Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bahan Bakar Nabati Mengurangi Pemanasan Global

Pemanasan Global dan 50 Juta Hektar Kebun Jarak

Berapa lama lagi bumi kita mampu menjadi tempat tinggal yang
nyaman dan aman bagi semua mahluk hidup?
Jawabannya seberapa besar kesadaran manusia sebagai makhluk
ciptaan-Nya yang berakal budi untuk menjaga kelestarian alam
dimana ia tinggal.
Baru-baru ini di sebuah pertemuan puncak kelompok negara-
negara maju yang lebih dikenal G-8, isu pemanasan global menjadi
bahan pembicaraan yang alot.
Pemimpin kelompok delapan negara kaya Kamis (7/6), sepakat
berkampanye mengurangi setengah emisi pada 2050, sebagai
pengganti dari Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya
pada 2012.
Sudah sepantasnya kedelapan negara besar yakni Inggris,
Jerman, Prancis, Italia, Amerika Serikat, Rusia, Kanada, dan
Jepang, berpikir keras untuk mengatasi pemanasan global yang
mengakibatkan perubahan iklim yang sekarang pun sudah terjadi
pada bumi manusia ini.
Dan rencananya kesepakatan para pemimpin G-8 untuk mengurangi
setengah emisi pada 2050 akan dikukuhkan pada Desember 2007, saat
pertemuan badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Bali.
\"Kita sedang meniti langkah agar dapat menjadi penjaga baik
bagi lingkungan hidup sekaligus mengedepankan teknologi,\" kata
Presiden Negeri Paman Sam, George W Bush, pada pertemuan G-8 yang
berlangsung di Jerman.
Apa pun yang akan dikatakan George W Bush, yang jelas Amerika
Serikat saat ini masih menduduki peringkat utama dalam sebagai
negara penyumbang emisi rumah kaca terbesar, diikuti oleh Kanada
dan negara-negara Eropa lainnya.
Menurut laporan 441 pakar \"Intergovernmental Panel on Climate
Change\", naiknya suhu permukaan bumi lima tahun mendatang
ditambah dampak lanjutan berupa kegagalan panen, kelangkaan air,
tenggelamnya daerah pesisir, lenyapnya spesies, banjir, dan
kekeringan.
Asia menjadi kawasan yang terkena dampak paling parah, dan
diperkirakan produksi pertanian China dan Bangladesh akan anjlok
sebesar 30 persen, India langka air, dan 100 juta rumah warga
pesisir akan tergenang.
Percaya atau tidak, laporan tersebut menyebutkan permukaan
air laut akan naik antara delapan hingga 29 sentimeter pada 2030.
Dan diperkirakan 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam.
Dan data terakhir yang dimiliki Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP) yang diungkapkan oleh Direktur Pemberdayaan
Pulau-pulau Kecil, Ditjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
(KP3K), Alex SW Retraubun, selama dua tahun terakhir, yakni dari
tahun 2005 hingga 2007 sebanyak 24 pulau kecil di sejumlah
wilayah di Indonesia tenggelam.
\"Ketika melakukan survei Toponim untuk memberikan nama-nama
pulau kecil yang belum bernama sejak 2005 hingga kini diketahui
terdapat 24 pulau yang tenggelam,\" katanya.
Bayangan permukaan bumi diselimuti oleh air seperti yang
dapat dilihat di film \"Water World\" karya sineas Hollywood
tampaknya bakal menjadi masa depan bumi ini.

Pemanasan global?
Pemanasan global terjadi karena adanya efek rumah kaca yang
lebih dari kondisi normal di atmosfer bumi, sebagai akibat
terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca (GRK) utama, seperti
karbon dioksida (CO2), metana, (CH4), nitrous oksida (N2O),
hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons (PFCs), dan sulphur
hexafluoride (SF6) di atmosfer.
Sebagian besar yang menyebabkan terjadinya perubahan
komposisi GRK dalam atmosfer adalah gas-gas buang yang
teremisikan ke angkasa sebagai \"hasil sampingan\" dari aktivitas
manusia untuk membangun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama
ini.
Semua berawal pada abad 18, saat manusia mulai menciptakan
industri dengan mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil
berupa minyak bumi, gas, maupun batubara. Energi yang dibakar
inilah yang menyumbangkan emisi rumah kaca.
Sebut saja kegiatan perindustrian, penyediaan energi listrik,
transportasi, hingga letusan gunung berapi, rawa-rawa, kebakaran
hutan, peternakan, hingga alih guna lahan, menjadi penyumbang
GRK.
Sejauh ini penduduk Amerika, Kanada, dan Eropa menjadi warga
dunia yang telah mengonsumsi 59,1 persen energi dunia, sementara
warga Afrika dan Amerika Latin hanya mengonsumsi 10,3 persen.
Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, memasuki musim panas
yang jatuh sekitar bulan Juli hingga September ini, Amerika
Serikat akan membutuhkan minyak 22 juta barel perhari.
\"Jumlah energi yang berlimpah tersebut hanya untuk memenuhi
kebutuhan warga negeri Paman Sam tersebut untuk sekedar bisa
berkendara,\" ujar dia.
Berlanjut hingga Desember 2007 dan Januari 2008, konsumsi
minyak Amerika Serikat tidak akan menurun tetapi justru bertambah
karena memasuki musim dingin. Dan itu semua otomatis merangsang
harga minyak mentah di pasaran dunia merangkak naik, ujar dia.
Saat ini, harga minyak mentah dunia sedang mengalami
fluktuasi. Harga minyak jenis light sweet di New York untuk
pengiriman Juli naik 97 sen menjadi 66,93 dolar AS per barel
setelah sebelumnya sempat menyentuh level 67,42 dolar AS.
Sementara itu, minyak jenis brent north sea untuk pengiriman
Juli juga mengalami kenaikan 20 sen menjadi 71,22 dolar AS,
setelah sempat mencapai level 71,56 dolar AS.
Kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia sendiri saat ini
sedikit banyak merupakan andil dari perubahan iklim yang
mengakibatkan berbagai bencana, termasuk badai Gonu yang
menghantam Oman dan menewaskan 25 orang tersebut juga mengarah ke
Teluk Persia, tempat instalasi perminyakan berada.
Badai Gonu menimbulkan kekhawatiran pengiriman minyak ke
Selat Hormuz, dimana sekitar seperempat pasokan minyak dunia
dikirim terganggu.
\"Masalah geopolitik di Iran dan Nigeria, serta masalah
buruknya iklim dapat mempengaruhi psikologis pasar minyak mentah
dunia,\" kata Kurtubi.

Menyiapkan energi pengganti
Berbagai penelitian diadakan untuk mecari bahan bakar nabati
pengganti yang ramah lingkungan, demi terciptanya tempat huni
yang aman bagi manusia.
Kabar bahwa Jepang sebenarnya telah menemukan bahan bakar
pengganti dari biji buah jarak pagar (Jatropha Curcas) saat
mereka masih menjajah Indonesia pada tahun 40-an tersebar luas di
masyarakat baru-baru ini.
Entah benar atau tidak kabar tersebut, tetapi yang jelas
benar minyak dari biji buah jarak pagar ternyata dapat dijadikan
alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan menggantikan bahan
bakar yang berasal dari perut bumi.
Menurut Presiden International Business Enterprises (IBE),
Ravavi Wilson, yang menjadi pencetus proyek Makora, yakni di
antaranya melakukan budidaya tanaman jarak pagar di Indonesia.
\"Kita butuh 50 juta hektar lahan untuk budidaya tanaman jarak
pagar di seluruh Indonesia untuk dapat menguasai biodiesel di
dunia,\" ujar dia.
Dengan luas lahan tersebut, dia mengatakan, proyek perkebunan
jarak ini dapat menampung 25 juta tenaga kerja dari seluruh
Indonesia, dengan total investasi mencapai Rp250 triliun.
Dia mengatakan sudah memiliki dana yang dibutuhkan untuk
membuka lahan 50 juta hektar yang akan digunakan perkebunan jarak
dari sindikasi bank asing di luar negeri.
Mimpinya ini bukan tidak mungkin terjadi, karena sekali lagi
pada zaman penjajahan, Jepang telah siap memerintahkan masyarakat
Indonesia untuk menanam jarak pagar di pekarangan rumah masing-
masing. Dan rencanya semua biji jarak akan diolah menjadi biofuel
sebagai pengganti minyak bumi, gas, dan batubara yang ternyata
menjadi penyumbang pemanasan global yang mengakibatkan perubahan
iklim di dunia saat ini.
Ravavi mengatakan saat ini perusahaannya telah memiliki lahan
seluar 35.000 hektar yang memproduksi 175.000 ton biji jarak
pagar dalam sekali panen. Dan sebagai langkah awal, dengan
menggunakan mesin pres biji jarak perusahaannya telah mampu
memproduksi 15 ton minyak jarak per hari.
Proyek Makora yang terdengar seperti mimpi ini mungkin akan
sulit untuk benar-benar diwujudkan. Namun, mimpi bukan tidak
mungkin menjadi kenyataan jika niat dibarengi dengan usaha. (ant)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook