Alpen Steel | Renewable Energy

~ Warga Kota Hirup Asap Knalpot Di Jalanan

Hirup Asap Knalpot di Jalanan

Pepohonan di Kota Medan hanya mampu menyerap sedikit karbondioksida (CO2) yang dibuang kendaraan motor. Sebagian dihirup langsung manusia di jalanan, di rumah atau di keramaian sebelum lepas tinggi ke udaran
Setiap menarik nafas, warga kota berpenduduk 2,6 juta ini menghirup udara terkontaminasi.

Pohon yang tumbuh di Kota Medan dan kawasan pinggiran menyerap CO2 dan memisahkan unsur kimia karbon (C) dari oksigen (O2), dalam proses fotosintesa. Setiap harinya pohon memproduksi oksigen. Minimnya ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Medan yang berbanding terbalik dengan jumlah kendaraan, menyebabkan warga kota menghirup udara berbahaya setiap menarik nafas.

Menurut Kepala Unit Pelayanan Perizinan Terpadu Laboratorium Badan Lingkungan Hidup (UPPT BLH) Sumut, Hidayati, berdasarkan hasil penelitian satu hektar pepohonan hanya mampu menyerap CO2 dari 20 unit kendaraan yang beroperasi normal. Data Dinas Perhubungan Sumut tahun 2006, jumlah kendaraan bermotor (roda dua, roda tiga dan roda keempat ke atas, Red) di Medan mencapai 779.540 unit (total kendaraan bermotor di Sumut 1,38 juta unit, Red). Karena tidak ada pembatasan, jumlah kendaraan bermotor jelas bertambah pesat hingga 2009 ini. Kendaraan tua tetap beroperasi. Sangat mudah menemukan kendaraan bermotor di kota ini berusia di atas 25 tahun yang asapnya seperti membakar sampah. Sedangkan kendaraan baru, setiap hari melesat keluar dari showroom. Setiap hari pula pembakaran BBM bertambah, yang semuanya mengeluarkan CO2.
Berdasarkan buku Laporan Kerja Pertanggungjawaban (LKPj) Kota Medan 2009, RTH Kota Medan hanya seluas 8 persen dari total luas Kota Medan 26 ribu hektar lebih. Tiga persen dikelola lembaga pemerintah, dan lima persen sisanya dikelola swasta dan perorangan (termasuk pekarangan rumah).

Jika kendaraan bermotor di Medan diasumsikan tidak bertambah sejak 2006 lalu, yakni 779.540 unit, maka untuk menyerap seluruh produksi CO2, dibutuhkan setidaknya 38.977 hektar pepohonan atau RTH di Kota Medan. Sedangkan luas total Kota Medan kurang lebih 26.500 hektar.
Padahal, pada pagi hingga siang hari sangat banyak kendaraan dari Deliserdang, Binjai, Langkat, Karo karena mobilitas pekerja, pelajar dan bisnis. Tujuannya Medan karena pusat dagang, bank, jasa dan pemerintah.

Gas buang CO2 itu belum termasuk yang ‘disumbangkan’ pabrik, industri rumah tangga, dapur rumah tangga, berbagai usaha yang berhubungan langsung dengan pembakaran BBM.

Hidayati bilang, perhitungan itu baru berdasarkan produksi CO2 dari kendaraan bermotor yang standar. Padahal semakin tua usia kendaraan, semakin banyak emisi gas buangnya. “Kendaraan inikan melihat tahun dan perawatannya, kemudian sesuai dengan bahan bakarnya. Jadi kami belum melakukan penelitian untuk ini,” katanya.

Hitungan lainnya, lanjut Hidayati, dalam satu jam dari 1 hektar pepohonan hanya mampu menyerap 8 kilogram CO2 atau setara dengan embusan napas 200 orang. Jadi, lanjutnya, untuk menyelamatkan lingkungan dan makhluk hidup yang ada di dalamnya, termasuk manusia, harus segera dilakukan penanaman pohon secara massal dan kontiniu. “Pepohonan juga berfungsi sebagai penyejuk. Satu pohon (besar) setara fungsinya dengan 5 unit air conditioner (AC),” katanya.

Sekarang ini warga sangat membutuhkan pepohonan sebagai pelindung. Hidayati mengajak, semua warga peduli menanam pohon dan merawatnya untuk kelangsungan hidup ke depan. Ia mengatakan, dahulu warga tidak familiar dengan istilah global warming atau pemanasan global. Sekarang, dampaknya sudah dirasakan masyarakat mulai panas terik, petir di siang hari, perubahan iklim tidak teratur. “Dulu kita mengenal musim hujan terjadi pada September hingga Desember, sekarang ini lihat sendiri,” tambahnya.

Tak hanya itu, ibu berusia 44 tahun ini menambahkan, seharusnya hanya 45 persen sinar matahari yang dipantulkan ke bumi. Akibat rusaknya lapisan ozon, sinar matahari yang terpantul ke bumi mencapai 55 persen. Suhu pada malam hari mencapai 27-29 derajat celcius, dan pada siang hari pernah mencapai 36 derajat celcius. “Hal ini diakibatkan sinar matahari terperangkap di bumi,” sebutnya.
Di tempat terpisah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut, Syahrul Ismail menyampaikan, saat ini Indonesia berada pada urutan ketiga penghasil gas emisi terbesar di dunia. Karenanya, dampak buruk dari global warming sudah mulai dirasakan warga negara ini.

Sementara itu, pengamat lingkungan hidup, Jaya Arjuna mengatakan, data pencemaran udara ini sudah selayaknya menjadi masukan bagi pengambil kebijakan untuk membatasi jumlah kendaraan bermotor di Medan. Bila dipandang perlu dilakukan dengan proses massal. Selanjutnya, dilakukan gerakan besar-besaran penanaman pohon untuk menambah luas RTH. “Memang beginilah kalau koordinasi ini tidak seimbang. Harusnya pihak Pemko Medan mengurangi kendaraan atau membeli lahan tambahan untuk penghijauan di luar Kota Medan,
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook