Alpen Steel | Renewable Energy

~ Menguasai Pasar Jepang Dan Perancis Dengan Lampu Etnik

Hampir 10 produk saya diekspor ke Jepang dan Perancis secara rutin, tetapi sekarang ekspor justru nihil. Namun, pasar dalam negeri ternyata potensial,” ujar pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang kini fokus menggarap pasar domestik.

Kegemarannya membuat berbagai kerajinan tangan sejak lulus dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, merupakan cikal bakal dirinya sebagai pengusaha.

Awalnya menjual kepada teman dan ternyata diminati. Akhirnya dia serius menggeluti usaha kerajinan berupa pernak-pernik untuk suvenir pernikahan. Lalu, sejak tahun 1998 fokus membuat lampu etnik karena produk lampu etnik buatan lokal sulit ditemukan di pasaran.

Usaha pembuatan lampu etnik yang awalnya digarap oleh dua perajin kini berkembang menjadi 30 perajin. Bahkan, ketika pesanan meningkat, Liliek terpaksa melimpahkan sebagian pekerjaan kepada perajin di kawasan Banyuwangi, Jawa Timur.

Tidak hanya perajin yang terus bertambah jumlahnya, bahan baku lampu etnik untuk dekorasi taman dan berbagai acara, seperti pernikahan, pertemuan, ulang tahun, restoran, dan kafe, juga terus bergulir.

Ada saatnya pasar menyukai lampu gantung terbuat dari kain organdi, sifon, dan sutra, tetapi pada waktu lain bahan baku dari bambu atau rotan. Bahkan, saat ini yang sedang digandrungi pasar adalah model lampu teplok yang menggunakan listrik.

”Permintaan lampu teplok setelah dimodifikasi memakai energi listrik dan dilukis atau dipercantik menggunakan kain warna-warni terus meningkat. Lampunya saya ambil dari perajin di Banyuwangi. Ya, berbagi rezeki sekaligus membina jaringan sampai ke daerah,” ujarnya.

Bukan untuk rumah

Bagi Liliek, yang juga Ketua Asosiasi Perajin Jawa Timur, pasar lokal justru sangat potensial. Saat pasar lesu, setiap bulan minimal 500 lampu etnik berbagai model diproduksi untuk memenuhi permintaan pengelola katering, kafe, hotel, dan restoran.

Ketika permintaan melonjak, tak kurang 5.000 lampu harus selesai digarap. Tak jarang dalam sebulan ada pesanan mendadak sebanyak 2.000 lampu dengan sedikitnya lima model. Model lampu ada yang diberikan contoh oleh pemberi order, tetapi umumnya menyerahkan sepenuhnya kepada Liliek.

”Lampu etnik kini dibentuk lebih praktis dalam kemasan yang memang bukan untuk konsumsi rumah tangga. Jadi, tidak sulit dalam proses pengiriman. Sampai di alamat tujuan baru dibentuk sesuai dengan modelnya,” kata Liliek.

Konsumen atau pembeli tetap dari produk kerajinan yang sudah digeluti sejak tahun 1999 itu adalah kalangan pengelola katering di Jakarta, Balikpapapan, Yogyakarta, dan Bali.

Ketika berkunjung ke rumahnya di Jalan Pakis Tirtosari, Surabaya, Jawa Timur, yang sekaligus menjadi bengkel kerja, terdapat tumpukan bermacam model lampu etnik yang siap dikirim ke pemesan.

”Pesanan pengelola katering di Jakarta, minggu ini, harus sudah dikirim. Pesanannya banyak dan modelnya juga beragam,” tutur Liliek yang tak terusik dengan serbuan lampu etnik impor dari China.

Menurut dia, barang-barang kerajinan impor begitu banyak di pasar domestik. Saat bersamaan, produk dalam negeri juga berlimpah. ”Salah satu usaha menembus pasar lokal, rajin berpromosi lewat pameran meski pameran itu skalanya sangat kecil,” kata perempuan pengusaha yang terus mengupayakan tempat pameran permanen bagi pelaku UKM di Jawa Timur ini.

Hatinya begitu gusar karena ratusan ribu pelaku usaha kecil, khususnya kerajinan tangan, di Jatim tidak memiliki tempat mempromosikan hasil karya secara rutin.

”Sepantasnya provinsi ini memiliki gedung pameran produk kerajinan sekaligus sebagai tempat wisata,” katanya.

Harga terjangkau

Lampu etnik buatan perajin binaan Liliek yang tersebar di beberapa kecamatan di Surabaya relatif terjangkau. ”Tampilannya harus indah, tetapi harganya terjangkau. Apalagi produk dekorasi harus cepat diganti biar enggak monoton,” ujarnya.

Karena berfungsi sebagai dekorasi, menuntut Liliek untuk terus berinovasi menciptakan model yang beraneka. Paling tidak sekitar 20-30 model diciptakan setiap tahun. ”Kekuatan bisnis lampu etnik pada inovasi menciptakan model, bahan baku, serta warnanya,” kata perempuan yang mematok harga produknya antara Rp 75.000 dan Rp 125.000 per unit.

Seperti di pengujung Desember 2009, Liliek mengeluarkan model lampu seolah-olah menempel di tembok. ”Jangan pernah berhenti berkreasi. Tidak punya ide, berarti perajin tidak ada garapan,” ujarnya.

Apalagi perajin makin cerdas. Mereka tidak cuma menggarap sesuai dengan contoh. Bahkan, ada beberapa perajin yang membuat kreasi sehingga modelnya semakin bagus, termasuk dalam menciptakan degradasi warna menggunakan kain.

”Saya senang kalau perajin juga kreatif. Artinya, bibit menjadi wirausaha itu mulai kelihatan. Bahkan, model yang ditawarkan lebih menarik,” kata perempuan pengusaha yang rutin ikut pameran di luar negeri, terutama di kawasan Eropa.

Dia berharap pasar yang pernah dirintis kembali menggeliat. Apalagi, di pengujung tahun 2009 beberapa calon pembeli dari Belanda mulai meminta contoh produk.

”Tahun 2010, memasuki bulan April, paling tidak harus bisa meluncurkan minimal 20 model lampu etnik. Ide sudah ada, tinggal membuat contoh untuk dipromosikan,” ujarnya.

Liliek memprediksi tahun 2010 merupakan kebangkitan bagi kerajinan lampu etnik, apalagi semakin tumbuhnya kafe-kafe di hampir semua kota besar di Nusantara ini.

”Kekuatan sebuah kafe tak sekadar makanan dan minuman yang disajikan. Dekorasi justru memiliki daya tarik tersendiri sehingga konsumen betah. Kuncinya pada lampu etnik yang dipasang,” ucap Liliek berpromosi.

 

Sumber : Kompas

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook