Alpen Steel | Renewable Energy

KRISIS LISTRIK DI KALIMANTAN TIMUR

Merebaknya fenomena pemadaman listrik di berbagai daerah di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan Timur pada khususnya, sepertinya telah menjelma menjadi suatu program dari PT PLN Wilayah Kalimantan Timur. Karena hampir di setiap harinya pemadaman listrik terjadi secara bergiliran didaerah tersebut, baik adanya pemberitahuan terlebih dahulu maupun pemadaman tersebut dilakukan secara tiba-tiba. Hal ini, dengan tegas menunjukkan bahwa adanya ketidak optimalan PT PLN dalam mengelola pasokan ketersediaan listrik bagi pelanggan (masyarakat) di kaltim.

Jumlah pelangan PLN di Kaltim mencapai 430.000 orang dengan 11 area pelayanan. Dan sebanyak 120.000 atau (28 %) pelanggan dilayani oleh sistem mahakam, yaitu Samarinda, balikpapan dan Tenggarong. sementara beban yang harus dipenuhi 195 Mega Watt (MW) sedangkan kemampuan optimal hanya 175 MW. Jadi singkatnya, PLN defisit 25 MW sehingga pemadaman tak dapat terhindari. Beban puncak adalah daya tertinggi yang dicapai suatu sistem pembangkitan akibat penggunaan listrik oleh pelanggan.

Secara umum, pemadaman terjadi karena direncanakan atau spontan. Direncanakan karena pemeliharaan rutin mesin pembangkit dan saluran udara (kabel) tegangan, sementara terjadi secara spontan karena adanya gangguan pada alat-alat tersebut, serta tersendatnya pasokan bahan bakar dan pemakaian secara berlebihan oleh pelanggan (masyarakat). Sistem mahakam ditumpu oleh lima pembangkit yang memakai solar serta satu pembangkit tenaga gas dan uap. Pemadaman di sistem ini terjadi karena beberapa sebab. Antara lain, karena adanya kenaikan beban puncak dari rata-rata 160 MW menjadi 195 MW sehingga pembangkit harus beroperasi melebihi kemampuan. Akibatnya, pembangkit rentan mengalami kerusakan.

Kondisi khusus terjadi di pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) tanjung Batu di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kapasitas yang dihasilkan 74 MW, pasokan bahan bakar untuk PLTGU ini seharusnya gas. Namun, satu dari tiga turbin memakai solar, akibat turunnya pasokan gas dari kebutuhan ideal 16 MMSCFD menjadi 10 MMSCFD setiap harinya. Dalih yang digunakan adalah, daripada satu turbin tidak bekerja akhirnya menggunakan solar.

Padahal penggunaaan solar secara terus-menerus dapat mengakibatkan mesin cepat mengalami kerusakan. Belum lagi mengenai saringan atau filter yang harus diganti setiap harinya. Sementara biaya yang dibutuhkan yaitu antara Rp 5 juta sampai dengan Rp 10 juta. Sedangkan apabila menggunakan gas, saringan diganti sebulan sekali. Selain itu, pada pembangkit harus sering dirawat. Padahal, ketika perawatan berlangsung, daya listrik yang dihasilkan pun berkurang. Hal ini juga yang menjadi penyebab lain terjadinya pemadaman.

Pasien Kritis
Jika diibaratkan, kondisi kelistrikan di Kaltim ibarat pasien kritis, karena PLN Kaltim diperkirakan mengalami kerugian Rp 1,8 triliun dalam tahun ini, belum termasuk tahun-tahun sebelumnya sehingga kecil kemungkinan membangun pembangkit baru. Akibatnya, permintaan pemasangan listrik hanya mimpi yang mungkin masih lama terwujud. Padahal sejak tahun 2003, penambahan jumlah pembangkit tidak tersedia. Namun, disisi lain beban konsumsi listrik terus meningkat karena pertumbuhan ekonomi masyarakat. Hal ini linier dengan jumlah penduduk.

Kini jumlah penduduk di Kaltim diperkirakan mendekati 3 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi tersebut, dengan sendirinya memicu meningkatanya permintaan barang, termasuk yang memerlukan listrik. Diperkirakan, permintaan konsumsi listrik di Kaltim naik 12 % pertahun. Sayangya, hal ini tidak diantisipasi dengan penambahan pembangkit. Akibatnya, masyarakat yang ingin berlangganan listrik harus gigit jari dan sabar menunggu sampai waktu yang belum jelas penetapannya.

Kurang lebih sebanyak 90.000 calon pelanggan, dengan beban daya yang harus ditanggung sekitar 195 MW. Mereka berharap PLN bisa mengalirkan listrik. Demikian pula halnya bagi pengusaha yang hendak berinvestasi di Kaltim. Namun, sampai tahun 2011, PLN diprediksikan tidak dapat memenuhi permintaan pemasangan listrik, kecuali terjadi perubahan drastis dan mendadak. Singkatnya, abra kadabra dan sim salabim PLN tiba-tiba punya banyak uang untuk membangun pembangkit baru.

Meski demikian, selama kurun tahun 2000-2004, kemampuan PLN membangkitkan daya mampu atau daya listrik yang bisa dibangkitkan pembangkit menunjukkan peningkatan berturut-turut. Pada tahun 2000 sebesar 179,56 MW, pada tahun 2001 sebesar 184,52 MW, pada tahun 2002 sebesar 189,12 MW, pada tahun 2003 sebesar 246,63 MW, dan pada tahun 2004 sebesar 282,08 MW. Peningkatan kemampuan pembangkitan listrik ini juga berarti adanya peningkatan pasokan bahan bakar untuk pembangkitan.

Sistem mahakam pada tahun 2004 membutuhkan 151,196 juta liter solar, kebutuhan pada tahun 2005 naik menjadi 225 juta liter solar atau naik 33 persen. Namun, secara umum pasokan bahan bakar unutuk pembangkitan Kaltim masih kurang. Kebutuhan solar idealnya 321,019 juta liter, tetapi pasokan solar hanya 301,422 juta liter sehingga kurang 19,597 juta liter. Kurangnya pasokan bahan bakar jelas berdampak pada turunya kemampuan mesin dalam membangkitkan daya listrik. Saat daya listrik berkurang, mau tidak mau pasokan listrik berkurang juga. Kondisi tersebut diasumsikan Tidak ada jalan lain kecuali melakukan pemadaman secara bergiliran.

Mengatasi krisis listrik di Sistem Mahakam yang sudah sedemikian parahnya, PT PLN Wilayah Kalimantan Timur tengah mengajukan usulan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 X 100 MegaWatt ke Pemerintah pusat, yang berencana mengambil lokasi berdampingan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Batu di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi kelistrikan di sistem mahakam sudah akrab dengan istilah byar pet. Hal ini ditenggarai adanya beberapa permasalahan seputar pembangunan maupun pasokan energi bahan bakar.

Antara lain, belum terselesainya pembangunan PLTU Tanjung Batu oleh PT Cahaya Fajar Kaltim (konsorsium antara Perusda Kelistrikan Kaltim dengan Jawa Pos Group), dan terhentinya pasokan gas dari Medco ke PLTGU Tanjung Batu, belum lagi usia pembangkit diesel yang sudah tua, serta ketidakmampuan PLN menanam investasi terhadap pembangkit baru. Selain itu, sampai saat ini PLN belum memiliki mesin pembangkit cadangan, sehingga pembangkit yang ada beroperasi secara terus menerus.

Proyek pembangkit yang masuk crash program versi Kementrian ESDM meliputi PLTU 2 X 25 MW di Samboja dan PLTU 2 X 65 MW di sekitar Penajam, yang keduanya masuk dalam Sistem Mahakam. Serta PLTU 2 X 7 MW di Kabupaten Nunukan. Tetapi pembangunannya ternyata mengalami kendala. Oleh karena itu, perlu adanya peninjauan ulang terhadap pembangunan tersebut. Dari tiga proyek pembangunan PLTU tersebut, 2 X 65 di sekitar Penajam baru masuk ke tahap penentuan lokasi pembangunan. Sementara untuk PLTU di Samboja dan Nunukan, progresnya masih nol.

Seyogyanya, PLN Kaltim tidak berdiam diri saja menunggu eksekusi dari usulan 2 X 100 MW ke Pemerintah pusat tersebut. Mengingat Kaltim dalam beberapa bulan ke depan bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON), yang sudah barang tentu membutuhkan lebih besar lagi pasokan listrik dalam mensukseskan penyelenggaraan tersebut.

Alternatif Solusi
Diperkirakan selama lima tahun ke depan Kaltim masih akan mengalami krisis listrik. Hal ini diakibatkan PLN tidak punya ketersediaan dana untuk investasi pembangunan pembangkit baru. Apalagi PLN berencana mematikan pembangkit diesel yang berkapasitas 100 MW karena biaya operasional yang begitu besar. Ironis, kondisi kritis ini tidak berbanding lurus terhadap kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kaltim. Oleh karena itu, hal ini sebenarnya dapat diantisipasi dan diminimalisir sehingga tidak terjadi pemadaman dalam jumlah yang lebih besar dan batas waktu yang tidak dapat ditentukan, tanpa menunggu kepastian bantuan dari Pemerintah pusat.

Manakala adanya langkah terpadu dari berbagi stake holder yang terlibat langsung dalam penanganan kondisi krisis listrik tersebut. Termasuk didalamnya pelibatan aktif dari berbagai perusahaan yang bergerak langsung di bidang penambangan minyak, gas, batu bara dan lain sebagainya, melalui pemberian bantuan enerji bahan bakar dengan cara pengembangan program CSR (corporate social responbility) yang dapat digunakan untuk membantu pengoperasian pembangkit listrik.

Disisi lain, fenomena krisis listrik inipun setidaknya dapat pula dijadikan sebagai suatu preseden awal bagi semua pihak agar meredefinisikan kembali pentingnya berhemat energi, jikalau listrik masih tetap dijadikan sebagai salah satu sumber penghidupan dihari ini maupun di masa-masa yang akan datang. Wallahu’ alam

Oleh : Andi Firman

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook