Alpen Steel | Renewable Energy

Objek Wisata Ramah Lingkungan Di Desa Deudap

 Kebun Pertanian Organik Objek Wisata Ramah Lingkungan

Sengatan sinar matahari menembus kulit tubuh Idawati (28) siang itu (12/6/09). Namun petani perempuan asal Desa Deudap, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar itu seolah tak hirau dengan rasa panas yang mencubit-cubit pori-pori kulit tubuhnya.

Bersama 5 petani perempuan lain asal Aceh, ibu dari satu anak berusia 3 tahun itu terlihat tengah sibuk menuangkan cairan berwarna kuning bercampur tumbukan dedaunan hijau ke sebuah corong penyaring berdiameter kurang lebih 20 centimeter. Sebuah ember warna hitam, menampung hasil perasan cairan itu.

“Inilah bio pestisida atau pestisida alami yang biasa digunakan untuk menyemprot tanaman yang dikelola lewat pertanian organik,” ujar Yenni Lucia, Manager Program Development PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup), salah satu divisi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), yang mengelola Kebun Organik di Desa Timbang Lawang, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat.  Sejak tanggal 8-12 Juni 2009, sebanyak delapan petani perempuan asal Aceh memang tengah menimba ilmu dan pengalaman tentang praktek pertanian organik.

Siang itu, Idawati dan petani perempuan lain sedang mempraktekkan cara membuat pestisida organik atau pestisida alami. Bahan-bahan asupan yang dipergunakan untuk membuat pestisida alami, semuanya diambil dari tumbuh-tumbuhan.

Tak ada campuran bahan kimia sedikit pun. Proses pembuatannya juga relatif mudah. Pestisida alami umumnya terbuat dari daun-daun tanaman yang mengeluarkan bau menyengat dan tidak disukai hama tanaman. Contohnya daun gamal, daun rimba, tefrosia, bengkoang, kecubung, sembung, bawang putih, kunyit dan lain-lain. Semua bahan itu sudah tersedia di Kebun Organik PPLH-YEL.

Menurut Yeni, pestisida alami memang tidak “kejam” seperti racun pestisida yang membunuh hama. Jika hama terusir pergi, maka kesempatan mereka untuk bertelur dan berkembangbiak terhambat. Akibatnya populasi hama berkurang.

Yeni juga menambahkan bahwa tidak semua hama menjadi musuh tanaman. Tapi ada juga hama yang berkawan dengan tanaman karena memakan hama lain yang lebih kecil. Karena itu dalam pertanian organik, hama musuh justru perlu diperbanyak. Di sinilah peran penting penyemprotan tanaman dengan pestisida alami karena hama musuh alami tidak terbunuh.

“Kami sudah menumbuk dan merendam bio pestisida tersebut sejak kemarin. Hari ini kami melanjutkan dengan menyaring agar siap disemprotkan,” ujar Ida, yang dikampungnya bersama anggota kelompok “Cicoba Usaha” mengelola lahan pertanian organik seluas ¼ hektar.

Lahan itu mereka tanami cabai, sawi dan tomat. Idawati dan petani perempuan lainnya merupakan kelompok dampingan Eye On Aceh (EOA), sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi perempuan Aceh.

Soal meracik dan membuat pestisida organik, menurut pengakuan Ida, memang merupakan hal baru. Ia memang belum lama menekuni pekerjaan sebagai petani palawija. Keluarganya secara turun-temurun menekuni pekerjaan sebagai nelayan.

Termasuk suaminya. Ia, seperti juga penduduk kampung lainnya, memang punya ladang. Tapi ladang itu diusahakan dengan tanaman keras seperti kelapa dan cengkeh. Semenjak bencana Tsunami 2004 menghancurkan seluruh tanaman kelapa dan cengkeh milik warga desa Pulo Aceh, mereka kemudian mulai beralih ke pertanian organik, yang difasilitasi EOA.

Melihat warna cairan pestisida alami yang kuning itu semi kehijauan, seperti warna jamu tradisional yang terbuat dari rempah-rempah, Idawati semula agak gamang. Ditambah lagi aroma kunyit yang terasa sampai menusuk hidung. Ketika tangannya menuangkan air hasil saringan ke pompa penyemport (sprayer), Ida seperti terlihat takut-takut terkena tumpahan cairan tersebut.

“Jangan takut, cairan ini tak berbahaya untuk kulit tangan kita karena ini bukan racun kimia,” ujar Yenni Lucia, yang ikut mengawasi praktek pembuatan bio pestisida tersebut. Ainun (45), petani perempuan asal Desa Lam Teube, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Aceh Besar, yang berdiri di sampingnya sigap memberikan bantuan. Selesai menuangkan cairan pestisida alami ke tangki penyemprot, sebanyak tiga ember air kemudian dicampurkan ke dalam pestisida alami tersebut.

D.M. Jais (39), salah seorang tenaga pengelola Kebun Pertanian Organik, kemudian mengangkat dan memasangkan sprayer yang telah berisi pestisida alami itu ke punggungnya.  Rombongan petani itu kemudian melakukan penyemprotan ke tanaman-tanaman palawija seperti kacang panjang, sawi, tomat dan kacang tanah yang ada di kebun organik tersebut.

Usai melakukan penyemprotan, Idawati dan teman-temannya kemudian kembali berkumpul di sebuah bangunan yang terletak di tengah-tengah areal Kebun Organik. Parap petani perempuan itu kembali belajar tentang berbagai hal mengeai pertanian organik dipandu langsung oleh Yenni Lucia dan Miskoen selaku asisten.

Begitulah sekilas gambaran proses pendidikan dan praktek sekolah pertanian organik yang berlangsung di pusat pertanian dan perkebunan organik yang dikelola PPLH -YEL di desa Timbang Lawang, Kecamatan Bohorok.

Media Pendidikan Pertanian Organik

Namun selama lima hari belajar dan praktek pertanian organik di kebun organik PPLH-YEL, Ida dan petani perempuan Aceh lainnya tak hanya melakukan praktek membuat pestisida alami saja. Mereka juga belajar membuat pupuk cair, perangkap hama, meracik mikroorganisme lokal dan membuat kompos.

Pada hari pertama praktek, mereka membuat mikroorganisme lokal. Bahannya terbuat dari sari buah nenas, markisa, pepaya, jeruk dan buah lainnya yang mengandung gula. Kemudian sari
buah-buahan itu dicampur air nira atau larutan air dengan gula merah.  Mikroorganisme lokal ini gunanya untuk mempercepat proses pembusukan sampah organik yang hendak dijadikan kompos. Pada hari kedua mereka belajar sistem tumpang sari. Rasa kaget dan heran dipertunjukkan Idawati ketika diajak berbincang.

“Kami semula heran, kenapa banyak bunga di sini, ternyata ada fungsinya untuk mengusir hama,” ungkapnya. Mengetahui manfaat beberapa tanaman bunga sebagai pengusir hama, Idawati dan beberapa petani Aceh lain langsung minta distekkan untuk dibawa pulang ke Aceh. Mereka juga belajar mengenali berbagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik.

Untuk memperoleh pemahaman yang mendasar tentang pertanian organik, mereka juga belajar tentang filosofi dan prinsip dasar pertanian organik. Menurut Yenni Lucia, pertanian organik pada prinsipnya didasarkan pada upaya pemanfaatan asupan atau potensi alami sekitarnya secara maksimal serta tidak menggunakan bahan kimia sintetis dan benih, ataupun asupan lain yang mengandung bahan-bahan hasil rekayasa genetik.

Ia menyebut soal bibit palawija seperti bayam, sawi, tomat, kacang panjang dan cabai, yang semuanya diperoleh dengan cara membibitkan dari tanaman yang sudah dipanen. Bibit yang sudah beradaptasi dengan tanah, air dan kelembaban udara, menurutnya lebih baik dibanding jika membeli dari pasar. Pendeknya, demikian ujar Yenni Lucia yang alumni jurusan Agronomi IPB Bogor (1995), pertanian organik akan memandirikan petani jika dilakukan secara benar.

Yenni tak menutup mata terhadap “kelemahan” pada pertanian organik. Dari sisi masa panen misalnya, pertanian non organik biasanya lebih cepat dibanding pertanian organik. Demikian juga dari sisi asupan tenaga yang dikeluarkan petani, pertanian non organik jauh lebih irit tenaga. Petani tak dituntut untuk membuat pestisida alami. Mereka juga tak perlu membuat kompos. Racun pestisida dan pupuk kimia tinggal dibeli dari pasar.

Berbeda dengan pertanian organik, dimana petani dituntut tenaganya untuk membuat pestisida alami dan membuat kompos. Petani juga masih dituntut untuk rajin mengolah tanah mereka agar gembur.

Namun pertanian organik bukan tanpa kelemahan. Soal asupan kimia misalnya telah menciptakan ketergantungan petani. Terkadang juga membuat petani jadi bahan permainan para tengkulak. Misalnya soal pupuk bersubsidi yang sering hilang dari pasar. Bahkan tak jarang sering dipalsukan. Yang lebih berbahaya adalah penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan, alias tidak proporsional.

Yeni mencontohkan kasus yang menimpa sejumlah petani bawang di Brebes, Jawa Tengah. Para petani di sana banyak mengalami keracunan pestisida. Selain terserang penyakit gatal-gatal menahun, serta pusing-pusing dan mual-mual, ada juga petani yang sampai menjadi lumpuh. Sebagian juga mengalami luka bakar di punggung ketika racun pestisida mengenai punggung petani.
Wisata Pendidikkan

Lingkungan

Film yang mengisahkan berbagai dampak negatif penggunaan pestisida memang sempat diputar dan didiskusikan dengan para petani. “Wah, saya ngeri menyaksikan film itu, jahat ya racun pestisida itu,”ungkap Ainun, yang tergabung dalam “Kelompok Sapee Pakat”.

Hera M Santi dari EOA yang mendampingi para petani, mengangguk membenarkan. Menurutnya, masa magang selama 5 hari di pusat perkebunan dan pertanian organik PPLH-YEL, diharapkan semakin menyadarkan petani di Aceh untuk beralih ke pertanian organik.

Beberapa peserta magang lain seperti Nurmala dan Rasyidah, juga mengaku banyak belajar selama berada di Bohorok. Misalnya Nurmala, yang semula meyakini bahwa menanam kacang panjang di pematang sawah tidak diperbolehkan karena dapat mengganggu pemandangan atau mengganggu tanaman di sebelahnya. Ternyata hal tersebut tidak benar.

“Pokoknya sambil belajar bertani organik, kami juga sekaligus bisa berwisata,” ujar Idawati sembari tersenyum. Wajar, petani perempuan seperti Ida memang setiap hari hanya disuguhi pemandangan laut di desanya. Karena itu ia mengaku senang karena selain belajar pertanian organik, ia juga bisa melakukan rekreasi. Suatu hal yang cukup “mewah” bagi seorang petani seperti dirinya. Ada juga kesan lain yang mereka rasakan.

Selama mengikuti masa magang, mereka merasa diberi suguhan istimewa. Berbagai jenis makanan sehat, mulai dari ikan nilam, telur bebek, sayur asam, lalapan sawi dan kacang panjang, sampai sirup buah markisa segar. “Semua langsung dipetik dari kebun di sini,” ujar Aliah (64), Ketua Kelompok Ibu Sehat, yang bertindak sebagai pemasok konsumsi bagi orang atau kelompok yang melakukan magang kerja di kebun organik tersebut.

Objek Wisata Alternatif?

Namun menurut Yenni Lucia, tak hanya kaum petani yang mau belajar tentang pertanian organik. Tapi semenjak tahun 2008, sudah banyak turis, pelajar dan mahasiswa yang belajar ke perkebunan organik mereka. Pada Juni 2008 lalu misalnya ada rombongan pelajar dari sekolah Pelita Harapan Jakarta yang tertarik untuk belajar pertanian organik. Mereka sangat takjub melihat buah markisa, yang selama ini hanya dinikmati sirupnya tanpa pernah mengetahui seperti apa tanamannya. Beberapa mahasiswa dari USU dan UISU Medan banyak yang melakukan penelitian di sana. Tidak terkecuali sejumlah wisatawan asing yang dibawa sejumlah pemandu lokal.

“Kalau turis asing mereka memang rindu melihat objek wisata alam,” ujar Deti Indasari, Asisten Direktur PPLH Bohorok. Karena itu Deti yakin ke depan, kebun organik yang dikelola PPLH akan menjadi salah satu objek wisata ramah lingkungan alternatif. Pengunjungnya tak hanya orang yang mau serius belajar pertanian organik, tapi juga mereka yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang produk pertanian yang sehat.

“Apalagi dengan adanya isu pemanasan global, maka di banyak daerah kebun organik bisa dijadikan sarana kampanye untuk mengurangi efek rumah kaca,” tambahnya. Namun buru-buru ditambahkan oleh Deti bahwa fungsi utama kebun organik yang dikelola PPLH YEL, tetap lebih difungsikan sebagai media pendidikan tentang pentingnya pertanian organik yang ramah lingkungan. (J. Anto)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook