Alpen Steel | Renewable Energy

KUPANG, SPIRIT--Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) meminta kepada pemerintah pusat

Krisis listrik di Indonesia diperkirakan baru akan berakhir dua tahun lagi. Oleh karena itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta rakyat berhemat listrik hingga krisis listrik berakhir, yaitu saat pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt selesai pada tahun 2010.

Imbauan itu disampaikan Wapres dalam Dialog Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) yang bertema ”Ketahanan Pangan dan Energi”, Minggu (6/7) di Palembang.

Sebagaimana diberitakan, pada 11-25 Juli 2008 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan melakukan pemadaman listrik secara bergilir sejak pagi hingga pukul 20.00 di Jakarta dan Tangerang sehubungan dengan adanya pemeliharaan rutin dan pemasokan bahan bakar minyak ke dua pembangkit di wilayah ini.

Sebelumnya, baik Wapres maupun PLN menyatakan sistem kelistrikan Jawa-Bali akan terus mengalami krisis sampai pertengahan 2009. Pemadaman tidak bisa dihindari karena kapasitas pembangkit PLN tidak bertambah secara signifikan. Dengan pertumbuhan konsumsi listrik di atas 6 persen, cadangan daya pun terus tergerus.

Rata-rata pertumbuhan pemakaian listrik pada kuartal I-2008 saja, misalnya, mencapai 6,8 persen, sementara target pertumbuhan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008 hanya 1,9 persen. Kondisi kelistrikan baru berangsur membaik setelah beberapa proyek 10.000 megawatt mulai masuk pertengahan 2009.

Di hadapan anggota Hipmi, kemarin, Wapres menegaskan, kebutuhan listrik tidak bisa dipenuhi dengan cepat. Butuh waktu 3,5 tahun untuk membangun pembangkit. Padahal, sejak krisis melanda Indonesia 10 tahun lalu, baru tahun 2005 terpikirkan untuk membangun pembangkit 10.000 MW.

”Kita kesulitan listrik bukan karena listrik yang berkurang, tapi karena ekonomi berkembang sehingga permintaan listrik meningkat. Listrik mati bukan berarti kesulitan, tetapi tanda kemajuan,” katanya.

Wapres mengingatkan, krisis listrik bisa kembali menghantui Indonesia pada tahun 2011 jika pemerintah tidak membangun pembangkit lagi sejak saat ini.

Ketua Panitia Dialog Nasional Hipmi Erwin Aksa menegaskan, kalangan pengusaha muda anggota Hipmi akan membantu pemerintah mengatur pemakaian listrik untuk mengurangi beban listrik.

Penghematan listrik, lanjut Wapres, dapat dilakukan antara lain jika menggunakan AC, suhu maksimal cukup 25 derajat, dan pukul 17.00 AC dimatikan. Jam operasi mal dan industri diatur.

Salah satu proyek pembangkit 10.000 MW, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap Sumatera Utara, akan selesai dibangun tahun 2010. Sebelumnya ditargetkan mulai beroperasi 2009.

”Pembebasan lahannya sudah diselesaikan. Saat ini sudah mulai dikerjakan pembangunan pembangkitnya,” ujar Deputi Manajer Komunikasi PT Perusahaan Listrik Negara Wilayah Sumatera Utara Riadir Sigalingging.

Tekanan berat

Krisis listrik yang terjadi membuat beban industri kecil dan menengah semakin berat. Oleh karena itu, menurut Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia M Chatib Basri, PLN perlu memberikan diskon tarif di luar waktu beban puncak untuk menolong kegiatan produksi, khususnya bagi industri kecil dan menengah (IKM). ”Selama ini PLN mengenakan tambahan biaya bagi industri saat beban puncak. Seharusnya PLN juga tidak rugi kalau memberi diskon tarif di luar beban puncak, semisal pukul 24.00-06.00, bagi kegiatan produksi industri,” ujar Chatib.

Selain itu, kata Chatib, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 yang mengatur pemberian insentif pajak kepada perusahaan yang melakukan ekspansi usaha juga diterapkan untuk investasi berupa pembangunan pembangkit listrik sendiri. Namun, belum tampak antusiasme pelaku usaha terhadap PP No 1/2007. ”Mungkin pengusaha tidak antusias karena walaupun sudah ada aturannya, kenyataannya masih terlalu sulit mendapat fasilitas itu,” ujar Chatib.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, perusahaan yang sudah memiliki pembangkit sendiri pun masih dibayangi kesulitan batu bara yang paling banyak dipakai untuk pembangkit industri. Hal itu antara lain diakibatkan izin berbelit, termasuk dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, untuk menyimpan stok batu bara dalam jumlah tertentu.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia memperhitungkan, kebutuhan listrik untuk proses produksi industri tekstil dan produk tekstil sekitar 1.000 MW. Kebutuhan listrik yang bisa dipasok pembangkit listrik milik industri TPT baru sekitar 20 persen, 80 persen lainnya bergantung pada PLN.

Kesulitan menjaga kontinuitas pasokan batu bara tak hanya dirasakan industri, tetapi juga PLN. Ini terkait melonjaknya harga batu bara di pasar internasional hingga 190 dollar AS per ton. Produsen batu bara lebih suka mengekspornya daripada memasok kebutuhan dalam negeri.

”Perlu affirmative policy (kebijakan yang memihak) dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Tata niaga batu bara Indonesia sudah terlalu terbuka,” ujar Wakil Direktur PT PLN Rudiantara. (WAD/BOY/BIL/OIN/DAY)

Oleh Misbahul Huda
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook