Alpen Steel | Renewable Energy

~ Ma`had al-Zaytun, Contoh Meredam Pemanasan Global

Meredam Pemanasan Global Dengan Mencontoh Ma`had al-Zaytun

Berlangsungnya Konperensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali, 3 - 14 Desember 2007, wartawan MADINA Usman Yatim yang juga Dosen Fikom Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta,  berkunjung ke Ma`had al-Zaytun  di Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Pesantren ini sangat peduli dengan lingkungan hidup, kawasan yang awalnya gersang dan panas kini telah berganti hijau royo-royo dan sejuk.  Berikut ini kesan-kesan Usman Yatim dari melihat pesantren terbesar di Asia Tenggara tersebut dalam tulisan berikut yang didukung dari sumber publikasi Ma`had al-Zaytun. Tulisan pada edisi cetak No. 162 dimuat pada halaman 1 dan 12. Wassalam, Redaksi     

(Haurgeulis-Indramayu, MADINA): Kita kini sedang senang berbicara tentang lingkungan hidup. Kita diingatkan tentang adanya pemanasan global, perubahan iklim yang tidak menentu, dunia yang dikhawatirkan kian menjadi panas, salju di daerah kutub yang mencair, bencana alam yang melanda banyak negara, dan lain sebagainya. Ramainya perbincangan seputar masalah lingkungan hidup itu tidak lain karena 3-14 Desember 2007 berlangsung Konperensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Denpasar, Bali.

Berbagai kegiatan dilakukan menyambut konferensi tingkat dunia tersebut. Di Jakarta, misalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani SBY, para menteri, pejabat tinggi negara, serta masyarakat luas melakukan kegiatan sepeda santai dalam rangka mengurangi polusi kendaraan bermotor. Sementara Titik Puspa dalam rangka merayakan ulangtahunnya yang ke-70, melaksanakan kegiatan penanaman pohon. Intinya, kita semua diajak memanfaatkan momentum konferensi PBB itu untuk peduli pada masalah pemanasan global.

Sekitar duapuluh tahun terakhir konsep pembangunan berwawasan lingkungan sempat dikibarkan sebagai fatwa di bidang perencanaan pembangunan, yang dibicarakan di mana-mana. Kenyataannya apakah pembangunan kita benar-benar sudah berwawasan lingkungan? Apakah kita selama ini, memang sudah atau kurang peduli terhadap lingkungan? Apakah berbagai proyek pembangunan seperti berbagai kawasan baru yang ada di Jakarta dan sekitarnya sudah berwawasan lingkungan?

Jika melihat kehidupan di Jakarta dan kota-kota besar yang ada di tanah air, terasa memang ada keraguan terhadap kepedulian kita kepada lingkungan hidup. Kawasan Kelapa Gading Jakarta yang pembangunannya demikian pesat, ditandai berbagai bangunan menjulang, banyaknya pusat perbelanjaan dan apartemen, serta berbagai perumahan yang ada di sekitarnya, Februari 2007 dilanda banjir besar, bahkan sebagian besar lingkungan di Jakarta dan daerah sekitarnya juga ikut terkena banjir besar. Mana penerapan konsep wawasan lingkungannnya?  

Banyak yang menilai, pada akhirnya pembangunan berwasasan lingkungan hanya berhenti pada tataran rencana dan bertumpuk menjadi dokumen yang hancur dimakan usia. Jakarta dan sekitarnya bertumbuh pesat dengan bangunan tetapi memangsa kawasan hijau, mencemari bumi serta sumber airnya sendiri. Sungai menjadi tempat pembuangan sampah dan limbah terpanjang. Kehijauan hutan kota dan taman-taman kota berganti hutan beton. Taman Monas memang kini terlihat hijau tapi apakah itu sudah cukup? Ketika hujan turun, kita semua cemas-cemas dengan kedatangan banjir yang tidak terduga-duga.


Mari Berkunjung ke Ma`had al-Zaytun

Sesungguhnya, jika kita sejenak melupakan Jakarta dan mencoba melihat ke daerah pelosok, rasa cemas terhadap pemanasan global, kerusakan atau pencemaran lingkungan hidup, dapat dikurangi atau dilupakan. Setidaknya hal ini, jika kita mau ramai-ramai berkunjung ke Ma`had al-Zaytun, sebuah pesantren yang terletak di Haurgeulis, kabupaten Indramayu, berjarak sekitar 182 km dari arah Jakarta atau 132 km dari arah Cirebon. Di Ma`had al-Zaytun, kita akan dapat melihat adanya sekelompok orang yang sangat peduli dengan lingkungan hidup. Para penghuni Ma`had al-Zaytun dapat membuktikan bahwa lewat sentuhan manusia, lingkungan dapat ditata, dikelola, dikembangkan dan dipelihara sehingga pemanasan global dapat dihadapi, disikapi dengan penuh kearifan.  

Wartawan MADINA yang berada di Ma`had al-Zaytun selama dua hari (15-16 Nopember 2007) benar-benar telah melihat langsung suatu pemandangan luar biasa di kawasan pesantren ini. Betapa tidak, Ma`had al-Zaytun kini benar-benar sangat kontras dibanding 8 tahun lalu, saat wartawan MADINA pernah juga berkunjung ke pesantren dengan motto “Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan  Budaya Perdamaian” ini.

Kini, gedung-gedung megah  Ma`had al-Zaytun yang menjulang, tidak lagi begitu kelihatan, seolah telah menghilang. Padahal pada 7 tahun lalu, decak kagum orang-orang yang berkunjung ke pesantren ini muncul terutama ketika mereka melihat bangunan pembelajaran dan asrama santri yang bagaikan jejeran gedung apartemen atau perkantoran seperti halnya di Jakarta. Namun, gedung-gedung tersebut kini tidak lagi terlihat menonjol, terutama dari jauh, karena sudah tertutup oleh banyaknya pepohonan tinggi hijau menjulang, hampir menyamai gedung 5-6 lantai yang ada di Ma`had al-Zaytun.

Tidak tahu, apakah ini agaknya berbagai suara miring yang sempat banyak mengemuka pada awal keberadaan pesantren ini, ikut menghilang atau setidaknya tidak lagi “hiruk pikuk”, seirama dengan keberadaan pesantren yang kini seperti sudah menghutan. Kawasan Ma`had al-Zaytun kini sudah menghijau. Cuaca panas yang dulu sangat dirasakan, kini sudah berganti penuh kesejukan. Dulu pada siang hari, jika berjalan-jalan di kawasan bangunan  sekitar 200 ha ini kita harus memakai payung, maka kini tidak lagi perlu. Bahkan, jika ada hujan pun, apalagi jika hanya rintik-rintik, payung seolah tak  dibutuhkan karena tetesan air hujan lebih dulu sudah menerpa dedaunan pepohonan. Sedangkan pada malam hari, jika dulu harus mengenakan jaket karena diterpa angin kencang, maka kini tidak lagi perlu karena sudah ditahan oleh rindangnya pepohonan.

Keharmonisan manusia dengan alam dan lingkungannya demikian terasa di Ma`had al-Zaytun. Cobalah perhatikan perhatikan santrinya ketika mereka menuju tempat pembelajaran, ke masjid atau kembali ke asrama masing-masing, mereka berjalan dengan tertibnya. Hal menarik, ketika berjalan di luar rombongan besar, mereka harus berjalan dijalur yang sudah ditentukan.

Jalan-jalan yang ada di kawasan ini semuanya dalam kondisi sangat baik karena memiliki kualiatas cor beton. Para pengguna jalan di sini harus mematuhi tertib berlalulintas, seperti adanya jalur khusus untuk pejalan kaki dan pengendara. Tidak semua jalan boleh dilalui oleh kendaraan bermotor, kecuali mendapat izin khusus untuk tamu. Jalan-jalan di Ma`had al-Zaytun didominasi pejalan kaki dan pengguna sepeda sehingga kawasan ini memang bebas dari pencemaran lingkungan.

Jalan-jalan yang berbeton tersebut tidak berarti kawasan pesantren ini tidak banyak menyerap air, karena di kiri kanan jalan terdapat kawasan yang ditanami pepohonan, seperti pohon jati. Kini jalan-jalan beton dan berbagai bangunan yang ada seolah sudah diselimuti pepohonan. “Kawasan pemukiman yang menghutan” layak disandang Ma`had al-Zaytun.

Sementara jika kita memasuki berbagai bangunan yang ada, kita tidak akan menemukan sama sekali asap rokok. Merokok dilarang sangat keras di Ma`had al-Zaytun  karena bagi warga pesantren ini dianggap sebagai cikal bakal seseorang menjadi pecandu narkoba. Larangan tidak pandang bulu, artinya siapapun tidak boleh merokok di kawasan Ma`had al-Zaytun, termasuk para guru dan pimpinannya. Apa boleh buat, “hak asasi” bagi perokok tidak ada di Ma`had al-Zaytun, tetapi yang ada adalah hak asasi bagi setiap orang untuk tidak mendapatkan asap rokok, pencemar lingkungan yang dinilai sangat merusak kesehatan atau bahkan mematikan manusia.

Tampaknya terlalu membesar-besarkan jika kita banyak menilai melalui tulisan tentang lingkungan hidup di Ma`had al-Zaytun. Ada baiknya, kita yang mau tahu banyak tentang melihat contoh bagaimana mewujudkan lingkungan hidup yang siap menghadapi pemanasan global, mau berkunjung sendiri ke pesantren ini. Datang, lihat dan baru nilai sendiri, apakah   Ma`had al-Zaytun   layak sebagai contoh, laboratorium pengembangan dan pelestarian lingkungan hidup.

Tak salah rasanya, jika Panitia Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim mau melihat Ma`had al-Zaytun  dan kemudian mengajak pula peserta juga ikut berkunjung nantinya untuk menunjukkan secara nyata bahwa ada sebagian dari masyarakat Indonesia sudah mampu membuktikan bagaimana menghadapi pemanasan global. Kalau peserta konferensi bertanya apa yang dilakukan Indonesia terhadap upaya ikut mengurangi pemanasan global, kita dapat merujuk ke Ma`had al-Zaytun. Kita boleh mengatakan, akan ada ribuan proyek serupa yang akan dibangun sebagaimana di Ma`had al-Zaytun. Ah, jika ini benar adanya, Indonesia pastilah disebut benar-benar serius telah berbuat bagi upaya mengurangi pemanasan global.

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook