Alpen Steel | Renewable Energy

Kemarau, Dua PLTA Terkendala

Berkurangnya debit air Sungai Tuntang pada musim kemarau ini membuat PLTA Jelok dan Timo di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, hanya mampu mengoperasikan sebagian mesin pembangkitnya. Akibatnya, daya listrik yang dihasilkan dua pembangkit itu tak lebih dan setengah kapasitas optimalnya.
 
Meski demikian, Supervisor Senior Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok Sriyoto, Selasa (1/8), menuturkan, karena pasokan listrik saat ini sudah menggunakan sistem interkoneksi Jawa-Bali, maka di saat daya listrik yang dihasilkan PLTA berkurang, biasanya PLN menutup kekurangan kebutuhan daya listrik dengan mengaktifkan Secara ekstra pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) yang ada di wilayah tersebut.
 
Sriyoto menambahkan, empat mesin pembangkit yang ada di PLTA Jelok masing-masing memiliki kapasitas 5,12 MW. Meki demikian, pada posisi debit air Sungai Tuntang normal, keempat mesin ini jika dioperasikan hanya bisa menghasilkan 15 MW karena saluran pipanya kurang menunjang untuk menghasilkan daya
listrik optimal.
 
“Sejak musim kemarau, tepatnya pertengahan Juli lalu, debit air Sungai Tuntang hanya mencapai 5,85 meter kubik per detik. Padahal, normalnya bisa mencapai 12 meter kubik per detik. Melihat kondisi ini, PLTA Jelok terpaksa menekan penggunaan air dengan hanya mengoperasikan dua mesin pembangkit listriknya sehingga hanya mampu menghasilkan daya listrik 7,5 MW,” kata Sriyoto lagi.
 
Secara terpisah, Supervisor Pemeliharaan PLTA Timo Mahsun mengatakan, tiga mesin pembangkit yang ada di PLTA Timo, masing-masing memiliki kapasitas 4 MW Namun, pada musim kemarau ini debit air Sungai Tuntang yang masuk ke PLTA Timo hanya 8 meter kubik per detik. Akibatnya, PLTA Timo hanya mengoperasikan dua mesin pembangkit,  dengan daya listrik maksimal 7 MW Ia memperkirakan pengoperasian mesin pembangkit akan normal pada November mendatang saat musim kemarau berakhir.
 
Selesal tahun 2007
Berkaitan dengan krisis listrik di Sumatera, PT PLN (Persero) merencanakan pembangunan jaringan interkoneksi wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng), dan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) selesai akhir 2007. Jaringan interkoneksi sepanjang 103 kilometer itu akan menghubungkan Bagan Batu-Kota Pinang-Rantau Prapat.
 
“Dengan demikian, wilayah Sumbagut yang selama ini terpisah dan Sumbagteng-Sumbagsel akan terhubungkan melalui Riau. Sampai saat ini wilayah Sumut, Nanggroe Aceh Darussalam (NAB), Nias, dan Riau merupakan wilayah krisis listrik,” kata Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN (Persero) Herman Darniel Ibrahim dalam Forum Perencanaan Kelistrikan Regional Sumatera, kemarin.
 
Ia mengatakan, jaringan transmisi saluran udara tegangan tinggi 150 KV dengan satu gardu induk di Bagan Batu itu dibangun dengan dana APBN Rp 240 miliar. Pembangunan jaringan dibarengi pula dengan pembangunan 10 PLTU dan PLTGU di wilayah Sumatera dan mengistirahatkan pembangkit-pembangkit listrik yang sudah tua.
Tahun 2006 di Sumut-Aceh, Riau, dan Lampung sudah dibangun pembangkit baru berbahan bakar batu bara atau PLTU. Menurut rencana, tahun 2007 akan masuk dalam jaringan interkoneksi PLTG Gunung Megang yang berkapasitas 80 MW, PLTU Tarahan Baru 100 MW, dan PLTGU Indralaya 40 MW. Pada tahun 2008 akan masuk PLTU Tarahan Baru 100 MW, PLTGU Pekanbaru 150 MW, PLTG Sengeti 28 MW, dan PLTG Muba yang berkapasitas 80 MW.
 
Limbah padat
Dari Pontianak Kalimantan Barat, dilaporkan, PT Perkebunan Nusantara XIII sekarang ini menjajaki pembangunan PLTU untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah padat dan pengolahan kelapa sawit. Diharapkan, pembangkit tersebut dapat membantu mengatasi krisis listrik di daerah tersebut.
 
“Kami mulai menjajaki pembangunan PLTU sebab ada banyak potensi dari limbah padat yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi,” ungkap Presiden Direktur PTPN XIII S Hantoyo di Pontianak, Selasa.
 
PLTA
Beberapa PLTA Menurun
Produksinya akibat Kekeringan
•  PLTA Besai, Lampung:
   Produksinya menurun dari
   kapasitas 90 megawatt (MW) menijadi 53 MW.
•  PLTA Koto Panjang, Riau:
   Produksi menurun dari 114 MW menjadi 60 MW.
•  PLTA Singkarak, Sumatera Barat:
   Produksi menurun dari 172 MW menjadi 70 MW.
•  PLTA Maninjau, Sumbar
   Produksi menurun dari 64 MW menjadi 42 MW.
•  PLTA Musi, Bengkulu:
   Produksi menurun dari 210 MW menjadi 140.MW.
•  PLTA Bakaru sulawesi Selatan:
   Produksi menurun dari 126 MW menjadi 70 MW.
Suinber Litban Kompas

Sumber: kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook