Alpen Steel | Renewable Energy

~ Ancaman Pemanasan Global, Peringatan Besar Dari Alam

Peringatan Besar dari Alam

Berbagai media dibanjiri isu pemanasan global akibat gas rumah kaca (GRK). Beberapa penelitian memang menunjukkan, produksi GRK beberapa tahun terakhir memang tinggi, akibat deforestrasi dan kebakaran hutan yang banyak terjadi. Indonesia telah dikategorikan sebagai salah satu negara penghasil gas rumah kaca yang tinggi bersama negara Amerika Serikat, China, Brasil, Rusia dan India.  Jika hal ini terus berlangsung, Indonesia sebagai negara kepulauan akan terancam. Ancaman-ancaman alam yang akan kita hadapi adalah, musim kering yang panjang, meningkatnya cuaca secara ekstrem, hujan yang menyebabkan banjir dan tergenangnya kawasan pantai. Ancaman-ancaman ini akan berdampak pada penurunan produksi pertanian, kehutanan dan perikanan yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah pangan yang serius.

Sebanyak 190 negara melakukan berbagai upaya mengurangi (mitigasi) terjadinya perubahan iklim global.  Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim antar bangsa yang akan dilaksanakan di Bali Desember 2007.  Konferensi ini membahas strategi mengurangi pemanasan global dan memikirkan upaya adaptasi terhadap perbuahan iklim.

 

Apa yang dimaksud perubahan iklim global?

Perubahan iklim sebenarnya bukan hal baru bagi kehidupan manusia. Perubahan iklim adalah siklus alamiah yang telah terjadi sejak beribu tahun lalu. Namun perubahan iklim yang terjadi secara ekstrem dan dalam waktu singkat, akan mengganggu kehidupan manusia karena keterbatasan adaptasi yang dimiliki manusia.

Pada kondisi alamiah matahari memancarkan sinarnya yang sebagian besar  dipantulkan kembali ke angkasa. Sinar yang masuk ke atmosfer bumi diserap dan dipantulkan kembali dalam bentuk gelombang panjang ke angkasa.  Sementara GRK –- terdiri dari  antara lain uap air, gas-gas karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrooksida (N2O)-– yang menyelimuti bumi menjadi perangkap gelombang panjang yang dipancarkan bumi. Sehingga suhu udara di permukaan bumi aman bagi kehidupan kita. Jika tidak ada GRK suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celsius lebih dingin dari suhu udara saat ini.

Namun para ahli menyebutkan, akhir-akhir ini terjadi peningkatan emisi GRK yang sangat drastis. Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akibat kegiatan manusia (antropogenik) yang tidak terkontrol. Hal ini menyebabkan fenomena yang dikenal dengan pemanasan global (global warming), yaitu meningkatnya suhu udara secara global, yang selanjutnya memicu perubahan iklim global.

Penggunaan energi dari bahan bakar fosil (minyak bumi, gas dan batu bara), kegiatan pertanian dan peternakan yang tidak terkontrol serta pembakaran hutan yang dilakukan oleh manusia adalah penyebab utamanya. Penggundulan hutan, konversi lahan-lahan hijau menjadi kawasan perumahan dan lain-lain, memperburuk keadaan. Sebab, seharusnya hutan berfungsi sebagai penyerap karbondioksida.

Dampak apa yang akan terjadi?

Panel Ahli Perubahan Iklim Antar Bangsa menyimpulkan, perubahan iklim global telah menjadi ancaman bagi kehidupan umat manusia. Pemanasan global telah menyebabkan mencairya es di Kutub Utara dan Selatan bumi, permukaan air laut meningkat drastis dan terjadi pergeseran musim diberbagai kawasan di bumi. Ini belum lagi ditambah dengan kekeringan di satu wilayah dan peningkatan intensitas curah hujan di penjuru lain bumi. Dan tentu saja, peningkatan frekuesi terjadinya badai.

Dampak perubahan iklim akan dirasakan pada skala yang berbeda-beda. Di Indonesia, perubahan iklim memberikan dampak pada beberapa sektor kehidupan manusia. Kita akan merasakan peningkatan suhu udara ekstrem.  Dalam 15 tahun terakhir, suhu udara rata-rata tahunan di Indonesia menunjukkan peningkatan sebesar 0.3 derajat Celsius (oC) dan terjadi sepanjang musim dalam satu tahun.

Tahun 1990-an adalah tahun-tahun terpanas di mana suhu rata-rata meningkat sekitar 1oC di atas rata-rata pada periode tahun 1961-1990. Kenaikan suhu tersebut berakibat pada musim kemarau yang panjang, lalu kekeringan dan gagal panen di bidang pertanian. Kemarau panjang pada tahun 1997 telah menyebabkan kerusakan lahan sawah seluas 426.000 hektar.  Kenaikan suhu udara juga berakibat makin seringnya kejadian kebakaran hutan.

Kita juga akan mengalami curah hujan yang lebat.  Perubahan iklim diprediksi akan menyebabkan peningkatan curah hujan 2 % sampai 3 % per tahun dan berkurangnya periode musim penghujan selama setahun.  Seluruh wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan yang lebih tinggi terutama di Maluku dan Papua sehingga berpotensi menjadi bencana banjir.  Banjir telah melanda wilayah DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah di Sumatera.   Kondisi ini akan berakibat pada kegagalan musim panen padi dan menurunnya kesehatan masyarakat.

Tak hanya itu, kita akan kehilangan sebagian kawasan pesisir akibat naiknya permukaan air laut. Perubahan iklim akan menenggelamkan kawasan pesisir akibat meningkatnya volume air laut dan melelehnya es di dua kutub.  Beberapa kawasan pesisir akan terendam air laut antara 0,28 sampai 4,17 m pada tahun 2050.  Kenaikan muka air laut akan menyebabkan hilangnya kawasan produksi pertanian dan perikanan (sawah dan tambak), misalnya di wilayah pesisir Karawang dan Subang akan terjadi penurunan produksi beras sebesar 300.000 ton dan penurunan produksi jagung sekitar 10.000 ton akibat terendamnya kawasan pesisir. Demikian juga dengan sektor perikanan, dengan tenggelamnya 26.000 ha tambak akan menyebabkan kerugian hasil panen ikan dan udang sebesar masing-masing 7.000 ton  dan 4.000 ton.  Kajian lebih jauh memperkirakan bahwa perubahan iklim akan mengenggelamkan sekitar 2.000 pulau-pulau kecil.

Ternyata, ancaman yang kita hadapi tidak berhenti sampai di sini. Diprediksi akan terjadi peningkatan jumlah penyakit yang dibawa melalui air dan vektor.  Perubahan iklim akibat peningkatan suhu udara menyebabkan terjadinya mutasi virus yang lebih ganas.  Penyakit malaria, demam berdarah dan wabah pes akan menjadi penyakit yang sering banyak memakan korban di masa yang akan datang. Misalnya, meningkatnya jumlah penderita demam berdarah selama musim hujan di Indonesia khususnya di Jawa mungkin disebabkan oleh cuaca yang lebih panas.

Apa yang dapat kita perbuat?

Dalam pertemuan para pihak di Kyoto, Jepang pada tahun 1997 menghasilkan sebuah komitmen dengan sebutan Kyoto Protokol. Salah satu inti dari protokol tersebut menyebutkan bahwa pada periode tahun 2008-2012, negara-negara industri maju secara bersama diwajibkan untuk menurunkan GRK sebesar 5.2 persen dari tingkat emisi pada tahun 1990. Walaupun demikian menjaga stabilitas GRK di atmosfer merupakan kewajiban seluruh negara, tidak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia.

Upaya untuk mengurangi terjadinya perubahan iklim dan strategi adaptasi bagi perbuahan iklim di tingkat nasional telah disiapkan oleh kantor Badan Perencanaan Nasional dan Kementerian Lingkungan Hidup. Namun strategi dan rencana aksi (action plan) tidak cukup dilakukan oleh pihak pemerintah, setiap individu bangsa Indonesia (ulama, cendikia, keluarga) diperlukan partisipasinya.  Pada tingkat keluarga banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya perubahan iklim global.

Kita bisa mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Berupaya menggunakan kendaraan bersama-sama baik ke kantor atau ke shopping mall atau berekreasi.  Dengan ini kita bisa mengurangi emisi gas karbon dioksida. Matikan listrik, TV, AC dan peralatan elektronik jika tidak digunakan. Penggunaan peralatan tersebut, secara tidak langsung kita memanfaatkan energi fosil (batu bara, gas dan solar) untuk mengoperasikan generator pembangkit listrik. Dengan mengurangi penggunaan energi yang dipakai, kita juga telah menghemat biaya operasi rumah dan secara tidak langsung kita berkontribusi terhadap pengurangan penggunaan energi fosil.

Berkontribusi menanam tumbuhan juga salah satu hal penting yang bisa kita lakukan. Menanam pohon atau memberikan donasi kepada lembaga swadaya yang bergerak dalam program penghijauan berarti secara langsung kita menciptakan lingkungan yang lebih hijau sehingga menyumbangkan oksigen ke atmosfer serta mengurangi jumlah karbon dioksida yang ada di angkasa.  Lingkungan kita menjadi asri dan kita mendapat udara yang segar nyaman.

Mendorong pemerintah untuk memanfaatkan energi alternatif. Kita harus aktif menyuarakan pentingnya pengembangan energi alternatif yang tidak menyebakan peningkatan kadar karbon dioksida.  Beberapa sumber energi yang ramah lingkungan  misalnya, energi air, energi arus/ gelombang, geothermal, biomas dan mikrohidro. Pengembangan energi alternatif telah mulai dikaji dibeberapa negara maju seperti Korea Selatan dan Eropa.

Jika tangan-tangan dan tindakan kita selalu melukai alam tempat kita hidup, kita tinggal menunggu bencana yang akan datang.  Mari kita mulai berbuat sesuatu yang disukai alam sekitar kita dan mulai dari yang kecil demi kehidupan kita dan anak cucu di masa yang akan datang.

( Dr. Zainal Arifin adalah peneliti pada Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI)


Artikel yang berhubungan:
Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook