Alpen Steel | Renewable Energy

PLN Siap Beri Kompensasi

PLN sebagai penyedia jasa listrik bertanggung jawab dan bersedia memberikan kompensasi kepada masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemadaman total listrik Jawa-Bali. Namun, untuk bisa mendapatkan itu, konsumen harus melalui prosedur yang sudah ditetapkan.

”Masyarakat termasuk industri, silakan mengajukan kerugian mereka. Untuk itu sudah ada aturannya, silakan ditempuh prosedurnya,” kata Direktur Utama PT PLN Eddie Widiono.

Ia mengatakan, tanggung jawab atas kerugian yang timbul menjadi tanggung jawab penyediaan listrik. ”Termasuk kalau ada yang mau mengajukan gugatan, kami akan hadapi,” ujar Eddie.

Sampai saat ini, PLN masih menghitung berapa besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian ini. Diperkirakan ada 3,2 juta pelanggan yang terkena pemadaman.

Namun, menurut pengamat sistem kelistrikan Nengah Sudja, pertanggungjawaban PLN tak cukup hanya dengan meminta maaf. ”Apalagi dengan kembali mengimbau masyarakat untuk berhemat, itu sama saja membebani masyarakat dua kali,” katanya.

Pengalaman menunjukkan, pengajuan ganti rugi oleh masyarakat selalu sulit dilakukan. ”Jangan keliru, dengan penyebab kerusakan sistem yang belum jelas. Bisa saja nanti PLN beralasan penyebab kerusakan adalah akibat kerusakan alam atau force majeur. Terhadap kerusakan ini, masyarakat tidak bisa menuntut ganti rugi,” kata Nengah.

Oleh sebab itu, menurut Koordinator Working Group on Power Sector Restructuring (WGPSR) Fabby Tumiwa, kasus pemadaman ini indikasi adanya masalah serius di infrastruktur kelistrikan dan salah pengelolaan dalam sektor tenaga listrik oleh PLN dan pemerintah.

Berkenaan dengan itu, WGPSR mendesak pemerintah sebagai penanggung jawab pelayanan listrik menginvestigasi dan mengumumkan hasilnya kepada masyarakat sesingkat mungkin.

Pemadaman yang terjadi merupakan puncak dari serangkaian pemadaman listrik yang terjadi secara beruntun sejak April lalu. Dari informasi yang diterima WGPSR, pemadaman yang terjadi dipicu oleh rusaknya PLTU Suralaya Unit 6 dan 7, yang diikuti dengan turunnya frekuensi pada sistem Jawa dan Bali, yang kemudian memicu lumpuhnya sejumlah pembangkit Paiton 3, Muara Karang, dan Muara Tawar.

Padamnya berbagai pembangkit itu mengakibatkan defisit daya di sistem Jawa-Madura-Bali sebesar 2.800-2.900 megawatt. Kerusakan pada PLTU Suralaya Unit 6 dan 7 adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu tiga bulan terakhi

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia Aziz Pane, pemadaman itu membuat kegiatan produksi terganggu. Bahkan, kegiatan produksi yang berhenti mendadak membuat kualitas beberapa produk industri terancam tak memenuhi standar. Aziz menjelaskan, jika listrik PLN mati, energi listrik dapat dialihkan ke genset. Namun, daya panas dari mesin pemanas bahan baku menjadi tak stabil. ”Ketika dialihkan ke genset, mesin tak otomatis langsung panas dengan suhu tertentu. Akibatnya, kualitas produk menjadi tak memenuhi standar,” katanya.

Bahkan, kata pengusaha produk tatakan kayu untuk kargo (palet) dari PT Karuna Sumber Jaya Budi Santoso, pihaknya baru menginvestasikan mesin pemanas (heat treatment) kemasan kayu untuk memenuhi standar internasional ”Waktu listrik mati, saya harus alihkan ke genset. Masalahnya, ketersediaan solar terbatas. Kalau listrik mati terus dan solar habis, mesin tidak dapat digunakan,” kata Budi. Dampaknya, biaya menjadi lebih tinggi.

Untuk itu, kata Presiden Direktur PT Indonesia Toray Synthetics (PT ITS) Yukihiro Sugimoto, beberapa perusahaan mengantisipasi kondisi tersebut dengan cara mengalihkan energi listrik dari PLN ke pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. ”Kami sudah membuat instalasi pembangkit listrik (boiler turbin generator) sendiri dengan bahan bakar batu bara,” katanya menjelaskan.

Dengan cara itu, selain lebih aman, juga lebih hemat dibandingkan dengan pemakaian solar. Sebagai gambaran, biaya energi listrik dengan batu bara sebesar Rp 47 per mega kalori, biaya energi dengan gas Rp 61 per mega kalori. Biaya energi dengan solar atau minyak bakar Rp 228 per mega kalori. Biaya energi dengan PLN Rp 206 per mega kalori

 pendiri perusahaan minyak Medco Group Arifin Panigoro mengatakan, untuk mengatasi krisis listrik sebaiknya beralih ke sumber energi nonbahan bakar minyak, seperti gas, batubara, dan geotermal.

Faktor penyebab kematian bisa teknikal, bisa juga karena pasokan dan permintaan yang tak seimbang. Sementara cadangan listrik PLN untuk mengantisipasi lonjakan itu sangat marjinal.

Sebelum harga BBM untuk industri dinaikkan, banyak industri di Pulau Jawa yang memiliki pembangkit listrik sendiri. Namun, setelah harga BBM untuk industri naik, para pengusaha beralih ke listrik PLN. Akibatnya, pemakaian listrik pada siang hari meningkat.

”Memang pemerintah berhasil mengampanyekan penghematan energi listrik untuk kalangan rumah tangga pada malam hari. Tetapi, yang tak begitu diantisipasi adalah peralihan penggunaan listrik oleh industri dari semula non-PLN ke listrik PLN,” katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Yanti Sukamdani Hardjoprakoso mengatakan, pemadaman itu jelas membawa citra yang tidak baik. Apalagi padamnya aliran listrik terjadi pada saat jam sibuk.

Yanti, yang juga Wakil Presiden Hotel Sahid Jaya, mengatakan, sebagian besar hotel tentu sudah melengkapi hotelnya masing-masing dengan fasilitas genset. Namun, seberapa besar kemampuan manajemen hotel untuk terus-menerus menyediakan bahan bakarnya. Pemerintah seharusnya membuat perencanaan matang kalau pemadaman memang tidak bisa diatasi lagi. ”Sungguh, kondisi ini sangat memprihatinkan,” katanya.

Source : www.kompas.com

 
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook