Alpen Steel | Renewable Energy

~ Gas Karbon Dioksida Picu Pemanasan Global

Pemanasan Global, Selamatkan Diri Kita !

Gas karbon dioksida dan gas-gas lain secara alami menghangatkan permukaan bumi dengan memerangkap panas matahari di atmosfer. Ini membuat bumi layak dihuni. Namun, ulah manusia yang menggunakan bahan bakar berlebihan serta menebangi hutan secara cepat meningkatkan jumlah gas karbon dioksida di atmosfer. Akibatnya, temperatur bumi meningkat.

Mayoritas ilmuwan di dunia mengakui pemanasan global benar-benar nyata, dan tengah berlangsung. Bukti-bukti dampak pemanasan global juga tidak terbantahkan. Menurut Panel Antar-Pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC), pemanasan global saat ini "sepenuhnya tidak berasal dari sebab-sebab alam". Mereka menegaskan, manusia bertanggung jawab atas kerusakan siklus iklim ini.

Pemanasan global sangat terkait dengan efek rumah kaca. Selama ini komposisi gas di atmosfer menunjang kehidupan di bumi. Gelombang matahari yang mengarah ke bumi sebelum terpatul balik ke luar angkasa sebagian diperangkap gas-gas di atmosfer sehingga bumi 30° Celsius lebih hangat. Namun, ketika gas-gas yang melindungi kita, di antaranya karbon dioksida, terakumulasi terlalu banyak di atmosfer, keseimbangan panas bumi pun mulai goyah. Sinar matahari yang diperangkap makin banyak sehingga bumi makin panas.

Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat yang disebut Gedung Putih sebagai lembaga dengan standar penilaian sangat objektif, pada tahun 2005 bersama 10 akademi sains negara lain menyatakan, "Pemahaman ilmu pengetahuan mengenai perubahan iklim saat ini telah sangat memadai. Kami meminta segera diambil langkah pencegahan, dengan mengidentifikasi langkah yang paling cepat dan terjangkau untuk mengurangi efek pembuangan gas-gas rumah kaca."

Perdebatan saat ini di kalangan komunitas ilmuwan mengenai pemanasan global hanyalah "seberapa cepat perubahan iklim terjadi serta seberapa luas dampaknya bagi manusia". Selama ini cadangan es (gletser) bisa bertahan karena suhu di kutub cukup dingin. Es bertahan di pegunungan tinggi dan hanya mencair bila musim panas tiba. Konsentrasi air di puncak gunung akibat hujan akan kembali membentuk kumpulan es selama musim dingin

Namun kini perubahan itu berlangsung dengan cepat. Suhu panas membuat es di kedua kutub dan pegunungan tinggi di bumi mencair tanpa tergantung musim. Ini berbahaya. Pasalnya, di bawah permukaan es tersimpan karbon dioksida. Semakin besar dan cepat es di kutub mencair, tambahan gas kian besar ke atmosfer.

Situs livescience.com (21/4/2005) menyebutkan, sebuah penelitian mencatat, akibat pemanasan global, es gletser di Antartika (Kutub Selatan) dan Greeenland bergerak mundur 84 persen dari tempat semula 50 tahun lalu. Penelitian ini didasarkan 2.000 foto udara yang sebagian diperoleh tahun 1940-an dan foto-foto satelit selama ini. Di Antartika suhu permukaan meningkat 2,5° Celsius dalam 50 tahun terakhir.

Es juga menghilang dengan cepat tanpa tergantung musim di pegunungan Himalaya. Padahal, es ini menghidupi tujuh sungai besar di China dan India yang menjadi gantungan hidup dua miliar manusia setiap tahun. Data WWF menyatakan, Ekuador, Peru, dan Bolivia juga terancam karena menghilangnya cadangan es di pegunungan Andes yang menghidupi jutaan manusia selama musim kering setiap tahun. Hilangnya cadangan air berarti ancaman kekeringan dan kelaparan bagi manusia.

Cadangan jutaan ton es yang mencair akhirnya mengalir ke laut. Dalam kasus ini, sebagaimana disebut cnn.com (1/12/2003), pulau-pulau seperti Tuvalu di Samudera Pasifik, daerah pantai di Bangladesh, dan wilayah permukiman di dekat pantai Inggris bisa tengelam karena pencairan es. Menurut Panel Antar-Pemerintah mengenai Perubahan Iklim, permukaan air laut meningkat 0,17 meter secara global sepanjang abad ke-20.

Fakta lain yang disampaikan riset badan ruang angkasa Amerika, NASA, menunjukkan pemanasan global akan memicu turunnya hujan lebat saat atmosfer bertambah panas. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya badai hujan dan badai petir.

Tim riset menemukan kecenderungan badai petir muncul di Afrika dan Amazon. Hal itu disebabkan suhu daratan lebih panas dari suhu laut. Karena laut lebih lambat panas ketimbang daratan, maka terjadilah angin. Semakin besar perbedaan suhu antara daratan dan lautan, kian cepat pula angin bertiup. Itulah yang menyebabkan topan.

Perubahan suhu dan temperatur bumi yang tak menentu membuat angin kecil berubah menjadi topan. Sebagaimana ditulis cnn.com Selasa (4/9), Pusat Topan Amerika Serikat menyatakan angin Felix meningkat menjadi kategori 4 dan bergerak di perbatasan selatan Nikaragua dan Honduras. Angin Felix kini mencapai 150 mph (241 kilometer/jam). Padahal, hari Minggu lalu Felix masih berkategori 2 dengan kecepatan 100 mph. Dua minggu lalu topan Dean kategori 5 menghantam pegunungan Yucatan, Meksiko. Menurut data, selama 30 tahun terakhir topan berkategori 4 dan 5 berlipat ganda.

Bukan hanya itu, Bill McGuire dari Lembaga Riset Universitas London menyatakan perubahan iklim turut memicu aktivitas geologis di bumi. Lapisan es yang menutupi gunung dan kutub memberikan keseimbangan beban bagi bumi. Saat es mencair dan beban hilang, aktivitas gunung berapi bawah tanah bisa dengan mudah muncul ke permukaan. Tekanan akibat membesarnya volume air di lautan juga dapat memicu aktivitas gunung berapi. Mekanisme ini terjadi secara teratur di Gunung Pavlov, Alaska, Amerika Serikat, saat air laut meningkat di musim dingin.

Melalui studi yang dipublikasikan majalan Nature tahun 1997, McGuire memperlihatkan hubungan antara perubahan permukaan air laut dan aktivitas gunung berapi di Timur Tengah selama 80.000 tahun terakhir. Dia menemukan, saat tingkat air laut meningkat, aktivitas gunung berapi naik hingga 300 persen. Perubahan suhu mengganggu iklim dan perubahan musim. Di beberapa tempat seperti Rusia, musim dingin menjadi lebih hangat dan musim panas menjadi makin panas. Namun di wilayah lain di bumi kadang musim panas menjadi lebih dingin dari biasanya. Pada Juli lalu hujan salju kembali turun di Argentina dan Afrika Selatan. Padahal, sudah ratusan tahun di kedua wilayah itu tidak ada hujan salju.

Perubahan suhu udara juga mengganggu jadwal reproduksi makhluk hidup. Buaya, misalnya, yang jenis kelamin janin dalam telurnya ditentukan oleh suhu, saat bumi makin hangat makin banyak telur menetas dengan jenis kelamin betina. Namun binatang lain seperti nyamuk dan serangga lain menjadi semakin lama berbiak karena musim panas yang panjang.

Pemanasan global juga akan meningkatkan serangan penyakit tanaman di seluruh dunia. Hal itu mendatangkan ancaman kerugian ratusan juta dolar per tahun. Sejumlah penyakit tanaman cepat berkembang biak, terutama di daerah Eropa, saat suhu makin hangat. Hama tanaman rapa (bahan baku minyak sayur dan margarin) bahkan mencapai daerah-daerah Skotlandia, yang dulunya jauh lebih dingin.

Nyamuk malaria menyebar ke pegunungan Andes di Kolombia yang terletak 7.000 kaki di atas pemukaan laut. Bahkan, menurut climatecrisis.net, sedikitnya 279 spesies tanaman dan hewan telah bermukim lebih dekat ke kutub akibat pemanasan global. Di laut, ganggang merah dapat berbiak sangat cepat akibat meningkatnya suhu. Padahal, tanaman ini menghabiskan sebagian besar oksigen yang dibutuhkan ikan-ikan kecil. Menurut sejumlah ilmuwan, saat satu rantai makanan dasar hilang, jutaan spesies hewan akan punah di tahun 2050. Demikian pula hewan-hewan besar, termasuk manusia.

Untuk mencegah skenario buruk itu, komunitas internasional mendorong tindakan lebih keras untuk penyelamatan lingkungan melalui Protokol Kyoto yang digagas Desember 1997. Kesepakatan itu memaksa negara-negara industri mengurangi polusi hingga temperatur global bumi turun 0,28° celsius pada tahun 2050.

Upaya mencegah perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan di bumi terus dilakukan. Desember nanti PBB menggelar Konferensi XIII tentang Perubahan Iklim di Bali. Rencananya pertemuan itu akan dihadiri sekitar 10.000 orang dari 100 negara.

Kepala Sekretariat Urusan Perubahan Iklim PBB Yvo de Boer mengatakan, dulu tidak banyak orang peduli terhadap pemanasan global. "Perubahan iklim dulu memang murni isu lingkungan hidup. Namun, sekarang menjadi isu ekonomi, perdagangan, dan politik." (*)

Penulis Yerry Niko Borang, dari berbagai sumber

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook