Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pemadaman Listrik di Jawa Dan Bali Sering Terjadi

 Pemadaman Listrik di Jawa-Bali Menjadi Menu Harian

PT PLN berjanji tidak akan ada lagi pemadaman listrik bergilir di sistem Jawa-Bali. Janji itu terlontar sebelum memasuki Juni 2008, menyusul adanya gangguan di beberapa pembangkit di Jawa yang menyebabkan pasokan listrik Jawa-Bali mengalami defisit. Saat itu, PLN mengumumkan harus melakukan pemadaman bergilir selama satu pekan, mulai 28 Mei 2008. "Namun, janji tinggal janji.

Pekan lalu, di beberapa wilayah, termasuk di Jakarta dan sekitarnya, pemadaman listrik masih terjadi. Rabu (11/6) pelanggan PLN di sebagian wilayah Jakarta Selatan, Bekasi, dan Depok, Jawa Barat misalnya, harus mengalami pemadaman sejak pukul 09.00 WIB pagi hingga menjelang pukul 18.00 WIB," kata Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, di Jakarta, Selasa (17/6).

Bahkan, pelanggan PLN di Cilandak, Jakarta Selatan harus menahan kesal karena listrik padam sampai 13 jam dalam satu hari. Kondisi serupa berulang pada Kamis (12/6). Pemadaman listrik bergilir di sistem Jawa-Bali bukan baru terjadi kali ini. Memasuki 2008, pertengahan Februari, PLN juga melakukan pemadaman bergilir.

Alasannya, bisa ditebak. Ada gangguan di pembangkit, atau pembangkit terpaksa berhenti operasi karena pasokan bahan bakar tersendat. Pembangkit yang mengalami "masalah" bukan hanya pembangkit yang dioperasikan dengan bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga pembangkit batu bara dan pembang- kit gas.

Direktur PT PLN Jawa- Bali, Murtaqi Syamsuddin mengatakan, kapasitas total seluruh pembangkit listrik di sistem Jawa-Bali bisa mencapai sekitar 20.000 MW. Namun, angka itu sulit dicapai mengingat adanya perawatan rutin yang mengharuskan pembangkit dimatikan atau terjadinya gangguan (kerusakan) di luar perkiraan.

Meski telah ada tambahan pembangkit baru yang berperasi, yakni PTLU Tanjung Jati B, PLTU Cilacap, dan PLTGU Cilegon saat ini kemampuan pasok pembangkit di sistem interkoneksi Jawa-Bali masih seperti daya mampu pasok tahun 2004, sekitar 18.000 MW.

Beban puncak saat ini di system Jawa-Bali, menurut data PT Pembangkitan Jawa-Bali, pada Minggu (14/6) mencapai 14.450 MW. Sejak November 2007, beban puncak tertinggi terealisasi pada 21 November 2007, mencapai 16.251 MW.

Bila seluruh pembangkit bisa beroperasi optimal, perawatan rutin terjadwal dengan baik, dan pasokan bahan bakar ke pembangkit lancar semestinya tidak perlu ada pelanggan PLN yang tidak kebagian listrik.

Sayang, dengan pertumbuhan konsumsi listrik yang rata-rata mencapai di atas 6 persen pada kwartal pertama 2008 atau lebih tinggi dibanding asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008 sebesar 1,9 persen, tambahan pasokan listrik termasuk dari pembangkit baru masih sulit dioptimalkan.

Akibatnya, terjadi ketimpangan yang mencolok antara kemampuan pasok dengan kebutuhan pasokan listrik di Jawa-Bali. Bila ketimpangan semakin parah namun upaya mengatasinya minim, mulai kini pelanggan PLN di Jawa-Bali harus lebih siap menerima pemadaman listrik sebagai menu yang akan tersuguh setiap hari.

Pembenahan

Direktur Utama PT PLN (Persero) Fahmi Mochtar mengatakan tahun 2008 pasokan listrik Jawa-Bali memang terancam mengalami krisis. Pernyataan serupa bahkan telah dilontarkan Fahmi saat ia masih menjabat General Manajer PT PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tengerang.

"Tahun 2008 listrik Jawa-Bali mengalami krisis, karena tidak ada tambahan pembangkit baru. Kondisi 2007 lebih baik karena ada empat pembangkit baru yang bisa beroperasi penuh, meskipun sebenarnya pembangkit itu sudah beroperasi sejak 2006. Kondisi akan membaik lagi pada 2009, dengan catatan pembangkit batu bara 10.000 MW sudah bisa mulai," kata Fahmi.

Empat pembangkit yang diharapkan beroperasi penuh pada 2007 adalah PLTGU Cilegon (720 MW), PLTU Cilacap (2x300 MW), PLTU Tanjung Jati B (2x660 MW), dan PLTP Darajat (110 MW). Sayang, hingga kini PLTGU Cilegon hanya mampu memasok maksimal tidak lebih dari 200 MW.

Begitu pula PLTU Cilacap dan PLTU Tanjung Jati B yang selalu mengalami gangguan bergantian di setiap unit pembangkitnya, akibat kekurangan pasokan batu bara maupun karena kerusakan "kecil".

Meski kini acapkali dilakukan pemadaman bergilir, sistem kelistrikan Jawa-Bali merupakan yang paling andal dibanding wilayah lain di Indonesia, termasuk Sumatera dan Kalimantan yang merupakan lumbung energi. Batu bara dan BBM yang digunakan untuk pembangkit listrik di Jawa-Bali dihasilkan dari perut bumi dua pulau itu.

Ironis, Kalimantan dan Sumatera malah mengalami kekurangan pasokan listrik sehingga harus dilakukan pemadaman listrik saban hari.
Krisis listrik yang tidak hanya terjadi di Jawa-Bali tetapi merata di seluruh Indonesia, menurut pemerhati masalah ketenagalistrikan dari Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, disebabkan lemahnya manajemen perencanaan PT PLN. Perusahaan listrik pelat merah ini, yang mengemban tugas pelayanan publik untuk menerangi Tanah Air, gagal menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

"Pemadaman listrik terjadi berulang kali. Pelanggan diminta menghemat pemakaian untuk menghindari pemadaman. Tetapi, PLN sendiri tidak pernah serius membenahi manajemen perencanaan dan pengelolaan energi," katanya.

Pemerintah juga bertanggung jawab atas terjadinya krisis listrik. "Sebelum ada pembenahan yang menyeluruh di sektor energi, termasuk efisiensi PLN, kita akan sulit terlepas dari ancaman krisis energi," kata Fabby. [SP/Henny A Diana]

Source:Suarapembaruan

Last modified
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook