Krisis Listrik

Oleh : Muhammad Safrodin*
 
CUACA buruk saat ini telah berimbas pada ketahanan energi dalam negeri.Tak hanya petani yang kebingungan memprediksi iklim sebagaimana yang sering kita saksikan.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun dibuat kelimpungan. Hal itu karena tersendatnya pasokan batu bara dari Kalimantan yang menyuplai PLN.Keterlambatan tersebut diakibatkan ombak laut yang terlalu besar yang memaksa para awak kapal menunda pengiriman.Akibatnya,produksi listrik pun menjadi tidak lancar.

Jawa dan Bali kini terancam defisit listrik berkepanjangan bila tak segera diatasi. Defisit listrik tentu banyak menimbulkan implikasi mengingat listrik merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Kebutuhan akan listrik bisa disejajarkan dengan kebutuhan pokok lain yang tidak mungkin dihilangkan.Dengan berkurangnya pasokan listrik,kegiatan sehari-sehari masyarakat menjadi terganggu.

Beberapa industri kecil maupun perusahaan yang selama ini menggantungkan produksinya pada listrik juga akan mengalami kerugian. Menyikapi hal ini, sebenarnya PLN tidak tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan seperti menambah stok batu bara hingga pemadaman bergilir.

Selain itu,untuk menghemat listrik,PLN mengeluarkan kebijakan insentif-disinsentif yang akan diberlakukan mulai Maret mendatang.Kebijakan ini ternyata banyak menuai kritik, bahkan disinyalir sebagai upaya PLN untuk mengeruk keuntungan. Sejauh ini,upaya PLN dalam mengantisipasi defisit listrik baru bersifat darurat dan sementara.

Langkah strategis guna menambah produksi listrik untuk tahun-tahun mendatang tampaknya belum optimal.Keadaan defisit listrik akan terus berulang jika PLN tidak mempersiapkan jalur alternatif menambah produksi listrik. Dalam proses produksinya, PLN banyak mengAndalkan bahan bakar seperti batu bara dan solar.

Tatkala bahan bakar tersebut mengalami kelangkaan ataupun tersendat dalam distribusi, produksi listrik juga akan ikut terganggu. Belum lagi mahalnya harga minyak dunia menjadikan tarif listrik dalam negeri ikut naik.Dalam hal ini,masyarakatlah yang paling dirugikan. Oleh karenanya, perlu kiranya mengembangkan pembangkit listrik yang murah,aman,dan ramah lingkungan.

Salahsatunya denganmengoptimalkanpotensialamlainseperti panas matahari dan angin untuk dikonversi menjadi energi listrik.Keduanya tidak sulit ditemukan di Indonesia sehingga merupakan prospek yang bagus untuk ditindaklanjuti. Negara maju seperti Jepang sudah lama mengembangkan pembangkit listrik berbasis panas matahari.

Teknologi itu banyak dijumpai pada fasilitas umum seperti lampu merah atau terminal.Banyak pula rumah tangga di sana yang kebutuhan listriknya memanfaatkan teknologi ini. Beda lagi dengan Belanda, negeri yang populer dengan kincir anginnya itu benar-benar sudah mendayagunakan angin untuk listrik.

Kincir-kincir angin raksasa penghasil listrik dapat ditemui di semua tempat. Andaikata teknologi kedua negara itu dikembangkan di Indonesia, barangkali tak akan ada pemadaman bergilir atau kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang meresahkan. Kita hanya perlu niat dan komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

* Mahasiswa KPI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga dan FAI Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

Sumber : Seputar Indonesia.com


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum