Alpen Steel | Renewable Energy

~ Visi Misi Pengetahuan Dan Teknologi

Iptek, Inovasi, dan Kemajuan

Di hadapan 400-an ilmuwan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (20/1), menyampaikan visi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Paparan Presiden di depan ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dewan Riset Nasional, dan komunitas ilmiah lain adalah paparan yang sudah lama ditunggu. Selama ini pemerintah sering dipandang kurang memberi perhatian memadai terhadap masalah iptek.

Dari paparan tampak, selain memiliki wawasan tentang perkembangan iptek dunia, Presiden memiliki visi tentang iptek yang seharusnya dikuasai bangsa Indonesia dalam upaya penyelesaian masalah yang dihadapinya. Presiden menegaskan, kunci keunggulan Indonesia pada abad ke-21 adalah sains dan teknologi.

Bangsa Indonesia, dengan segala pencapaian yang diraihnya, menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20, harus diakui masih terbelakang dalam bidang iptek. Meski ada 140 juta pengguna telepon seluler, kita tidak menyumbang apa-apa dalam kemajuan teknologi seluler. Sebelum ini, dalam produk otomotif yang digandrungi masyarakat Indonesia juga tak banyak yang berasal dari karya putra bangsa. Merek mobil yang lalu lalang di jalanan masih dari negara lain.

Di luar produk konsumen, kita dihadapkan oleh realitas baru bahwa kita hidup di Cincin Api yang setiap kali harus menghadapi gempa bumi dan letusan gunung api. Kita butuh banyak iptek kebumian. Kita butuh banyak iptek energi, penanggulangan pemanasan global, peningkatan produktivitas pertanian. Selain itu, Presiden juga menyebut perlunya kita menguasai iptek peningkatan industri serta ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Bahkan, teknologi menjemput masa depan—seperti teknologi nano—sempat disinggung.

Berbagai tantangan yang terkait dengan visi di atas, oleh Presiden coba diwujudkan selain oleh semua perangkat yang kini sudah ada, juga akan didorong oleh Komite Inovasi Nasional yang segera dibentuk.

Kita berharap berbagai inisiatif dan program yang sudah diluncurkan bisa mencapai dua sasaran strategis. Pertama, mampu menanggulangi permasalahan bangsa. Kedua, mengangkat bangsa ke kedudukan yang lebih tinggi di dunia, khususnya dalam pencapaian iptek.

Menyangkut inovasi, sesungguhnya dari sisi bakat dan kemampuan kita tidak kekurangan. Kendala yang sejauh ini kita amati adalah justru kurangnya dukungan dari bangsa kita sendiri untuk mengulurkan tangan bagi pengembangan karya inovasi lokal, dan berikutnya, untuk menggunakan karya tersebut. Selain ada unsur politik-ekonomi di sini, alasan lain adalah karena bangsa kita masih banyak memuja merek asing, sampai muncul ungkapan, kalau bisa dibeli, mengapa harus buat sendiri.

Kalau mentalitas di atas tak kita ubah, visi Presiden tidak akan dicapai, demikian pula cita-cita menjadi bangsa maju berdasar iptek. Inovasi pun hanya akan sebatas hobi dan eksperimen. Kita tidak ingin hal itu terjadi.

 ***

Konflik Sektarian Belenggu Nigeria

Nigeria berada di pinggir jurang kehancuran. Konflik sektarian telah lama merobek-robek negeri itu, dan kini meledak lagi.

Catatan sejarah negeri ini membuktikan bahwa konflik sektarian bukan hal baru. Dengan jumlah penduduk lebih dari 154 juta jiwa dan terdiri atas 250 kelompok etnis, Nigeria terbagi menjadi dua: bagian utara sebagian besar Muslim serta bagian selatan Kristen dan animis.

Pada 2001 pecah konflik di kota Jos yang menewaskan 1.000 orang. Sekitar 500 orang tewas akibat bentrok antara Hausas yang Muslim dan Berom yang Kristen di Yelwa pada 2004. Empat tahun kemudian, 2008, pecah konflik sektarian lagi di Jos yang menewaskan 700 orang. Kini, tahun 2010, konflik terjadi lagi di Jos dan paling sedikit 265 orang tewas.

Mengapa konflik sektarian mudah meletus di Nigeria? Apakah karena negeri itu terdiri atas 250 kelompok etnis? Apakah pemisahan yang begitu tajam antarwilayah dua kelompok masyarakat yang berbeda agama? Apakah karena pemerintah lemah? Apakah karena pemimpinnya lemah?

Banyak pertanyaan yang bisa dikemukakan, tetapi sangat tidak mudah untuk menjawabnya. Misalnya, apa yang menjadi penyebab atau pemicu konflik sektarian di kota Jos beberapa hari lalu? Tak seorang pun tahu, atau paling tidak tak seorang pun memiliki jawaban yang pasti.

Ada yang mengatakan, konflik terjadi setelah pertandingan sepak bola. Yang lain mengatakan, orang-orang Kristen diserang orang-orang Muslim ketika tengah di gereja. Yang lain lagi mengatakan, orang-orang Muslim yang tengah memperbaiki rumah yang rusak akibat kerusuhan tahun 2008 diserang oleh orang-orang Kristen.

Akan tetapi, para pemimpin kedua agama menegaskan, konflik yang pecah di Jos bukan berlatarkan agama. Dengan kata lain, ini bukan konflik agama. Konflik terjadi karena kemiskinan.

Nigeria adalah salah satu negara terkaya di Afrika. Akan tetapi, kekayaan dari minyak itu hanya dinikmati kelompok elite saja, dan korupsi merajalela. Sementara sebagian besar rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Bahkan, pemerintah tak mampu memberikan layanan yang paling dasar sekalipun, seperti listrik dan air.

Itulah sebabnya, kerusuhan sangat mudah pecah lantaran kemiskinan, banyak orang menganggur, dan terjadi perebutan penguasaan tanah. Kondisi tersebut diperparah dengan digunakannya agama dalam usahanya mempertahankan hidup dan kekuasaan.

Pemerintah Nigeria tak berdaya karena sudah lebih dari 50 hari presidennya sakit dan tidak mendelegasikan kekuasaanya kepada wakil presiden. Yang dibutuhkan Nigeria sekarang adalah seorang pemimpin yang kuat, yang mampu menyatukan semua rakyatnya tanpa membedakan apa agama dan etnis mereka.

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook