Alpen Steel | Renewable Energy

~Indonesia Ranking 10 Penyumbang Pemanasan Global

Indonesia 10 Besar Penyumbang Pemanasan Global
 
Prestasi baru diraih Indonesia. Namun sayang ini bukan prestasi menggembirakan. Indonesia dinobatkan menjadi negara nomor ke-10 yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global di dunia. Nomor satu dipegang Amerika Serikat.

"Kontribusi pemanasan global di Indonesia lima persen dari total pemanasan global sedunia," kata Meneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar. Rachmat menyatakan hal itu dalam pertemuan nasional pengarusutamaan lingkungan hidup dalam perencanaan pembangunan nasional di Jakarta, Senln (23/3).

Menurut Rachmat, kerusakan hutan Indonesia masih 40 persen dari total hutan yang ada. Jadi masih ada 60 persen hutan yang masih bagus. Negara yang paling besar kontribusinya kerhadap pemanasan global yakni Amerika Serikat. "Tingkat kontribusinya 27-30 persen," jelasnya.

Rachmat mcngatakan, kontribusi pemanasan global Indonesia berasal dari efek rumah kaca dan emisi sampah. Indonesia menyumbangkan andil pemanasan global cukup besar karena lingkungan yang rusak.

Pembukaan lahan secara radikal, penggundulan hutan dan pembakaran lahan, menjadi penyumbang dampak pemanasan global yang tinggi. Tidak hanya Kalimantan dan Papua saja yang mengalami kerusakan hutan, wilayah Sumatera juga mengalami hal yang sama parahnya.

Untuk menekan kerusakan hutan, Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional,(BKPLN) didirikan. Badan itu, jelas Rachmat, melibatkan Kementerian Hutan, Pekerjaan Umum, Depdagri, dan Lingkungan Hidup. Badan ini membahas secara strategis pemanfaatan ruang nasional.

  • Sungai es meleleh

Jika pemanasan global terus berlangsung seperti sekarang, diprediksikan pegunungan di seluruh dunia terancam kehilangan sungai es (gletser) pada akhir abad ini. Laporan Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/ UNEP) menyebutkan, meskipun secara alamiah penyusutan sungai es memang terjadi, namun tren yang terjadi sekarang berbeda.

"Tren penyusutan sungai es yang terjadi sekarang bersifat mendunia dan cepat, bahkan mengalami percepatan. Ini akan mengakibatkan banyak pegunungan di dunia kehilangan sungai es pada akhir abad 21," ungkap laporan tersebut.

Menurut laporan itu, penyusutan es pada periode 1996-2005 meningkat dua kali lipat dibanding satu dekade sebelumnya, yakni 1986-1995, dan lebih dari empat kali dibanding dua dekade sebelumnya, yakni 1976-1985. Dengan pelelehan ini, tentu bahaya banjir akan mengancam di mana-mana.

  • Riau Berpotensi Puting beliung

Dampak pemanasan global juga memicu terjadinya bencana yang lain, semisal badai dan angin puting beliung. Akibat pergantian musim dan cuaca yang tak menentu, angin beliung sering kali terjadi di wilayah Sumatera.

Angin kencang disertai badai dan petir yang terjadi Minggu (22/3) malam di Pekanbaru dan menyebabkan pesawat RAL harus mengalihkan pendaratan (divert) ke Batam, sudah dikategorikan angin puting beliung.

Staf analisa BMG Pekanbaru, Slamet Riyadi kepada Tribun menjelaskan, kecepatan angin malam itu maksimal mencapai 40 knot/kam atau sekitar 72 km/jam. Karena itulah disebut sebagai angin puting beliung, dimana kecepatan minimum puting beliung adalah 30 knot/jam.

Angin puting beliung ini tidak bisa diprediksi oleh stasiun BMG, baik dari besar maupun lokasinya, karena sifatnya lokal. "Kami bisa mengetahui akan ada puting beliung kira-kira setengah hingga satu jam sebelumnya. Tapi tidak bisa memprediksi lokasinya dimana dan kejadiannya pun pendek. Sekitar 3 hingga 10 menit saja," kata Slamet Riyadi.

Namun fenomena ini, tutur Slamet, besar kemungkinan terjadi di Riau karena bulan ini memasuki puncak musim hujan pertama di Riau. Dan tepat hari ini, Senin (23/3), posisi matahari berada di garis equator. Posisi ini telah diperkirakan oleh BMG Pekanbaru dan diprediksi bisa memunculkan hujan deras disertai angin kencang dan petir.

Hujan dan angin kencang memang biasa terjadi pada musim pancaroba. Ditambah lagi dengan siklus matahari berada di garis equator yang memunculkan pemanasan maksimum. Suhu udara di masa ini maksimal bisa mencapai 32 hingga 34 derajat Celcius.

Adanya pemanasan ini memicu pembentukan gumpalan awan cumulus nimbus, yakni gumpalan awan besar berwarna hitam seperti bunga kol yang menjulang tinggi. Gumpalan awan itu menjadi hujan deras dan diikuti dengan angin kencang dan petir.

Kejadian ini, menurut analisa BMG Pekanbaru, akan tetap bisa muncul di Riau sampai bulan April. "Bulan Maret sampai April ini kan masuk puncak musim hujan pertama di Riau, sedangkan puncak keduanya terjadi di bulan Oktober dan November. Di masa transisi itulah fenomena alam seperti ini kemungkinan besar muncul," kata Slamet.

Dikonfirmasi ke pihak bandara, angin puting beliung yang melanda Pekanbaru Minggu (22/3) malam, tidak merusak peralatan di bandara. Airport Duty Manager, Ibnu Hasan menyebutkan semua peralatan masih dalam kondisi normal.

Sumber: Tribun Pekanbaru
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook