Alpen Steel | Renewable Energy

~ Dephut Bahas Eksplorasi Panas Bumi

Dephut Kaji Kawasan Lindung

Image

Departemen Kehutanan bersama Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang membahas kemungkinan eksplorasi panas bumi di kawasan hutan lindung. Pembahasan tersebut untuk mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi karena potensi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.

"Hampir 70 persen energi panas bumi di dunia, ada di Indonesia. Potensi yang begitu besar untuk menghasilkan listrik, sementara sekarang Indonesia masih membutuhkan tambahan energi listrik sampai 4.300 megawatt," kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan, Darori, di sela-sela penanaman sejumlah spesies bambu endemik Gunung Slamet, di Taman Hutan Raya Baturraden, lereng Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas, Senin (23/3).

Menurut Darori, eskplorasi panas bumi untuk pembangkit listrik di Indonesia memang cukup dilematis karena umumnya sumber-sumber panas bumi itu berada di kawasan hutan lindung. Karenanya, pemerintah perlu mengkaji sejumlah undang-undang terkait kawasan hutan lindung agar sumber-sumber panas bumi itu dapat dimanfaatkan.

Eksplorasi panas bumi di Garut maupun Dieng, lanjutnya, memang tak menimbulkan masalah, meskipun kedua sumber panas bumi itu juga berada di kawasan lindung. Namun, untuk pemanfaatan seluruh sumber panas bumi di Indonesia, tetap perlu dikaji.

Terlebih, kata Darori, pemanfaatan energi panas bumi itu rencananya akan diserahkan kepada pihak ke tiga karena mengingat dana yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi cukup besar. Contohnya, pembangkit listrik panas bumi di Garut dijalankan oleh Chevron, dan di Dieng dijalankan oleh PT Geodipa Dieng.

"Tetapi sebenarnya, dengan adanya kedua pembangkit listrik itu malah pembalakan hutan secara liar dapat lebih terpantau. Standar keamanan yang dijalankan kedua perusahaan itu cukup ketat," katanya.

Namun, terkait penghijauan di kawasan Dieng, Darori mengakui memang masih dibutuhkan pembahasan yang intensif karena pemanfaatan masyarakat atas dataran tinggi itu sebagai lahan kentang cukup luas. Begitu juga dengan penghijauan di kawasan daerah aliran Sungai Citanduy di Jawa Barat, juga dibutuhkan pembahasan intensif.

"Jelas, Dieng mengalami kerusakan cukup parah akibat pertanian kentang, sedangkan kerusakan di DAS Citanduy menyebabkan Segara Anakan semakin dangkal," katanya.

Kerusakan hutan di Jawa sampai saat ini, lanjutnya, juga sudah menyebabkan munculnya 6.000 titik kawasan rawan banjir dan longsor. "Untuk itu, kami sudah mengajukan dana rehabilitasi hutan di Jawa sebesar Rp 400 miliar, untuk penghijauan dan penataan terasering di lahan hutan," katanya.

sumber : kompas.
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook