Alpen Steel | Renewable Energy

Krisis listrik mencemaskan

 Ancaman krisis listrik makin nyata di depan mata. Betapa tidak! Setelah sejumlah daerah dilanda byar-pet alias pemadaman listrik secara bergilir, kini giliran kawasan Jabotabek terancam pemadaman bergilir selama dua pekan mendatang, tepatnya pada 11 hingga 25 Juli 2008.

Meskipun baru sebatas rencana, terkuaknya kabar tersebut menimbulkan kecemasan tersendiri bagi pelaku industri. Ini menjadi kisah sedih tambahan, setelah sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan dan Sumatra, telah lama menjadi pelanggan byar-pet listrik sejak beberapa tahun terakhir ini.

Kali ini, menurut keterangan resmi, rencana pemadaman listrik lebih disebabkan oleh perbaikan pipa pasok gas dari lapangan BP West Java. Akibatnya, pasok gas ke pembangkit listrik di Muara Karang dan Tanjung Priok dihentikan sementara.

Namun, lebih dari itu, terdapat soal yang sebenarnya lebih mendasar. Pembangunan proyek listrik pun terhambat dan tersendat. Proyek pembangkit listrik 10.000 MW yang sudah dicanangkan pemerintah juga terkatung-katung.
Masalah yang lebih mendasar adalah adanya ganjalan aktivitas kelistrikan bagi sejumlah produsen listrik independen, di mana dari 155 IPP (Independent Power Producer) di Indonesia saat ini, hanya 15 yang benar-benar melakukan aktivitas kelistrikan. Sisanya, sebanyak 140 IPP, menghadapi masalah keuangan, sehingga tidak melakukannya.

Kondisi tersebut menghambat pembangunan infrastruktur pembangkit yang semula diharapkan dapat menambah pasok listrik ke konsumen. Akibatnya, satu-satunya cara yang ditempuh pemerintah saat ini adalah berhemat. Dampaknya, tentu saja, byar-pet itu tadi.

Andaikan, sekali lagi andaikan saja, sistem pasok daya listrik di Indonesia, khususnya di Jawa-Bali dan Sumatra, memadai tentu gangguan semacam itu tidak perlu menyebabkan pemadaman listrik pada saat-saat tertentu. Apalagi di kawasan strategis seperti Jabotabek.
Pasalnya, kontinuitas pasokan daya listrik di kawasan penting, seperti Jabotabek, bermakna sangat strategis, tidak hanya bagi dukungan aktivitas sehari-hari, tetapi juga untuk kegiatan bisnis, industri, dan persepsi.

Mengapa persepsi menjadi sangat penting? Ya. Persepsi yang kini muncul bahwa pasok listrik di Indonesia sering mengalami byar-pet telah berkembang luas, bahkan di kalangan investor di luar negeri.

Bagaimana investor asing akan lebih berminat investasi manakala pasok listrik serba tidak pasti? Bagaimana industri manufaktur bisa berproduksi secara efisien dengan produktivitas yang tinggi jika sistem kelistrikan kerap mengalami pemadaman?
Bagaimana pula dengan peralatan mesin dan teknologi yang membutuhkan ketersediaan listrik secara stabil dan berkesinambungan?

Sederet pertanyaan tersebut, dengan terpaksa, dijawab melalui biaya yang lebih tinggi. Hal ini karena pelaku industri terpaksa menambah infrastruktur stabilisasi daya listrik agar proses produksi tidak mengalami gangguan manakala terjadi pemadaman.

Bagi pelaku bisnis yang sudah eksis di Indonesia, hal itu barangkali dianggap sebagai nasib buruk. Namun, bagi calon investor tentu akan berpikir ulang untuk menanamkan modalnya, melihat kondisi infrastruktur kelistrikan yang memprihatinkan itu.

Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh menganggap enteng situasi krisis listrik saat ini. Seperti halnya isu bahan bakar minyak, isu listrik membutuhkan penanganan yang lebih serius, kecuali jika pemerintah memang ingin membiarkan sektor industri dan investasi-yang memberi kontribusi besar dalam menyerap pengangguran-di negeri ini makin tidak memiliki masa depan yang lebih pasti.

Bisnis Indonesia,
 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook