Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pemanasan Global Picu Panasnya Surabaya

Panasnya Surabaya, Pemanasan Global dan DBD

Hari ini suhu udara di Surabaya dan sekitarnya sungguh menyengat. Rata-rata mencapai 33-35 derajat Celsius pada siang hari. Badan Meteorologi dan Geofisika Juanda sudah mengingatkan, suhu udara tertinggi di kawasan Gerbangkertasusila bakal terjadi pada 20-24 Oktober dengan kisaran 36-37 derajat Celsius.

Suhu panas ini di antaranya dipicu oleh posisi matahari yang berada tepat di atas Pulau Jawa. Pada malam hari sekalipun, udara gerah masih mendominasi. Rasa sejuk yang dulu biasanya menghampiri, khususnya dari tengah malam hingga pagi, sekarang lenyap. Apalagi kepulan debu dan krisis air ikut mengancam sehingga makin lengkap penderitaan akibat suhu panas ini.

"Gobal Warming" Bukan Isu

Dalam suhu membara ini, penulis diingatkan oleh kebenaran pesan film dokumenter bikinan Al Gore berjudul An Incovenient Truth (2006). Film yang meraih Academy Award 2007 sekaligus menghantar Gore dan timnya Intergovernmental Panel on Climate Change (Panel Antarpemerintahan PBB soal Perubahan Iklim) meraih Nobel Perdamaian 2007 itu mengingatkan bahwa tidak akan ada perasaaan damai dan tenteram di bumi, selama bumi kian panas akibat pemanasan global.

Selama ini perdamaian atau perasaan aman tenteram lebih dimaknai sebagai kondisi tanpa konflik atau tanpa kekerasan antarmanusia, sama sekali tidak dikaitkan dengan kondisi lingkungan atau iklim. Ternyata pesan Gore, setidaknya dalam filmnya kian membuka perspektif baru tentang makna perdamaian yang tak terpisah dari perubahan iklim atau global warming. Kita bisa merasakan sendiri bagaimana udara panas hari-hari ini membuat banyak mahkluk hidup, kondisi jiwa dan emosi kita seperti tertekan dan labil. Hidup manusia ternyata ditentukan juga oleh suhu udara.

Jadi bukan hanya akibat posisi matahari yang mendorong suhu udara Surabaya dan sekitarnya begitu membara. Suhu panas hari-hari ini juga membuktikan bahwa Surabaya dan sekitarnya tak bisa lolos dari fakta pemanasan global. Pemanasan ini jelas bukan ilusi. Mau tidak mau, setuju atau tidak, kita semua tengah kepanasan di era pemanasan global.

Tahun 1990-an sebuah Lembaga Studi di AS, yaitu GISS, (Goddart Institute for Space Studies) melakukan prediksi pemanasan bumi dengan membuat simulasi perubahan gas rumah kaca (GRK). Dampak emisi GRK ini menyebabkan pemanasan global. Suhu bumi secara umum akan berubah 0,4 - 2,24 derajat Celcius. Untuk Indonesia, yang 21 titik datanya terwakili dalam permodelan itu diperkirakan terjadi kenaikan suhu sekitar 1,0 - 1,4 persen dan kenaikan permukaan laut setinggi 0,6 - 1,46 meter per 10 tahun sejak simulasi itu dibuat. Ini berarti untuk Kota Surabaya yang suhu rata-ratanya sekitar 32 derajat Celcius, di era pemanasan global, suhu rata-ratanya diprediksi menjadi 36 derajat Celsius. Kini terbukti prediksi para ahli itu mendekati kenyataan, suhu udara di Surabaya sudah berada di atas 32 derajat Celsius. Ancaman DBD

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Umar Fahmi Achmadi mengungkapkan, kenaikan suhu bumi yang memicu terjadinya perubahan iklim bisa meningkatkan angka kasus penyakit dengan vektor nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD), chikungunya, Japanese encephalitis (radang otak), dan filariasis, lantaran perubahan bionomik nyamuk. Dalam suhu meningkat dengan kelembaban tertentu, nyamuk semakin beringas dan ingin kawin. Jika suhu meningkat tiga derajat Celsius, diperkirakan kasus penularan penyakit melalui nyamuk meningkat dua kali lipat (Kompas, 14/11/2007).

Panasnya udara Surabaya kali ini bertepatan dengan musim pancaroba dari musim kemarau menuju musim penghujan. Sudah ada keyakinan publik bahwa musim pancaroba rentan mengundang beragam penyakit. Salah satu yang paling perlu diwaspadai dan biasa menjadi "langganan" tetap bagi Surabaya khususnya dan Jatim umumnya adalah DBD.

Penyakit satu ini tidak bisa dianggap sepele karena sering berakhir dengan kematian. Pada tahun 2005 ada 15.257 kasus DBD di Jawa Timur dengan 266 penderita meninggal. Tahun 2006 ada 20.375 kasus dengan 251 penderita meninggal. Karena itu panasnya Surabaya, baik akibat pemanasan global atau karena bertepatan dengan musim pancaroba, menuntut kesiapan kita semua, termasuk para pengambil kebijakan seperti dinas kesehatan untuk membuat rencana dan tindakan antisipasi yang tepat sehingga masyarakat bisa tetap sehat. " Sudah ada keyakinan publik bahwa musim pancaroba rentan mengundang beragam penyakit. "

Endang Suarini Pemerhati Kesehatan Masyarakat

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook