Alpen Steel | Renewable Energy

~ Sumatera Mengalami Defisit Listrik

Sumatra Defisit Listrik

Jaringan listrik interkoneksi Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Tengah mengalami defisit daya hingga 160 megawatt, Rabu (6/9). Masalah ini muncul akibat produksi delapan pembangkit listrik tenaga air merosot, sedangkan beberapa mesin pembangkit tenaga diesel dan gas yang ada terganggu.

Koordinator Operasi Sistem Interkoneksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Tengah Marna Sumarna mengungkapkan hal tersehut di Palembang, Rabu kemarin.

Kekurangan daya 160 megawatt (MW), katanya, menyebabkan PLN terpaksa melakukan pemerataan. Artinya, daya di Sejumlah daerah dikurangi sehingga di semua daerah itu pun terjadi pemadaman listrik secara bergilir. Di wilayah Sumatera Barat, misalnya,daya dikurangi 30 MW, Riau 30 MW. Jambi 15 MW, Sumatera Selatan dan Bengkulu 30 MW, serta Lampung 55 MW Pemadaman listrik dilakukan Sekitar pukul 18.15 sampai dengan 22.00.

Tiga dari delapan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di wilayah Sumatera saat ini berhenti beroperasi pada siang hari. Hal itu akibat debit air pada waduk atau danau yang memasok kebutuhan PLTA itu terus berkurang. Ketiga PLTA tersebut adalah Batu Tegi dan Besai di Lampung, masing-masing berkapasitas daya pasang 28 MW dan 90 MW, serta PLTA Tes di Bengkulu (17 MW). Saat debit air banyak pada musim hujan, delapan PLTA itu bisa memproduksi 710 MW. Namun, sejak debit air berkurang di musim kemarau ini, produksinya hanya 70 MW pada siang hari dan sekitar 240 WM pada malam hari.

Semakin parah
Masalah kekurangan daya ini menjadi semakin parah karena pada saat bersamaan beberapa mesin pembangkit listrik lainnya tidak bisa beroperasi maksimal. Mesin di beberapa pembangkit listrik itu sering mengalami kerusakan. Misalnya, PLTG Simpang Tiga di Indralaya (yang memiliki daya terpasang 40 MW) dan PLTG Kramasari di Palembang (10 MW). “Karena itu, PLN sulit menghindari pemadaman listrik. Masyarakat diharapkan maklum,” kata Marna.

Secara terpisah, Manajer Umum Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) PT PLN Wilayah Sumatera Kikid Sukantomo mengungkapkan, kekeringan saat ini menyebabkan PLTA di Sumatera hanya bisa memproduksi daya 30 persen dari normal. Kondisi itu diperkirakan benlangsung hingga November, saat hujan turun dan debit air meningkat.

Krisis listrik diperkirakan berkurang setelah PLTU Tarahan, Lampung, yang berkapasitas 100 MW sudah beroperasi pada pertengahan tahun 2007, disusul adanya penambahan daya 100 MW pada akhir tahun 2007.

Dalam kaitan itulah, Manajer Umum PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (PLN S2JB) Dodoh Rahmat berharap masyarakat memaklumi krisis listrik ini. “Kami berharap pelanggan menghemat pemakaian listrik, terutama sekitar pukul 19.00-22.00,” kata Dodoh Rahmat.



Sumber: Kompas
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook