menstabilkan putaran generator meski putaran turbin fluktuatif.
2. Secara elektrik dapat dipasang regulator: Kecepatan poros akan berbanding lurus dengan tegangan output generator, Regulator akan menstabilkan tegangan tersebut pada kondisi yang diinginkan (misal 220 Volt).
3. Metode lain yang dapat diterapkan adalah dengan menggunakan generator DC (Direct Current). Generator DC dapat beroperasi dari putaran 200 Rpm sampai 12000 Rpm sehingga sangat cocok pada penggerak yang fluktuatif. Kemudian jika dikehendaki tegangan AC 220 Volt dapat dipasang Inverter DC to AC. Output dari inverter diset 220 Volt 50-60 Hz, ini sangat cocok untuk digunakan hampir disemua peralatan listrik di Indonesia.

Info lebih lanjut \n Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya '> Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Salam Green Power

basuki
basuki
July 06, 2010
202.70.58.205
Votes: +0
...

Turbin konvensional dengan rotor terdiri dari 3 buah blade memiliki beberapa kelemahan:
1. Putaran rendah
2. kecepatan angin maks 60 m/s
3. pada kecepatan tinggi menjadi bising
4. jika kecepatan melebihi 60 m/s bisa mematahkan blade
5. efisiensi masih kurang dari 30%

untuk mengatasi masalah tersebut bisa dilakukan beberapa perubahan konstruksi rotor, misal:
1. rotor dibuat tidak rigid, melainkan rotor dapat berubah sudut, hal ini dibutuhkan untuk mengatasi kecepatan angin yang berubah-ubah. perubahan sudut dari blade rotor dapat ditentukan dengan menghitung gaya Drag dan gaya Lift. energi yang digunakan untuk memutar generator adalah gaya Lift. gaya akan Drag akan meningkat sebanding dengan kecepatan angin, jika tidak dirubah maka blade bisa patah.
2. konstruksi generator dirubah dengan menggunakan generator dc multi pole. Generator jenis ini dapat beroperasi mulai dari 200 Rpm hingga 20.000 Rpm untuk yang Digital, klo yang konvensional bisa beroperasi maks 12.000 Rpm. menurut saya sudah cukup aman digunakan dengan turbin angin konvensional.
3. kalo untuk pemasangan baru bisa memilih turbin jenis Jet Wind Turbin. Turbin jenis ini dapat bekerja hingga kecepatan angin 80 m/s. konstruksi rotor lebih kecil sehingga tidak mudah patah. kecepatan putar juga lebih tinggi dibanding jenis konvensional pada kecepatan angin yang sama. Harga turbin juga lebih murah hingga 60%.

basuki
basuki
July 06, 2010
202.70.58.205
Votes: +0
...

Salam Green Power

Sepanjang garis pantai di Yogyakarta atau tepatnya dari pantai Parangtritis hingga pantai Klayar Pacitan dengan jarak lebih dari 220 KM sangat berpotensi untuk dipasang PLTB dengan kapasitas sangat besar hingga mencapai 100 MW. Saat ini biaya pembangunan PLTB US $ 3,5 Juta untuk kapasitas 1 MW.

Jika harga jual listrik PLTB ke PLN diasumsikan minimal Rp 200,00 per Kwh (harga PLN saat ini Rp 1.200,00 per Kwh) maka dengan perhitungan tersebut maka harga 1 MW = Rp 200 Juta. Jadi investasi US $ 3,5 Juta jika dikonversi ke IDR sekitar Rp 32 Miliar maka BEP diperoleh sekitar 160 bulan atau 13, 67 tahun.

Jika ada investor yang tertarik, sungguh ini peluang yang besar, dan kami siap bekerja ama untuk itu.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

Salam Green Power

Tulis Komentar

busy
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Customer Support

Who's Online

Kami memiliki 143 Tamu online

Login Form

PageRank  
free counters
Alpen Steel Facebook