Alpen Steel | Renewable Energy

Angkut Batu Bara atau Alirkan Listrik?

Pada awal tahun 2008, sistem kelistrikan Jawa-Bali terganggu. Dua pembangkit listrik tenaga uap hanya beroperasi 50 persen akibat terhambatnya pengangkutan batu bara melalui jalur laut (Kompas, 3/1/2008). Sebagai solusi manajerial, Dewan Komisaris PLN memberhentikan Direktur Pembangkitan dan Energi Primer yang dianggap bertanggung jawab atas kelalaian dalam manajemen suplai batu bara itu (Antara, 5/1/2008). Sayang, dalam kasus ini solusi manajerial saja sering tidak cukup karena sifatnya jangka pendek dan cenderung berulang tanpa menyelesaikan masalah utama.

Terbukti, ancaman pemadaman listrik secara bergilir di seluruh Jawa-Bali terjadi lagi pada bulan Februari ini saat pasokan batu bara lagi-lagi terhambat setelah kapal-kapal tongkang yang membawa batu bara tidak bisa merapat akibat cuaca buruk dan gelombang laut yang tinggi (Kompas, 20/2/2008). Penyelesaian yang komprehensif memerlukan solusi sistemik karena kebutuhan listrik terus meningkat, dan yang paling menjanjikan adalah dengan mengalirkan listrik, bukan mengangkut batu bara.

Dalam 10-20 tahun ke depan, permintaan listrik dunia diperkirakan berlipat ganda dengan batu bara menyuplai sekitar 40 persen dari keseluruhan pembangkitannya (Agensi Internasional untuk Energi, 2006).

Di Indonesia, permintaan listrik di Pulau Jawa dan Bali meningkat 6,2 persen per tahun sehingga kurang dari lima tahun lagi beban puncak listrik Jawa-Bali akan naik 7.000 megawatt (MW), dari 15.000 menjadi 22.000 MW. Untuk itu, harus dibangun pembangkit listrik baru—sebagian besar masih berbahan bakar batu bara—demi menghindari krisis energi listrik.

Masalahnya, cadangan batu bara umumnya terletak jauh dari pusat beban listrik (kota-kota besar) sehingga suplai energi skala besar jarak jauh tak terelakkan.

Pulau Sumatera memiliki cadangan batu bara yang besar. Muara Enim, Sumatera Selatan, mengandung cadangan batu bara hingga 13,5 miliar ton. Adalah pilihan logis untuk mengeksploitasi batu bara di Sumatera sebagai solusi krisis energi Jawa-Bali.

Ada dua skenario dasar suplai energi batu bara Sumatera-Jawa.

Pertama, mengangkut batu bara atau turunannya (misalnya dalam bentuk gas sintetik) dari lokasi penambangan di Sumatera menggunakan transportasi kereta api, kapal laut, atau pipa (gas sintetik) untuk menyuplai pembangkit listrik di Jawa.

Kedua, membangun pembangkit listrik di lokasi penambangan batu bara di Sumatera, mengalirkan listrik ke Jawa dengan saluran transmisi tegangan tinggi.

Perhitungan penulis dengan kasus hipotetik menunjukkan, mengalirkan 1.000 MW listrik sejauh 1.000 kilometer menggunakan transmisi listrik arus searah (600 kilovolt) adalah pilihan paling ekonomis, dengan biaya pembangkitan listrik di titik beban jatuhnya sebesar 3,5 sen dollar AS. Sebagai pembanding, mengalirkan listrik dengan transmisi arus bolak-balik (750 kV), mengonversi batu bara menjadi gas sintetik, dan mengalirkannya lewat pipa atau mengangkut batu bara dengan kereta api menghasilkan biaya pembangkitan listrik masing-masing 4,5 sen, 4,7 sen, dan 5,2 sen dollar AS.

Keuntungan teknis membangun pembangkit listrik di dekat pusat beban adalah fleksibilitas suplai batu bara. Jika pembangkit listrik dibangun di Jawa, batu bara dapat disuplai tidak hanya dari Sumatera, tetapi juga dari tempat lain, seperti Kalimantan, bahkan dari luar negeri.

Yang perlu diperhitungkan kemudian adalah keandalan dan manajemen suplai saat, misalnya, pengangkutan batu bara melalui jalur laut terhambat cuaca buruk, gelombang laut tinggi, kurangnya kapal pengangkut, atau terbatasnya kapasitas pelabuhan.

Namun, dari sisi ekonomi, suplai energi dengan mengangkut batu bara menggunakan kereta api dan pipa (gas sintetik) masih terbentur biaya investasi yang amat tinggi, baik dalam pembangunan rel kereta api, pipa gas, maupun fasilitas pengonversian batu bara menjadi gas sintetik.

Akibatnya, kedua metode ini hanya ekonomis untuk transfer energi skala raksasa. Lester Lave dan timnya di Universitas Carnegie Mellon, AS, menghitung, membangun jaringan rel kereta api atau pipa gas sintetik baru ekonomis jika energi yang ditransfer di antara dua titik lebih dari 9.000 MW (Environmental Science & Technology, 2005).

Perlu dicatat, dalam perhitungan ini digunakan batu bara jenis sub-bituminous, sedangkan penambangan di Sumatera menghasilkan batu bara jenis lignit yang hanya mengandung kadar energi setengahnya sehingga semakin besar skala energi yang harus ditransfer di antara dua titik sebelum pilihan ”mengangkut batu bara” menjadi ekonomis. Dari aspek lingkungan pun jauh lebih sulit mengatasi polusi langsung, seperti polusi suara atau debu pada penduduk sekitar saat pembangkit listrik dibangun di daerah padat penduduk seperti Jawa.

Sebaliknya, pembangunan transmisi listrik jarak jauh akan menghubungkan dua jaringan listrik Jawa dan Sumatera (interkoneksi) yang meningkatkan keandalan teknis keduanya. Rugi-rugi listrik per kilometer pada transmisi listrik arus searah (2,5 persen per 1.000 km) yang jauh lebih rendah daripada arus bolak-balik (empat persen per 1.000 km) menjadikan transmisi arus searah jauh lebih ekonomis untuk jarak jauh. Dampak polusi langsung pun akan amat berkurang saat pembangkit listrik dibangun jauh dari daerah padat penduduk.

Kebutuhan listrik yang meningkat amat tinggi di Jawa-Bali mungkin menuntut kombinasi solusi dengan sebagian pembangkit listrik tetap dibangun di Jawa dan sebagian lagi di dekat lokasi penambangan batu bara di luar Jawa, dengan segala peluang maupun risikonya dari sisi ekonomi, teknis, lingkungan, bahkan sosial dan politik.

Maka, yang terpenting, solusi harus dipilih dengan menimbang semua aspek (sistemik). Bila perlu, dilakukan penelitian yang teliti dengan melibatkan pihak publik baik dari kalangan akademisi maupun industri hingga keputusan terbaik dapat diambil.

Muhamad Reza ABB Corporate Research, Power Technologies

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook