Alpen Steel | Renewable Energy

Sembilan Propinsi Kesulitan Listrik

 Sembilan provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Bengkulu, dan Lampung, tengah menghadapi krisis listrik yang parah. Sebagian mengalami krisis karena pasokan menurun akibat melonjaknya kebutuhan. Faktor lainnya adalah terjadinya musim kemarau yang menyebabkan debit air di pembangkit listrik tenaga air berkurang.

Masalah listrik di provinsi-provinsi itu bervariasi. Kondisi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara Sulselra kritis akibat debit air di PLTA Bakaru pekan ini kian kecil dan tinggal 12 meter kubik per detik. Normalnya, debit air di Bakaru sebesar 45 meter kubik per detik. Akibatnya, pemadaman, yang tadinya hanya sekali sehari, sejak dua hari ini di beberapa wilayah terjadi lebih dari dua kali dalam waktu 24 jam.

Akibat pemadaman itu, warga Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (13/9), kembali menggelar protes di Kantor PLN Wilayah Sulselra. General Manager PLN Wilayah Sulselra Arifuddin Nurdin yang berdialog dengan pengunjuk rasa mengatakan, kondisi yang ada Sekarang di luar kemampuan PLN. “Kondisi Bakaru sangat kritis. Kami berharap hujan datang pada bulan Ramadhan nanti agar tidak ada pemadaman,” katanya.

Menurut Manajer Area Penyaluran dan Pengatur Beban Sistem Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar Ikhsan Assad, saat ini debit air di PLTA Bakaru kian kecil, yakni tinggal 12 meter kubik per detik. Padahal, Agustus lalu, kendati menurun, debitnya masih berkisar 20 meter kubik per detik. PLN mengurangi pasokan listrik sekitar 30 megawatt pada malam hari dan 14 MW pada siang hari. “Debit air Bakaru kian kecil dan memang sulit memproduksi listrik seperti saat debitnya masih normal. Kami berusaha agar pengurangan pasokan listrik tidak semakin sering dan mengganggu aktivitas warga,” katanya.

Persoalan di Bakaru sebenarnya tidak hanya suplai air yang berkurang, tetapi juga sedimentasi yang tinggi. Saat ini diperkirakan tumpukan sedimen di Bakaru sudah lebih dari 1 juta meter kubik sehingga memengaruhi pemasukan air ke turbin.
Debit waduk atau danau untuk PLTA yang semakin surut pada puncak kemarau ini membuat tiga PLTA di Sumatera Selatan tidak bisa beroperasi siang hari. Akibatnya, jaringan listrik interkoneksi Sumatera bagian selatan dan Sumatera bagian tengah terus mengalami defisit puluhan megawatt sehingga PLN memadamkan listrik di beberapa wilayah.

Koordinator Operasi Sistem Interkoneksi PT PLN Sumtera Bagian Selatan (Sumbagsel) dan Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) Mama Sumarna di Palembang, Rabu, mengungkapkan, defisit jaringan Sumbagsel-Sumbagteng hari itu mencapai 95 MW. Beban puncak kebutuhan daya energi mencapai 1.335 MW dan daya yang mampu dipasok 1.240 MW.

PLN memadamkan beberapa jaringan listrik dengan mempertimbangkan tegangan yang rendah pada sistem jaringan Lampung. Riau mendapatkan pemadaman listrik sebesar 14 MW, Sumbar 22 MW, jaringan Jambi 6 MW, Lampung 50 MW, serta jaringan Sumatera Selatan-Jambi Bengkulu sebanyak 20 MW.

Hingga kini tiga PLTA belum dapat dioperasikan pada siang hari. Ketiganya adalah PLTA Batu Tegi (berkapasitas daya pasang 28 MW), PLTA Besai (90 MW) di Lampung, serta PLTA Tes di Bengkulu (17 MW). Total delapan PLTA yang dimiliki jaringan Sumbagsel-Sumbagteng hanya memproduksi 254 MW atau 34 persen dari daya terpasang 71

General Manager PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (S2JB) Dodoh Rahmat berharap masyarakat dapat membantu meringankan krisis listrik ini dengan menghemat pemakaian pada beban puncak Pukul 19.00-22.00. “Krisis listrik akibat kemarau mungkin akan berlangsung hingga November, saat hujan mulai turun dan debit air di waduk meningkat sehingga cukup untuk memutar turbin pembangkit’ katanya.

Adápun krisis listrik di Sumatera bagian utara baru teratasi tahun 2008, seiring terselesaikannya proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Labuhan Angin di Sibolga dengan kapasitas sebesan 2 x 115 MW. Sebelum proyek selesai, pelanggan listrik di Sumbagut masih akan mengalami pemadaman bergilir setiap hari.

Menurut Deputi Manajer Komunikasi dan Hukum PT PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Marodjahan Batubana, PLN tidak bisa berbuat banyak. Total daya mampu PLN untuk sistem Sumut-Aceh sebesar 925 MW, sedangkan beban puncak di wilayah ini mencapai 1.070 MW. Dalam kondisi normal atau tidak ada perbaikan pembangkit yang ada, Sumut, kata Marodjahan, akan defisit energi listrik 120-150 MW.
Musim kemarau yang memasuki bulan September ini juga menjadikan pasokan listrik PLTA di lingkup PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan atau UBP Mrica Jawa Tengah turun 50 persen. Kapasitas terpasang yang dimiliki UBP Mrica sebesar 308 MW kini hanya mampu memasok kurang dari 150 MW. Operasional turbin hanya berlangsung saat beban puncak pada pukul 17.00-22.00. Siang hari menjadi masa untuk menampung air.

“Jika dibandingkan kebutuhan di Jateng sebesar 2.300 MW, pasokan kami tidak ada artinya,” kata General Manager UBP Mrica Teguh Adi Nuryanto, Rabu.

Apalagi beberapa waduk di bawah UBP Mrica, seperti Waduk Sempor, tidak dibuat semata-mata untuk pembangkit listrik, tetapi juga untuk irigasi. Pasokan listrik yang dihasilkan sangat bengantung pada pola kebutuhan air irigasi. Namun, ketersediaan listrik dipastikan aman karena sumber listrik tidak hanya mengandalkan air, tetapi juga pembangkit listrik tenaga minyak dan batu bara.



Sumber: Kompas
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook