Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bangunan Hijau

 
 

Kompas - (BM Lukita Grahadyarini) Siapa yang tidak betah tinggal dan bekerja di dalam bangunan yang memiliki udara sejuk dan sehat serta hemat air dan listrik?

Di tengah beban tarif listrik dan air yang terus meningkat, polusi udara yang memusingkan, kemacetan lalu lintas yang semakin parah, dan stres tinggi akibat pekerjaan, kenyamanan dalam bertempat tinggal dan bekerja menjadi dambaan.

Tidak mengherankan, kebutuhan pasar untuk mengadopsi bangunan yang sehat dan nyaman kian meningkat. Bahkan, semakin banyak penyewa gedung, khususnya perusahaan asing, yang mensyaratkan gedung berkonsep hijau.

Secara sederhana, konsep hijau dimaknai sebagai pengadopsian sistem yang hemat air dan listrik, penggunaan energi terbarukan, konservasi air, kualitas udara yang baik, hingga pemakaian bahan bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Di sejumlah negara, konsep ini sudah diterapkan. Singapura, misalnya, bahkan sudah lama memiliki Building and Construction Authority (BCA) atau Badan Sertifikasi Gedung yang secara rutin melakukan sertifikasi bangunan hijau untuk gedung-gedung. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, gaung go green dalam industri properti memang boleh dibilang terlambat. Baru beberapa tahun terakhir ini, ekoproperti dikumandangkan oleh beberapa organisasi nirlaba dan diterapkan secara sukarela oleh pengembang.

Pemerintah DKI Jakarta sedikit lebih maju, dengan menyusun peraturan daerah tentang bangunan hijau. Titik berat kriteria bangunan hijau baru antara lain pemanfaatan energi listrik, pemanfaatan dan konservasi air, kualitas udara dan kenyamanan ruangan, penggunaan lahan, serta pengelolaan bangunan masa konstruksi. Pemenuhan aturan itu menjadi syarat dalam penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB).

Meski demikian, sejumlah pengembang dan pengelola bangunan mengaku, tidak mudah menerapkan konsep bangunan hijau. Faktor utamanya adalah mahalnya investasi. Sudah pasti dana yang dikeluarkan melebihi biaya pembangunan proyek biasa.

Asosiasi Manajemen Properti Indonesia menaksir, proyek bangunan hijau akan menambah biaya produksi 5-10 persen. Akan tetapi, proyek hijau itu mendatangkan nilai tambah. Harga sewa bisa naik hingga 6,4 persen, sementara harga jual bisa naik sampai 19,6 persen.

Lantas, apa keuntungan yang didapat bagi konsumen dengan membayar lebih mahal? Biaya energi akan hemat 15-30 persen. Konsep konservasi dan daur ulang akan menekan biaya air menjadi Rp 5.000 per meter kubik, jauh lebih rendah dari biaya air PAM Rp 12.550 per meter kubik.

Dengan segala keuntungan dalam jangka panjang, pengembang dan pengelola gedung seharusnya tidak perlu terlalu risau dengan biaya investasi awal. Namun, upaya nyata pengembang untuk menyelamatkan lingkungan sewajarnya mendapat apresiasi dan dukungan pemerintah melalui insentif.

”Insentif properti hijau berupa kecepatan perizinan sudah cukup mendorong pengembang untuk membangun proyek hijau,” ujar Core Founder Konsil Bangunan Hijau Indonesia (GBCI) Tiyok Prasetyoadi. 
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook