Alpen Steel | Renewable Energy

~ Hujan Makin Besar Akibat Pemanasan Global

 

Pemanasan Global Picu Hujan Makin Besar

Prediksi mengenai dampak pemanasan global terhadap perubahan cuaca sepertinya perlu direvisi. Sebab, hasil analisis data satelit selama 20 tahun menunjukkan hasil yang berbeda dengan prediksi selama ini.

Semua ahli cuaca dan iklim telah lama sepakat bahwa uap air yang terkandung di atmosfer naik sekitar 7 persen setiap kenaikan suhu global satu derajat Celcius. Namun, hasil pemodelan iklim dengan komputer rata-rata menunjukkan uap air yang turun menjadi hujan hanya naik 1 hingga 3 persen dengan kenaikan suhu yang sama. Karena itu, para peneliti berasumsi bahwa perbedaan ini karena proses terbentuknya hujan dan penguapan berjalan lebih lambat.

Namun, kebanyakan pemodelan cuaca tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Saat digunakan untuk simulasi cuaca dalam 2 dekade terakhir, model-model tersebut tidak begitu mempertimbangkan perubahan curah hujan dan mengabaikan perubahan ekstrim seperti El Nino yang terjadi tahun 1998.

Hal itulah yang membuat Frank Wentz dari Remote Sensing Systems, sebuah perusahaan penganalisis data satelit di Santa Rosa, California, AS, merasa ada faktor yang kurang dalam membuat pemodelan. Ia kemudian mempelajari data pengukuran yang direkam enam satelit untuk melihat hubungan antara kadar uap air di atmosfer, curah hujan, penguapan, dan kenaikan suhu global.

Hasilnya menunjukkan bahwa penguapan dan curah hujan berubah sebanding dengan kenaikan kadar uap air di atmosfer yakni sekitar 6,5 persen setiap kenaikan suhu satu derajat Celcius. Artinya, proses penguapan maupun terbentuknya hujan tidak melambat seperti prediksi sebelumnya.

Ia menggambarkan siklus air di atmosfer sebagai ban berjalan. Angin berperan membantu mengangkat uap air dari permukaan Bumi ke atmosfer. Uap air yang berkumpul di atmosfer dan jenuh akan kembali jatuh. Saat suhu naik, berarti makin banyak uap air yang bergerak dalam siklus tersebut dan semakin banyak  hujan yang diturunkan.

"Apa yang diprediksi dalam pemodelan menunjukkan bahwa pergerakan siklus ban berjalan ini melambat sehingga uap air akan bertahan dan semakin jenuh di atmosfer," ujar  Wentz. Menurutnya, selama ini hal tersebut diperkirakan karena berkurangnya aliran angin secara global sehingga siklus pergerakan uap air berjalan lebih lambat daripada sebelumnya.

Namun, hasil analisisnya terhadap data-data satelit menunjukkan bahwa aliran angin justru sedikit mengalami kenaikan dalam 20 tahun terakhir begitu pula dengan tingkat penguapan dan curah hujan. Temuannya dilaporkan online dalam Science Express edisi 31 Mei.

Menurut Wentz, pemodelan cuaca umumnya telah mampu memprediksi perubahan suhu dan kadar uap air di atmosfer dengan baik namun kesulitan memperkirakan perubahan curah hujan. Hal tersebut karena perubahan berlangsung singkat, pada cakupan yang sempit, dan berbeda-beda di tiap daerah. Lusinan pemodelan iklim yang ada saat ini hampir seluruhnya memprediksi bahwa kenaikan curah hujan tidak sebesar kenaikan kadar uap air di atmosfer.

Dengan memperhitungkan hasil analisis ini, kenaikan curah hujan dalam beberapa tahun ke depan mungkin jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Hal ini merupakan kabar baik bagi daerah-daerah yang curah hujannya rendah namun buruk bagi daerah-daerah yang curah hujannya sudah kelewat tinggi.



Sumber: LiveScience.com
Penulis: Wah

 

 

 


  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook