Alpen Steel | Renewable Energy

Pemadaman Listrik tidak Terelakkan

Kemarau panjang membuat pasokan listrik PLTA berkurang drastis, sehingga

PT PLN tidak punya pilihan lain kecuali mengendalikan beban atau berarti pemadaman bergilir akan terus terjadi.

Terlepas dari elnino, yang namanya kemarau pasti akan mempengaruhi permukaan air di PLTA (pembangkit listrik tenaga air. Hal ini membuat kemampuan air untuk memutar turbin berkurang. Bisa dikatakan hampir seluruh PLTA di Indonesia mengalami penurunan. Kalau di lokasi tersebut kontribusi PLTA besar terhadap sistem kelistrikan, pasti ada penurunan kemampuan, ujar Direktur Utama PT PLN Fahmi Muchtar di Jakarta, Senin (27/7).

Oleh karena itu, ujarnya, untuk mengatasinya, selain dengan upaya penambahan beban melalui hujan buatan, risiko pemadaman di daerah yang kekurangan pasokan juga tidak terhindarkan.

Dampaknya memang kita harus melakukan pengendalian beban. Kalau memang pasokan tidak memadai terpaksa harus dilakukan pemadaman bergilir, ujar Fahmi.

Ia mengakui, wilayah Pulau Sumatra mengalami defisit listrik hingga lebih dari 170 Megawatt (Mw) disebabkan ketergantungan terhadap pasokan listrik dari PLTA.

Daerah yang paling besar terpengaruh oleh defisit pasokan listrik ini berada di Sumatra. Di sana ada Danau Singkarak, Maninjau, dan Sungai Musi, yang berkontribusi terhadap debit air untuk PLTA, ujar Fahmi.

Kemampuan pasokan listrik dari PLTA ini pun menyumbang sekitar 13% dari total daya outputyang dihasilkan seluruh pembangkit se Indonesia saat ini, yaitu sebesar 29.705 Mw.

Meski demikian, untuk pasokan listrik di sistem Jawa, Madura, Bali (Jamali), Fahmi menjamin tidak akan terlalu terpengaruh.

Ketergantungan sistem Jamali relatif kecil terhadap kontribusi PLTA. Selain itu pembangkit di sistem ini banyak ditunjang pasokan batu bara, ujar Fahmi.

Meski demikian, PLN mewaspadai musim kemarau ini akan berpengaruh terhadap pasokan batu bara. Kita harus pantau debit air di sungai-sungai Kalimantan karena sungai merupakan jalur distribusi batu bara dari tambang di pedalaman, papar Fahmi.

Namun hingga kini PLN menjamin pasokan batu bara untuk sistem Jamali dalam kondisi aman. Stok batu bara kita masih di atas 30 hari, jadi kondisinya aman. Prediksi kita biasanya bulan kritis pasokan itu pada November-Februari. Saat itu stok harus ditinggikan, pungkas Fahmi.

Data PLN pada 2008 menunjukkan kontribusi PLTA ke sistem Jawa-Bali

berkurang sekitar 10% atau menjadi 5.886 Giga Watt Hour dari semula 6.576 GWT.

Dengan daya mampu netto 18.406 MW, sistem Jawa-Bali memiliki pembangkit sebanyak 216 unit. Selain dari PLTA, pembangkit listrik yang memasok daya

ke sistem tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 8.740 MW. Kemudian Pembangkit Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 5.985 MW,

Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 1.483 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 774 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 66

MW.

Sementara dari jenis energi pembangkit, tenaga air ini memasok 14,2% dari sumber energi pembangkitan PT PLN. Bauran energi primer yang digunakan untuk pembangkit listrik yang ada saat ini ialah 37% batubara, 15% gas, 37% BBM, dan 3% panasbumi.

Pada 2010 mendatang, PLN memproyeksikan penggunaan energi terbarukan sebesar 17% terdiri dari biofuel 5%, panas bumi 5%, biomasa, nuklir, air, surya, angin 5%, dan batu bara yang dicairkan 2%. Dengan begitu pemakaian minyak bumi akan turun menjadi 20%, gas bumi naik menjadi 30%, dan batu bara menjadi 33% sebagai sumber energi nasional.

(Jaz/OL-01)

AKARTA–M

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook