Alpen Steel | Renewable Energy

Terkini No Latest Arisan Genset ala Ibu-ibu Palembang

 

Artikel Terkait:PEMADAMAN listrik yang sudah tidak kenal waktu membuat ibu-ibu rumah tangga, yang menangani urusan domestik dari memasak hingga membimbing anak belajar, harus putar otak dan kreatif.

 

Ibu-ibu di RT 31 RW 12 Kelurahan Sialang, Palembang, Sumatera Selatan, punya taktik jitu menghadapi krisis listrik yang terjadi hampir dua bulan terakhir. Mereka membuat arisan genset (mesin pembangkit listrik), di tengah keterbatasan dana.

Di kediaman Ketua RT 31 Rita Herwani (50), Jumat (11/7), sejumlah ibu-ibu peserta arisan sedang berkumpul untuk mengambil kupon jatah genset serta mempelajari cara pemakaiannya. Di salah satu sudut ruang rumah terlihat tumpukan genset yang baru saja dikirim dari toko.

Selaku Ketua RT, Rita termasuk inisiator arisan genset yang juga didukung pengurus RT lainnya. ”Ide arisan genset muncul saat saya dan ibu-ibu di sini berkumpul dan ngobrol santai. Kemudian muncul keluhan soal pemadaman listrik oleh PLN. Frekuensi pemadaman ternyata bertambah sering,” kata Rita, yang belum sebulan menjabat Ketua RT.

Nurlela (49), ibu rumah tangga warga RT 31 lainnya, mencontohkan, selama lima hari selalu terjadi pemadaman bergilir dengan durasi lebih dari 8 jam. Pemadaman bergilir terjadi pada pukul 17.00 dan 00.30. Pemadaman terkadang dilakukan siang hari.

Akan tetapi, untuk membeli genset secara tunai, harga paling murah berkisar Rp 800.000. Cukup berat bagi mereka. Padahal, pemadaman bergilir di Palembang diperkirakan hingga akhir 2008. ”Kalau tak segera mencari cara, saya juga akan terus mengomel dan mengeluh soal pemadaman ini,” kata Nurlela.

Untuk merealisasi ide tersebut, Rita pun dipercaya ibu-ibu melakukan survei serta mencari informasi dan tipe genset yang diinginkan. Rita menemukan toko genset yang bisa bekerja sama membantu arisan ini. Satu lagi ”kecerdasan” dari sistem arisan mereka, yaitu arisan dirancang agar tidak memberatkan peserta. Harga genset dibuat lebih murah dan menguntungkan dibandingkan dengan membeli secara kredit.

Di lingkungan RT 31, satu kelompok arisan genset dibatasi hanya diikuti 10 peserta. Meski baru satu kelompok terbentuk, peminat arisan terus bertambah sehingga direncanakan membentuk satu kelompok lagi.

Menurut Nurlela, arisan genset ini didesain untuk cicilan 10 kali selama 10 bulan. Dari toko, harga genset itu Rp 1,75 juta per unit yang mesti diangsur Rp 200.000 setiap kali pertemuan selama 10 kali. Karena ringan, banyak ibu-ibu akhirnya tertarik ikut arisan.

Genset arisan dipilih yang kapasitasnya sesuai kebutuhan listrik rumah tangga, yakni 1.200 watt. Pemilihan produk juga disyaratkan memenuhi standar kualitas dan keamanan.

Agar dalam perjalanan arisan ibu rumah tangga tidak terhambat masalah kenaikan harga dan kelangkaan genset, pembeliannya dilakukan sekaligus 10 unit untuk setiap kelompok arisan.

Rita Herwani menggunakan sebagian dana kas RT dan dana pribadi untuk dibayarkan kepada pihak toko terlebih dulu. Setelah itu, barulah 10 genset didapat dan disimpan di kediamannya. Cara ini akhirnya ditempuh karena tidak banyak ibu-ibu yang memiliki dana tunai untuk membeli genset.

”Dari harga Rp 1,75 juta, selama 10 kali cicilan arisan itu ibu-ibu harus membayar Rp 2 juta. Kelebihannya Rp 250.000 per orang dimasukkan lagi ke dalam kas RT sebagai dana cadangan untuk membantu warga yang membutuhkan,” kata Rita.

Cemas

Ketika genset untuk kelompok pertama coba dihidupkan Rita, raut muka para ibu rumah tangga lainnya menunjukkan kekagetan dan rasa cemas.

Nurlela sontak menyeletuk, ”Bahayo idak ini gunake genset, kagek meledak apo idak? (Bahaya tidak menggunakan genset, nanti bisa meledak apa tidak).”

Rita pun meredamnya. Ia menjelaskan bahwa genset ini cukup aman. Cara menghidupkannya mudah, hanya dengan menarik dan memutar katub.

Soal irit tidaknya relatif karena tergantung pada penggunaannya. Dengan kapasitas sekitar dua liter bahan bakar, genset itu sudah cukup untuk kebutuhan selama sekitar sepekan. Selain itu, suaranya relatif halus dan tidak berasap karena bahan bakarnya menggunakan bensin premium.

Guna menghindari kemungkinan kerusakan karena ketidaktahuan pengoperasiannya, Ketua RT pun memanggil teknisi untuk menjelaskan kepada peserta arisan. Hasilnya, sebagian ibu-ibu mengakui sudah tahu mengoperasikannya.

Manajer Hukum dan Humas PT PLN Sumatera Bagian Selatan Harris Effendi menjelaskan pemadaman bergilir di Palembang sebenarnya bisa dihindari seandainya setiap keluarga atau rumah tangga bisa berhemat 20 watt saat beban puncak.

(Boni Dwi Pramudyanto)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook