Alpen Steel | Renewable Energy

~ Di Sumbar Masyarakat Keluhkan Listrik Padam

 

Pemadaman Listrik di Sumbar Dikeluhkan Masyarakat

Yang menjadi keluhan masyarakat selama ini, mereka tidak pernah tahu kapan jadwal pemadaman, sehingga segala sesuatu bisa dipersiapkan untuk antisipasi dan juga menghindari barang-barang elektronik rusak.

"Menjelang subuh listrik padam sampai tiga kali. Warga sedang tidur pulas, tentu. Pemadaman begini tentu beresiko terhadap barang elektronik, sebab ketika listrik padam, tiba-tiba listrik mati, lalu tak lama hidup lagi, lalu mati kembali. Tak lama kemudian hidup. Kalau begini polanya, jelas berpotensi merusak barang elektronik," kata Ny Rozalina, warga Batangkabung, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Kamis (13/7).

Sejumlah warga lain yang dihubungi terpisah juga mencemaskan pola pemadaman yang tak tentu dan tak terjadwal itu. "Padahal, pernah hanya sekali iklan di koran, bahwa listrik padam pada saat beban puncak mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Dalam praktiknya, ada juga yang di luar jadwal itu. Pemadaman ketika warga tidur pulas, barangkali, strategi PLN untuk melepaskan tanggung jawab kalau ada barang-barang elektronik warga yang rusak," kata Imtias Putra, warga Tabing.

Tidak hanya warga, kalangan pengusaha juga mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat padamnya listrik setiap hari. "Mereka kehilangan pendapatan per hari mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Belum lagi upah pekerja yang mesti dibayar penuh, sedangkan produksi tak optimal," kata Yogan Askan, Ketua Bidang Perdagangan Kadin Sumatera Barat.

Menurut General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Sumbar, Sudirman, pemadaman bergilir adalah akibat defisit yang mencapai 41,52 MW. "Kondisi ini disebabkan elevasi permukaan air danau yang turun drastis karena musim kemaran, sehingga dalam kondisi rawan. Kalau dipaksakan bisa merusak lingkungan. Kemudian juga karena ada pembangkit yang tidak siap dioperasikan," ungkapnya.

Data terakhir menyebutkan, PLTU_Ombilin yang berkapasitas 2 x 100 MW, hanya bisa dioperasikan 86,45 MW. PLTA Singkarak dari kapasitas 4 x 43,75 MW, daya yang mampu dihasilkan hanya 80 MW. PLTA Maninjau dari 4 x 17 MW, hanya bisa beroperasi 30 MW. PLTG Pauh Limo yang berkapasitas 2 x 21,35 MW hanya mampu beroperasi 18 MW. PLTA Batang Agam kapasitas 3 x 3,5 MW hanya mampu hasilkan 4 MW.

Secara terpisah, General Manager Pengaturan dan Pusat Pengaturan Beban Sumatera Kikid Sukantomo Adibroto mengatakan, pemadaman bergilir tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga di provinsi lain di Sumatera.

"Di sistem Sumatera Bagian Utara, misalnya, devisit 150 MW sampai 200 MW dan itu sudah berlangsung sejak tahun 2004 lalu, sampai sekarang. Makanya listrik di wilayah Sumut dan NAD padam bergilir," katanya.

 

 

 


  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook