Alpen Steel | Renewable Energy

Tiga Hari, Listrik Cuma Nyala 36 Jam

Selama tiga hari, 23-25 Mei mendatang, listrik di Batam hanya akan menyala 36 jam. Polanya, 6 jam nyala, 12 jam padam. Itu akan dilakukan secara bergiliran ke masing-masing pelanggan.
Direktur Keuangan PT PLN Batam, Djoko Paryoto mengatakan, itu merupakan hasil kesepakatan PT PLN Batam dengan BP Migas di Jakarta, 18 Mei. ”Sebelum kesepakatan, nyala 72 jam,” katanya saat rapat koordinasi dan sosialisasi mengantisipasi pemadaman listrik 23-25 Mei, di lantai IV Pemko Batam, kemarin (19/5).

Selain pihak PLN, hadir dalam acara tersebut, GM SBU Distribusi Wilayah III (Sumatera Bagian Utara) PT PGN Sulistiyo Ely, Asisten II Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Ahmad Hijazi, Ketua DPRD Batam Soerya Respationo. Sejumlah pengusaha dan lembaga konsumen juga ikut serta.

Wali Kota Batam Ahmad Dahlan maupun Wakil Wali Kota Ria Saptarika tak hadir dalam rapat itu.
Dalam pertemuan itu, Djoko memaparkan kondisi suplai gas dari PGN mulai tanggal 23 hingga 25 Mei. Sabtu (23/5), pukul 19.00 WIB (gas mulai berkurang) dan pukul 23.00 WIB (suplai gas nol alias zero). Hari kedua, Minggu (24/5), pukul 09.30 WIB sampai 24.30 WIB (zero). Senin (25/5), pukul 11.30 WIB (gas mulai bertambah) dan pukul 17.30 WIB (full capacity/normal).

Ia juga menjelaskan soal neraca daya. Selama tiga hari, suplai listrik ke pelanggan selalu defisit. Meski, sudah ada upaya dari PLN untuk mengantisipasi kondisi ini. Misalnya, menyiapkan sejumlah mesin pembangkit berbahan bakar minyak dari empat PLTD. Namun, total daya yang bisa dihasilkan hanya mencapai 77 megawatt. Masih kurang 146 megawat dari beban puncak 223 megawat.

Untuk menutupi kekurangan suplai listrik itu, PLN juga meminta bantuan dari 280 pelanggan swasta untuk menghidupkan mesin gensetnya (captive power). Langkah ini diambil PLN untuk meminimalisir dampak pemadaman listrik bergilir dari 23 sampai 25 Mei mendatang.

Djoko meyakinkan, selama tiga hari nanti Batam tidak akan padam total. Ada sejumlah lokasi vital yang akan mendapat prioritas suplai listrik, sehingga tidak terkena dampak pemadaman bergilir. Antara lain, Bandara Hang Nadim, RSOB, RSUD, ATB, kantor pemerintah, Polda, Poltabes, Kodim, LPJU, dan kantor media cetak. ”Sabtu sampai Senin nyala semua,” janjinya.

Yang paling terkena dampak pemadaman listrik ini yakni kawasan industri. Dipastikan, kawasan industri selama tiga hari nanti akan padam total. ”Mema-damkan kawasan industri untuk memperluas daerah nyala,” kata Djoko.

ATB Dijamin Lancar

PT PLN Batam sendiri memastikan PT Adhya Tirta Batam (ATB) tidak akan terkena dampak pemadaman listrik, 23-25 Mei mendatang. Jadi, tidak ada alasan bagi ATB jika pemadaman bergilir nanti akan mempengaruhi suplai air ke pelanggan.

”Sampai saat ini, kebijakan PLN Batam untuk memprioritaskan suplai listrik ke ATB tidak berubah, termasuk pada saat terhentinya pasokan gas ke PLN Batam,” kata Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam I Wayan Jasmin, kemarin.

Dalam rapat koordinasi dan sosialisasi di Pemko Batam, PLN menyampaikan jika ATB menjadi salah satu prioritas suplai listrik. Daya sebesar 77 megawatt, kata Jasmin, akan diprioritaskan untuk menyuplai listrik di ATB (WTP Duriangkang, WTP Sei Ladi, WTP Muka Kuning, dan WTP Sei Harapan).

Khusus ATB di WTP Tanjung Piayu dan WTP Nongsa sesuai koordinasi dengan pihak ATB, lanjut Jasmin, disepakati bahwa lokasi tersebut akan disuplai dari genset milik ATB sendiri.
Sementara itu,  PT ATB, mengklaim akan menanggung rugi tidak sedikit dari pemadaman tersebut.

”Dalam kondisi krisis seperti ini, sebenarnya kami tidak ingin membahas soal kerugian. Tapi kalau dihitung-hitung kerugian kami ya miliaran juga,” kata Direktur Teknik PT ATB, Benny Andrianto didampingi William Solary dan staf ATB lainnya kepada wartawan di Batam Centre, kemarin.

Kerugian tersebut berasal dari terhentinya pasokan yang berarti juga minimnya penjualan air per liter per detik ke pelanggan. Belum lagi jika ATB harus menyewa generator set (genset) untuk WTP yang kena pemadaman listrik.

Dengan biaya sewa Rp50 juta per unit, ATB membutuhkan setidaknya delapan genset untuk menutupi kekurangan pasokan listrik di beberapa WTP. Sewa genset saja total Rp400 juta. Belum lagi biaya solar untuk menghidupkan genset-genset tersebut.

”Di samping kerugian materil, kami juga menanggung kerugian lain berupa rusaknya kredibilitas perusahaan. Ini tidak ternilai harganya. Saat listrik menyala, tentu air tidak bisa langsung mengalir. Masyarakat pasti berfikir ATB tidak beres. Listrik sudah nyala, kok air tetap mati. Padahal butuh waktu cukup lama untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga saat listrik yang padam itu hidup,” papar Benny.

Menurutnya, meski akar masalah ada pada PT PLN Batam, namun ATB akan berusaha meminimalisir penderitaan pelanggan. Selain meminta warga menampung air untuk stok selama pema-daman, pihaknya juga membuka Crisis Centre. Warga yang kesulitan air, kata Benny, bisa menghubungi call centre 467111.

”Kami siapkan mobil tangki. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi mudah-mudahan itu bisa mengurangi beban masyarakat yang membutuhkan air bersih,” tukasnya.

ATB berjanji memaksimalkan seluruh kemampuan yang ada, termasuk meningkatkan produksi air di Dam Duriangkang dari sebelumnya 1.150 menjadi 1.350 liter per detik. ”Itu untuk memperkuat potensi cadangan di tangki reservoir,” kata Benny.

PGN: Harusnya PLN Cari Alternatif Energi

Selain PLN, pihak PGN juga menyampaikan beberapa hal terkait pasokan gas ke Batam. Sulistiyo Ely mengatakan, PGN hanya penyedia pipa dan selaku transporter, sedangkan soal gasnya itu urusan Conoco Philips. PGN bertindak sebagai distributor.

Terkait kurangnya pasokan gas ke Batam, katanya, PGN sebenarnya bisa melakukan upaya antisipasi, seperti dengan mencari sumber lain selain yang dari ladang gas Grissik, Sumatera Selatan. Penyaluran gas bisa melalui jalur pipa atau tanker. ”Tapi kembali lagi ke hitung-hitungan soal investasi dan daya beli,” katanya.

Sampai saat ini, gas yang dipasok ke Batam masih mengandalkan suplai dari ladang gas Grissik. ”Artinya kalau ada maintenance (pemeliharaan), mau tak mau suplai gas zero,” kata Sulistiyo, yang ditemui usai pertemuan. Ia mengatakan, masalah alokasi gas bukan PGN yang mengatur, namun itu menjadi kewenangan BP Migas.


Saat rapat yang berlangsung sekitar satu jam itu, banyak pertanyaan yang muncul dari para peserta. Kalangan pengusaha, lembaga konsumen, dan konsumen sendiri tak menerima alasan yang disampaikan, baik pihak PLN maupun PGN.


Fery, salah seorang konsumen juga melontarkan keluhannya. Menurut dia, PGN dan PLN terlalu larut dengan hitung-hitungan bisnisnya. Tapi, tak pernah memperhitungkan berapa kerugian yang dialami masyarakat akibat pemadaman listrik ini. ”Pelaku usaha kecil, seperti pedagang es krim dan usaha bengkel,” ia mencontohkan.


Pelanggan, katanya, sudah memenuhi kewajibannya sehingga seharusnya mendapatkan pelayanan yang terbaik.  Peserta yang hadir meminta PGN dan PLN jangan mencari-cari alasan, yang ujungnya mengorbankan kepentingan pelayanan kepada publik. ”Tetap menolak pemadaman listrik,” kata salah seorang peserta dari kalangan pengusaha.


Asisten II Ekbang Pemko Batam Syamsul Bahrum mengatakan, masih ada waktu empat hari untuk mengkoordinasikan masalah ini. ”Berharap ada perubahan,” katanya.


Sedangkan Ketua DPRD Batam Soerya Respationo melontarkan kritikannya kepada PGN. Ia meminta perusahaan gas itu tidak hanya memikirkan keuntungan saja. PGN juga jangan takut ke Singapura.


”Bukan berburuk sangka ke PGN, apakah betul ada pemeliharaan atau taktik saja?” katanya, yang disambut tepuk tangan sejumlah peserta yang hadir.


Ia mengatakan, ini bukan kejadian pertama. Tahun lalu, pasokan gas ke Batam juga bermasalah. Alasannya selalu soal maintenance (pemeliharaan). DPRD Batam, katanya, juga tidak pernah melihat ada upaya untuk meningkatkan kontrak kerja antara PGN dengan PLN dan mitranya ke kontrak firm (pasti).


Yang berlaku selama ini masih kontrak interruptible (kontrak kerja bersifat tak mengikat). Artinya, jika sewaktu-waktu terjadi penurunan pasokan atau ada kuota dari BPH Migas, PGN tak berkewajiban memenuhi pasokan gas kepada para pelanggannya. PGN bisa kapan saja memutuskan aliran gasnya.


Bila menggunakan kontrak firm, , PGN berkewajiban memenuhi kebutuhan para pemegang kontrak tersebut. ”Kalau kontrak firm banyak ke Singapura,” katanya.


Ia mempertanyakan, apakah nolnya suplai gas ini juga berlaku bagi Singapura selama tiga hari nanti.  Ia meminta PGN tidak hanya berorientasi kepada keuntungan saja. Namun juga harus memikirkan kepentingan pelayanan publik.


Rapat koordinasi dan sosialisasi yang digelar, lanjut Soerya, tidak akan banyak gunannya tanpa ada solusi. ”Kalau cuma sekedar beritahu padam 23 sampai 25 Mei, apa gunanya? Harus ada solusi bagaimana listrik tak padam dan ke depan tak terulang lagi,” ujarnya.


Lembaga konsumen juga tak luput dari sorotan Soerya. ”Lembaga konsumen masih pakai rok. kalau kita bersikap lunak, kejadian serupa akan terus berulang. Kita minta berani, Dewan akan dukung,” katanya.


Ketua Yayayasan Lembaga Konsumen Batam (YLKB) Fachri Agusta mengatakan saat ribut-ribut soal tarif, memang bukan domain YLKB untuk bersikeras ataupun berani melawan PLN. Domain YLKB hanya melindungi dan memperjuangkan hak-hak konsumen.  Menurut dia, ketika listrik padam, maka konsumen dapat melaporkan kerugiannya ke YLKB untuk selanjutnya dilakukan gugatan ke PLN. ’’Silakan      selama pemadaman konsumen laporkan kerugian. Kita gugat PLN,’’ imbau Fachri.

Namun dia me-review ketika PLN dipimpin Eri Ifyandi, permasalahan yang dihadapi masih bisa di-manage. ’’PLN kala itu mengantisipasi putusnya gas dengan meminjam genset ke Singapura dan mencari alternatif penyiapan energi. Tapi sekarang kan itu tidak dilakukan PLN,’’ imbuh dia. Sehingga PLN terkesan tidak melakukan antisipasi, padahal waktu sebulan sejak pemberitahuan putusnya gas, dirasa masih cukup untuk mengantisipasi terjandinya pemadaman.                 

PLN Menghidar Tanggung Jawab


Terpisah, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio mengatakan, seharusnya PT PLN Batam tidak mengalami krisis listrik akibat perbaikan ladang gas Grissik, 23-25 Mei mendatang. Sebab, PT PLN memiliki alternatif sumber energi selain gas.


”Setahu saya PLN Batam di-design dual-firing. Jika tak ada gas bisa switch ke BBM,” kata Agus saat bertandang ke kantor redaksi Batam Pos, Selasa (19/5) malam.


Selain itu, perbaikan ladang gas di Grissik oleh Conoco Philips itu merupakan aktifitas tahunan. Seharusnya, kata Agus, PLN sudah menyiapkan alternatif dan solusi untuk  menghindari pemadaman bergilir. Apalagi, PLN Batam statusnya merupakan perusahaan listrik swasta dengan tarif yang cukup mahal.


Mestinya hal ini dibarengi dengan komitmen yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. ”Tapi saya melihat PLN malah cenderung menghindar dari tanggung jawab itu,” kata Agus.


Publik, kata Agus, harus kritis dan mulai ’’mencurigai’’ PLN Batam. Kenapa persoalan seperti itu terus terulang setiap tahunnya. Apakan PLN Batam ada ‘masalah’ dengan Pertamina atau PGN. Kalau memang PLN Batam mengalami kerugian, di mana letak kerugian itu. (why/ros/kom/a)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook