Alpen Steel | Renewable Energy

~ Upaya Menangani Pemadaman Listrik


Terang Terus ala Sugiek Sajagi

Jakarta dan sekitarnya baru satu-dua hari merasakan pemadaman listrik. Tetapi, daerah-daerah lain sudah lama merasakan hal itu. Bahkan, pemadaman listrik itu telah membuat frustrasi warga Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pasalnya, keadaan itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan belum bisa diselesaikan.

Sebagian warga bosan karena barang-barang elektronik rusak, atau mereka mesti bolak-balik beli solar untuk menghidupkan generator set. Sugiek Sajagi pun gelisah karena krisis listrik yang tak kunjung teratasi. Menunggu perbaikan dari pemerintah dianggapnya cuma membuang waktu. Dia lalu bereksperimen dan berhasil membuat kincir angin untuk membangkitkan listrik.

Kincir yang mirip baling-baling pesawat itu bukan dibuat di laboratorium dengan peralatan canggih. Dia membuatnya di bengkel kerja yang sekaligus menjadi rumahnya. Dalam bangunan berdinding kayu itu, televisi, radio, dan sirkuit elektronik menumpuk.

”Sudah lama saya menjadi tukang memperbaiki barang elektronik,” kata Sugiek, pria yang meraih juara ketiga pada Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional IX 2007 itu

Inspirasi Sugiek membuat kincir berawal dua tahun lalu. Suatu malam mantan kru kapal laut ini menggenjot sepeda yang lampunya menyala. Dia tahu tenaga (listrik) untuk menyalakan lampu itu berasal dari putaran dinamo akibat kayuhan kaki.

”Kalau begitu, selama ada dinamo dan pemutar, listrik bisa dihasilkan,” ujar Sugiek.

Lelaki ini pun bereksperimen dan lahirlah ide membuat pembangkit listrik yang digerakkan hewan. Sugiek memang memelihara beberapa kambing untuk dijual.

Percobaan yang dilakukannya berhasil meski daya listrik yang dihasilkan kecil. Lagi pula, percobaan dengan menggunakan kambing dirasakannya tak manusiawi. ”Kambing saya jadi enggak bisa jalan lurus, cuma muter-muter terus,” katanya.

Sugiek kembali memutar otak dan lahirlah ide membuat kincir angin. Dia terinspirasi gambar kincir angin di Belanda dan baling-baling pesawat. Kincir dan baling-baling ketika berputar akan menghasilkan energi gerak. Energi itu bisa digunakan memutar generator listrik.

Ide itu direalisasikan dengan eksperimen swadaya. Sugiek membeli dinamo yang mampu berputar 1.500 kali per menit (rpm), baterai (aki) untuk menampung daya listrik, roda pemutar, potongan fiberglass untuk membuat kincir atau baling-baling, dan kabel.

Hasilnya, pada putaran ke-750 dinamo menghasilkan energi yang dapat diserap baterai. Dalam dua jam baterai penuh dan menghasilkan daya listrik 1.500 watt. Daya itu cukup untuk menyalakan televisi, kulkas, mesin cuci, komputer, dan kipas angin sekaligus selama empat jam. Selama kincir berputar, aki otomatis bisa terus menyerap energi

Kreasi Sugiek itu diminati sebagian penduduk Balikpapan. Dalam kurun dua tahun, ia menjual lebih dari 40 kincir kepada penduduk dan beberapa rumah sakit. Keuntungan dari penjualan kincir lalu dia pakai untuk biaya hidup sehari-hari dan bereksperimen lagi.

”Duit saya lebih banyak habis untuk eksperimen bikin benda ini, bikin barang itu, ha-ha-ha,” tutur pria yang menjual kincir anginnya seharga Rp 15 juta-Rp 20 juta per unit, tergantung kemampuan dinamonya itu.

Ia berusaha berpegang pada prinsip bahwa temuan-temuan yang dia hasilkan harus bermanfaat dan mampu menolong warga yang kesulitan.

Selain kincir, ia juga memodifikasi kacamata hitam dari plastik untuk membantu memulihkan penglihatan yang kabur. Dia menembak kacamata itu dengan laser sehingga ada belasan lubang kecil. Selanjutnya, kacamata itu disinari inframerah selama beberapa jam.

”Lubang-lubang dan kandungan inframerah membantu mata bisa melihat dengan lebih enak,” ujar Sugiek. Kacamata hasil modifikasinya itu telah dijual hingga Surabaya (Jawa Timur) dan Semarang (Jawa Tengah).

”Kegilaan” bereksperimen terkait dengan lika-liku hidupnya. Lulus sekolah menengah pertama pada 1958, Sugiek pergi ke Jember, Jatim, dan belajar di Sekolah Teknik Menengah dr Soebandi. Di kota itu ia indekos di rumah Kepala SMA Negeri 3. Dia juga mengajari anak pemilik rumah pelajaran aljabar dan elektronik. Sebagai ”imbalan”, Sugiek boleh belajar di SMA Negeri 3.

Selepas SMA, lelaki yang bisa berbahasa Belanda, Perancis, Inggris, Jerman, Spanyol, dan Jepang ini sempat kembali ke Balikpapan selama setahun. Namun, keinginannya belajar masih menggebu. Sugiek lalu pergi ke Jakarta dan menuntut ilmu di ATN/STTN (kini Institut Sains dan Teknologi Nasional).

”Di STTN saya tidak lulus-lulus, malah berantem sama dosennya,” kenang Sugiek yang suka ”berkeliaran” di Pelabuhan Tanjung Priok dan secara tak sengaja terbawa kapal hingga ke Amerika Serikat.

Selama di kapal ia memperdalam ilmu elektronik dari teknisi kapal. Dia jadi tahu bagaimana cara memperbaiki radio panggil hingga radar. Sesampai di AS, Sugiek ”terdampar” dan tinggal di San Ramon, California, selama lima tahun.

Di Negeri Paman Sam itu, ia sempat bersekolah untuk menambah pengetahuan di bidang teknologi. Ketika kembali ke Indonesia pada 1972, dia semakin tenggelam dengan teknologi. Berbagai pekerjaan sebagai teknisi dijalaninya. Sugiek pernah menjadi teknisi perusahaan minyak dan gas bumi, ”tukang” memperbaiki pesawat terbang, kapal laut, sampai radar.

”Entah mengapa, tetapi saya tetap merasa kurang sreg dengan berbagai pekerjaan itu. Saya memutuskan berhenti ’ikut orang’ tahun 1980,” katanya.

Berbekal tabungan bekerja selama beberapa tahun dan keahlian yang dimilikinya, dia lalu membuka bengkel di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Muara Rapak, Kecamatan Balikpapan Utara, sambil terus bereksperimen menciptakan barang-barang yang bermanfaat.

Selain pembangkit listrik tenaga angin dan kacamata inframerah yang laku di pasaran, Sugiek antara lain juga menciptakan pembangkit listrik tenaga air dan perahu dengan tenaga sinar matahari. Belakangan, dia juga membuat alat pengusir nyamuk, kecoa, dan tikus yang berbentuk seperti ponsel bertenaga listrik. Alat yang terakhir dia ciptakan itu hak ciptanya dia jual kepada sebuah perusahaan Korea.

Adakah semua ciptaannya itu dipatenkan? ”Malas, prosesnya rumit dan lama. Biar saja ditiru orang lain, asalkan bermanfaat buat masyarakat,” jawab Sugiek yang masih berusaha membuat kincir yang berharga lebih terjangkau, sekitar Rp 7 juta.

Sugiek Sajagi
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook