Alpen Steel | Renewable Energy

~ Indonesia Masih Pinjam Listrik Tetangga

Listrik Jiran Rentan Konflik

PONTIANAK – Energi yang dibeli PT PLN Wilayah Kalbar dari perusahaan Malaysia untuk penyediaan listrik perbatasan dinilai bukan solusi tepat untuk jangka panjang. Sebagai negara besar, Indonesia tidak layak menggantungkan pasok energi dari jiran.

“Untuk jangka pendek ini bisa dikatakan sebagai jalan keluar sementara yang cepat. Namun tidak strategis untuk jangka panjang,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak Andreas Acui Simanjaya kepada Equator, Sabtu (7/1).

Masih ingat ancaman Malaysia menghentikan pasok air ke Singapura saat mereka berselisih paham? Dengan Indonesia, kata Acui, Malaysia masih menyimpan banyak sumber sengketa, mulai dari batas negara sampai klaim soal budaya.

Acui menganggap tidak pantas negara sebesar Indonesia menggantungkan pasokan energi dari negara lain sementara sumbernya berlimpah di dalam negeri. “Kalau Malaysia mampu jual listrik kepada kita dengan harga yang efisien, kenapa PLN kita tidak mampu memproduksi dengan harga yang efisien,” ujar dia.

Pada dasarnya, lanjut Acui, haram hukumnya Indonesia membangun ketergantungan dengan negara lain soal proyek vital. Misalnya soal pasokan energi, suatu saat kebijakan ini akan jadi bumerang dan bisa berakibat fatal.

Lalu bagaimana dengan potensi SDA yang ada, apakah belum bisa diolah untuk mengatasi keterbatasan energi listrik? Masalahnya, kata dia, persoalan yang membelit negeri tercinta ini semuanya merupakan akibat dari praktik korupsi yang sudah sejak lama jadi penyakit sehingga melahirkan masalah-masalah serius dalam negeri.

Acui melanjutkan, mulai dari terjadinya kontrak penjualan gas produk Indonesia jangka panjang untuk negara lain dengan harga murah, sehingga PLN sendiri tidak mendapatkan pasokan cukup. Internal PLN yang tidak profesional akibat praktik KKN yang semuanya terwariskan pada manajemen PLN masa kini.

“Siapa bilang kita tak punya SDA yang cukup untuk menghidupi PLN? Mulai dari BBM, gas, batubara semua kita miliki. Belum lagi jika kita hitung energi dari air terjun, angin, dan gelombang laut serta energi panas bumi. Yang kurang cuma kemauan dan leadership yang baik untuk membenahi kebutuhan energi tanah air tercinta ini,” katanya.

Acui menegaskan, tidak ada pilihan lain, PLN harus mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi listrik dalam negeri. “Ke depan, harusnya kita yang mampu jual listrik ke negara lain. Harus ada prioritas dan perhatian pemerintah untuk membangun sistem penyediaan energi yang cukup dan efisien untuk kebutuhan dalam negeri. Dan kebijakan ini harusnya bersifat jangka panjang dengan perencanaan yang baik, jangan sampai ganti menteri ganti kebijakan,” saran Acui.

Sependapat dengan Acui, Sekretaris Komisi C DPRD Kalbar Andi Aswad SH juga mengingatkan agar pemerintah memikirkan program jangka panjang untuk memenuhi kekurangan energi listrik, khususnya di Kalbar.

“Memang membeli listrik dari Malaysia juga tidak ada salahnya demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik, khususnya untuk daerah terisolasi. Akan tetapi harus dipikirkan juga langkah jangka panjangnya,” saran legislator PBR ini.

Sebelumnya, Daniel S Bangun, General Manajer PLN Wilayah Kalbar, Selasa (3/1) lalu menyatakan sudah ada beberapa daerah di perbatasan Kalbar-Sarawak yang sudah menikmati layanan listrik dari perusahaan asal Malaysia. Daerah itu meliputi Sajingan Kabupaten Sambas dan Badau Kabupaten Kapuas Hulu.

Dijelaskan, pembelian listrik untuk Sajingan 200 KVA (kilovolt-ampere). Sedangkan di Badau sebanyak 400 KVA. Pasokan listrik dari Sarawak untuk kedua daerah itu akan ditingkatkan kapasitasnya. “Untuk Sajingan dari 200 KVA menjadi 1.000 KVA dan Badau dari 400 KVA menjadi 1.000 KVA,” kata dia.

Selain daya listrik, PLN juga akan menambah daerah yang mendapat pasokan listrik dari Sarawak. Rencananya, Entikong, Kabupaten Sanggau juga akan mendapat pasokan 800 KVA dari Tebedu, Sarawak. Sedangkan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, mendapat pasokan 100 KVA dari Serikin.

Untuk skala besar, PLN berencana pula membeli daya listrik antara 50 megawatt (MW) hingga 230 MW. “Ini melalui jaringan interkoneksi 275 kilovolt dari Gardu Induk Mambong dan Gardu Induk Bengkayang,” kata Daniel.

Dia menargetkan rencana-rencana tersebut akan terwujud pada tahun 2014. PLN juga menargetkan hingga tahun 2014 membangun delapan unit pembangkit listrik tenaga uap dengan total kapasitas 272 MW di Kalbar. (equator-news.com)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook