Alpen Steel | Renewable Energy

~ Krisis Listrik di Sulsel Belum Diatasi

BISAKAH KRISIS LISTRIK DI SULSEL TERATASI?

Hari-hari belakangan ini banyak warga Makassar, Sulawesi Selatan, “marah” kepada PLN Sebab, mereka menjadi korban pemadaman listrik secara bergilir terus-menerus. Menjelang Ramadhan saat banyak aktivitas di malam hari-ini, baik warga maupun pemerintah daerah mengingatkan agar pemadamain, sekalipun harus dilangsungkan, jangan dilakukan pada malam hari.

Menurut warga, pemadaman listrik telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Mereka berpendapat, pemadaman bukanlah solusi, mengingat krisis listrik merupakan persoalan kronis yang tak kunjung mendapatkan jalan keluar. Begitu kesalnya warga sehingga Kantor PLN Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara di Jalan Hertasning Makassar pun belakangan ini sering didatangi pengunjuk rasa. Sebagai bentuk protes, para pengunjuk rasa bahkan melempari kantor itu dengan tomat busuk.

Pemerintah maupun PLN dinilai lamban mengatasi krisis listrik yang mendera Sulsel. Dalam beberapa tahun ini pemadaman bergilir di Makassar dan kabupaten lainnya di Sulsel Seakan menjelma menjadi “hantu”, yang datang pada siang maupun malam hari. Setiap saat warga terbayang soal pemadaman bergilir. “Hari ini jam berapa pemadaman? Berapa kali dan berapa lama?” demikian pertanyaan yang acap muncul dari warga.

Pemadaman listrik membuat warga tak bisa lagi mencuci atau mnenyetrika pakaian sesuai “jadwal normal”. Semua pekerjaan yang tergantung listrik terpaksa dikumpulkan pada saat listrik menyala. Warga juga mengeluh, banyak alat-alat listrik mereka yang rusak akibat pemadaman listrik yang berkali-kali. Sehari acap tiga kali pemadaman.
“Ini sudah mengganggu dan merugikan warga. Kalau kekesalan menghadapi pemadaman ini terakumulusi dengan berbagai persoalan lain, dikhawatirkan bisa timbul hal-hal yang negatif,” kata Aswar Hasan, pengajar ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin, yang terganggu atas pemadaman tersebut.

Faktor alam
Walaupun dihujat masyarakat, PLN Unit Bisnis Wilayah Sulselra terkesan hanya bisa menerima nasib. Faktor alam menjadi alasan klasik tentang tak normalnya sistem kelistrikan di Sulsel. PLTA Bakaru yangmenyuplai 25 persen-32 persen energi listrik di Sulsel, nyaris kekeringan air pada musim kemarau ini setiap saat, debit airnya menyusut. Masalah makin parah karena sedimentasi di PLTA itu memprihatinkan. Diperkirakan tumpukan sedimen di Bakaru sudah lebih dari satu juta meter kubik sehingga memengaruhi arus air yang masuk ke turbin.

Awal September ini. debit air PLTA hanya 12 meter kubik per detik. Padahal pada saat normal mampu memasok 126 megawatt (MW) dengan debit air 45 meter kubik per detik. Kondisi saat ini mengakibatkan dua mesin pembangkit tak bisa difungsikan optimal. Pada saat beban puncak, kedua turbin bisa hidup, tetapi hanya beberapa jam.

Ikhsan Asaad, Manajer Area Penyaluran dan Pengatur Beban Sistem Sulselrabar (Sulsel, Sultra, dan Su1bar, PLN Wilayah Sulselra mengatakan, saat satu turbin yang berfungsi, daya yang dihasilkan tinggal 50 MW-70 MW—dan 126 MW saat normal.

Kuota BBM
Sebetulnya PLN Sulselra bisa saja memaksimalkan pembangkit yang menggunakan mesin-mesin berbahan baku solar di PLTU Tello atau PLTD Suppa. Namun, kondisi mesin PLTU sendiri tidak memungkinkan. Apalagi ada pembatasan kuota pembelian bahan bakar minyak.

“Untuk PLN Sulselra, kuota kami sebesar 223.000 kiloliter per tahun. Memang dengan penggunaan solar, untuk setiap kilowatt per hour (kWh) dibutuhkan 0,56 liter, yang kalau dirupiahkan menjadi Rp 2.000 per kwh. ini cukup mahal. Kalau penggunaan solar melebihi kuota, kami kena denda,” ujar Arifuddin Nurdin, General Manajer PLN Wilayah Sulselra.

Menurut Ikhsan, dengan memaksimalkan penggunaan pembangkit yang menggunakan solar, pemakajan solar bertambab 20 persen-30 persen dari jumlah kuota. Kalau saat normal kebutuhan solar hanya sekitar 100 kiloliter-200 kiloliter per hari, dengan memaksimalkan pembangkit kebutuhan solar meningkat menjadi 600 kiloliter per hari. Untuk penambahan pemakaian solar ini saja, PLN harus mengeluarkan anggaran Rp 4 miliar-Rp 5 miliar per hari.

Pembangkit baru
Saat ini dari kapasitas terpasang sebesar 575 MW, PLN Sulselra hanya punya daya 445 MW. Saat beban puncak daya rata-rata 430 MW-440 MW. Karena itu, menghadapi kondisi sampai kini sistem kelistrikan di Sulsel selain dipasok PLTA Bakaru (kapasitas 126 MW), juga dipasok Pembangkit Listrik Tenaga Diesel PLTD) Suppa (65 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tello (197 MW), PT Energi Sengkang (135 MW), PLTA Bili-bili (20 MW), dan sejumlah pembangkit lainnya yang berkapasitas kecil. Tetapi, sejak beberapa bulan ini pembangkit-pembangkit itu kerap menghadapi sejumlah kendala. Sejak beberapa waktu lalu PLTA Bili-bili juga tak beroperasi maksimal karena sumber air yang ada harus dibagi untuk kepentingan irigasi dan air bersih. Karena itu, PLTA itu rata-rata hanya menyuplai 9 MW (siang) dan 13 MW (malam).

Runyamnya, masalah kelistrikan di Sulselra seakan silih berganti dan terjadi rutin setiap tahun. Tatkala beberapa PLTA didera faktor alam, sejumlah pembangkit lainnya menghadapi masalah lain lagi. Sejak enam bulan terakhir ini PLTD Suppa, PLTG Sengkang (PT Energi Sengkang), dan PLTU Tello tak mampu beroperasi secara optimal karena sejumlah mesinnya mengalami perbaikan berkala. PLTG Sengkang yang mempunyai tiga mesin pembangkit hanya mampu menyuplai 67,5 MW dan daya normal 135 MW. Di PLTU Tello, dan 11 pembangkit yang beroperasi hanya 3 mesin. Sisanya, selain dalam perbaikan juga ada yang rusak. Karena itu, belakangan ini PLTU Tello hanya mampu memasok 70 MW. alam dan mesin-mesin pembangkit yang telah uzur, harapan PLN tak lain adalah pembangunan pembangkit baru yang andal.

Namun, proyek-proyek pembangkit baru itu diprediksi solesai pada tahun 2008-2009. Penjelasan PLN Sulselra di hadapan DPRD Sulsel pada 10 Mei lalu bahkan membuat hati waswas tinggal di Sulsel. Sebab, pemadaman bergilir diperkirakan akan terus berlangsung di Makassar dan wilayah lainnya di Sulsel hingga tahun 2007.

Memang saat ini ada tambahan daya dari PLTU Jeneponto (2 x 100 MW), PLTU Kassa (2 x 20 MW), PLTU Bosowa (2 x 100 MW), PLTG Sengkang, PLTA Poso (120 MW), dan lainnya, di samping pemerintah pusat berjanji akan menyiapkan tambahan daya 10.000 MW. Tetapi, apakah dengan pembangkit baru krisis listrik di Sulsel akan teratasi? Pasalnya, daya pembangkit baru sudah ditunggu puluhan ribu pelanggan baru. Runyamnya, bila pengelolaan sistem pembangkit tidak dilakukan ketat seperti kasus tumpukan sedimentasi di Bakaru yang lamban ditangani, bukan tak mungkin krisis listrik di Sulsel ibarat ulangan tahunan.

KOMPAS,Makassar
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook