Dampak Pemanasan GlobaL

Kiamat sudah dekat !! Bertobat lah !!!
Jakarta, Kompas - Pemanasan global akan memberi dampak negatif yang
nyata bagi kehidupan ratusan juta warga di dunia ini. Demikian antara
isi laporan kedua Perserikatan Bangsa Bangsa yang sudah dipublikasikan
tahun 2007 ini. Laporan pertama berisikan bukti ilmiah perubahan iklim
sedangkan laporan ketiga akan membeberkan tindakan untuk menanganinya.

Laporan para pakar yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) dibeberkan dalam jumpa pers yang dilakukan
serentak di berbagai belahan dunia, Selasa (10/4). Laporan setebal
1.572 halaman itu ditulis dan dikaji oleh 441 anggota IPCC.

Salah satu dampak pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan
bumi sepanjang lima tahun mendatang. Hal itu akan mengakibatkan gunung
es di Amerika Latin mencair.

Dampak lanjutannya adalah kegagalan panen, yang hingga tahun 2050
mengakibatkan 130 juta penduduk dunia terutama di Asia kelaparan.
Pertanian gandum di Afrika juga mengalami nasib yang sama.

Laporan itu menggarisbawahi dampak pemanasan global berupa
meningkatnya permukaan laut, lenyapnya beberapa spesies dan bencana
nasional yang makin meningkat. Disebutkan, 30 persen garis pantai di
dunia akan lenyap pada tahun 2080.

"Lapisan es di kutub mencair hingga terjadi aliran air di Kutub Utara.
Hal itu akan mengakibatkan Terusan Panama terbenam," kata Edmundo de
Alba, salah satu anggota IPCC.

Naiknya suhu udara memicu topan yang lebih dashyat hingga memengaruhi
wilayah pantai yang selama ini aman dari gangguan badai. Banyak tempat
yang kini kering akan makin kering, sebaliknya berbagai tempat basah
akan makin basah.

Kesenjangan distribusi air secara alami ini berpotensi meningkatkan
ketegangan dalam pemanfaatan air untuk kepentingan industri, pertanian
dan penduduk.

Dampak di Asia

Asia menjadi bagian dari bumi yang akan paling parah. "Ancaman itu
terlalu riskan untuk diabaikan," kata Achim Steiner, Direktur
Eksekutif United Nations Environment Program (UNEP).

"Perubahan iklim yang tak terdeteksi akan menjadi bencana lingkungan
dan ekonomi dan buntutnya adalah tragedi kemanusiaan. Sangat penting
bagi dunia untuk mengambil langkahmenghindarinya," kata Steiner.

Laporan itu mengingatkan setiap kenaikan suku udara dua derajat
Celsius antara lain akan menurunkan produksi pertanian di China dan
Banglades hingga 30 persen pada 2050. Kelangkaan air meningkat di
India seiring dengan menurunnya lapisan es di pegunungan Himalaya.

Sekitar 100 juta warga pesisir di Asia pemukimannya tergenang, karena
peningkatan permukaan laut setinggi antara satu hingga 3 milimeter
setiap tahun. Dampak peningkatan permukaan laut paling banyak terjadi
di Asia.

Kekeringan dan banjir akan terjadi di Australia dan Selandia Baru pada
2030. Beberapa pulau di sub-Antartika juga terancam.

Untuk wilayah Amerika Utara akan mengalami peningkatan badai gelombang
panas, cuaca buruk dan kekurangan air.

Saat ini pemanasan global sudah terasa dengan terjadinya kematian
manusia dan punahnya spesies di Afrika dan Asia.

Diperlukan Adaptasi

Adaptasi pertanian terhadap dampak pemanasan global seperti perubahan
iklim saat ini harus menjadi perhatian utama pemerintah. Jika tidak,
pola produksi makin terganggu dan petani makin kekurangan modal
produksi, ujar Kepala Laboratorium Klimatologi Institut Pertanian
Bogor Rizaldi Boer, Rabu (11/4).

"Petani di Nusa Tenggara Timur, sampai-sampai menerapkan pola tanam
sistem satu lubang untuk tiga biji atau lebih, meliputi
kacang-kacangan, jagung, dan padi. Mereka mengharapkan salah satu biji
itu dapat tumbuh dan dipanen dalam kondisi iklim yang tak pasti itu,"
kata Rizaldi.

Petani juga sering terkecoh oleh cuaca. Saat memasuki bulan Oktober
sampai Desember, ada hujan satu sampai dua hari dianggap sudah
memasuki musim hujan. Padahal, setelah itu tidak hujan lagi sampai
Januari. Padi yang telanjur disemai akhirnya mati karena kekurangan air.

Menurut Rizaldi, pemerintah harus memperbaiki lima unsur meliputi
sistem pengamatan tata iklim, kemampuan analisis data, kemampuan
peramalan iklim, sistem informasi yang mudah dipahami, dan
ketersediaan jalan keluar atas informasi yang ada.

"Dengan perbaikan lima unsur tersebut, saat kondisi iklim ekstrim,
petani tetap dapat berproduksi tanpa merugikan diri-sendiri," kata
Rizaldi.

Secara terpisah, pakar agroklimat pada Pusat Pengembangan Pemanfaatan
Teknologi Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional, Erna Sri Adiningsih, mengatakan, iklim ekstrim pekan ini
terjadi di utara perairan Sulawesi, yang mengakibatkan hujan di
wilayah itu dan Kalimantan. "Iklim ekstrim inilah yang harus cepat
dianalisis dan diinformasikan ke publik, sehingga ada penyesuaian pola
tanam," kata Erna. (REUTERS/AP/AFP/MON/NAW)


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum