Alpen Steel | Renewable Energy

Pemerintah Tersandera Kepentingan Pedagang BBM

Kamis, 8 Mei 2008 | 01:16 WIB
Jakarta, Kompas - Hal-hal negatif mengenai teknologi sel surya amat menonjol
sehingga hambatan menerapkan teknologi sel surya ini lebih dominan.
Masyarakat masih terbentur pandangan bahwa teknologi energi terbarukan ini
memakan investasi tinggi, arusnya tidak stabil, konstruksi memakan ruang,
perawatan sulit.

Semua itu ditutup dengan minimnya rangsangan pemerintah untuk memberikan
insentif atau subsidi bagi pengembang teknologi sel surya.
Arma Tamru, Manajer Pengembangan Bisnis PT Azet Surya Lestari, sebuah
perusahaan listrik tenaga surya, mengungkapkan persoalan-persoalan itu
kepada Kompas ketika menunjukkan instalasi "rumah" beratap sel surya seluas
18 m2, kapasitas 5.400 wattpeak (maksimum daya), Rabu (7/5), di kawasan
Ciputat, Tangerang.
"Justru listrik dari sel surya itu lebih stabil dibanding listrik
konvensional dari PLN," kata Arma. Arma menjelaskan, instalasi sel surya
sudah dilengkapi peralatan pembatas energi serta pengaturan frekuensi dan
tegangan supaya stabil.

Ini berbeda dari tegangan listrik PLN. Karena penyaluran relatif jauh,
frekuensi dan tegangannya sering tidak stabil. Tegangan listrik yang tidak
stabil menyebabkan peralatan elektronik cepat rusak.
Arma mengakui, investasi sel surya relatif mahal. Namun, itu hanya pada
tahap awal pemasangan. Sekarang banyak dipasarkan teknologi sel surya dengan
lifetime atau daya hidup produksi listrik mencapai 40 tahun. Jika dihitung,
penggunaan listrik menjadi lebih murah.

"Sekarang yang disebutkan lifetime sel surya 25 tahun itu sebagai patokan
masa garansi perusahaan. Selanjutnya, sel surya masih dapat digunakan sampai
40 tahun meski ada penurunan produktivitas," kata Arma.
Tentang anggapan sel surya memakan ruang, bisa diatasi antara lain dengan
pemanfaatan modul surya sebagai pengganti genteng atau atap rumah, atau
untuk kaca jendela. Soal perawatan yang rumit ditepis Arma.
Tersandera kepentingan

Masalah yang jauh lebih penting, menurut Arma, adalah perhatian yang lebih
serius dari pemerintah untuk memperluas pemanfaatan sel surya.
Dihubungi secara terpisah, anggota DPR, Sonny Keraf, kemarin menyatakan,
pemerintah memang tidak serius mengembangkan diversifikasi energi ke energi
terbarukan, tak hanya sel surya. "Saya berpandangan, pemerintah telah
tersandera oleh kepentingan-kepentingan para pedagang bahan bakar minyak
fosil sehingga enggan melakukan diversifikasi ke energi alternatif yang
terbarukan," kata Sonny.
Sonny memaparkan, pemerintah sebenarnya melalui UU No 30/2007 tentang Energi
diamanatkan membentuk Dewan Energi Nasional sebagai badan yang menetapkan
langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energi (Pasal 12
Ayat 2 c). Semestinya, Dewan Energi Nasional sudah terbentuk pada
Februari-Maret 2008. "Sampai sekarang tidak terlihat tanda-tanda pembentukan
dan operasionalisasi lembaga itu," katanya. (NAW)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook