Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bekas terjangan Tsunami

DEBUR ombak pecah di bukit granit. Pasir putih basah dipercik riak. Awan putih kemilau perak. Laut biru tenang berbatas langit. Untai karang melindung darat. Anak cemara meliuk diterpa semilir angin basah.? Pantai Aceh ini indah nian, tak terbersit sedikitpun dalam pikiran kalau laut ini, pernah marah.
Aku duduk termenung, memandang ombak berkejar-kejaran di Pantai Lho Nga. Pantai landai ini milik nenek moyangku. Aku pernah ke sini puluhan kali sejak kecil.? Di sini ada kolam yang terlindung karang.? Benteng alam ini memecah ombak besar jauh? di laut dan sisa alunnya berkejar-kejaran masuk ke dalam kolam. Biasanya dua tahun sekali kami pulang kampung dari rantau. Kini, 2 Syawal 1427 H, aku kembali ke kolam itu.? Dan ombak itu, masih tetap di sana seperti sediakala.

Di kolam ini, biasanya kami berenang tanpa membawa pakaian khusus. Laki-laki langsung celup ke pelukan Samudra Hindia dengan celana yang dikenakannya sambil bertelanjang dada. Gadis remaja berenang dengan baju yang sedang dikenakannya. Kadang-kadang blusnya tersingkap dan lekuk tubuhnya tampak nyata dalam bungkus kemeja tipis yang basah. Ibu-ibu duduk di pantai di bawah rindang kelapa dan elusan sepoi angin pantai. Tawa riang kanak-kanak menyambut datangnya gelombang membawa mereka hanyut ke tepian. Selesai berenang, kami mandi seadanya di sumur yang airnya tawar dan sejuk.? Kemudian pulang ke rumah dengan pakaian basah.

Hari pertama Ied 1427 Hijrah lalu terasa ganjil bagiku.? Selain 1 Syawal-nya dua kali, ketika Salat Ied, makmum di sebelahku cuma mengucap ?Allah, Allah, Allah.....? sepanjang waktu. Aku terganggu dengan kenyataan itu.? Saat khatib khutbah, kusentuh lututnya, dan memandang padanya dan dengan bahasa isyarat kutunjuk khatib, agar ia mendengarkan khutbah. Ia berhenti sejenak karena kaget, memandang padaku, kemudian menengadah hampa ke atas. Dan, iapun melanjutkan zikir ?Allah, Alah, Allah?? sampai khatib Salat Ied selesai.? Kusalami ia, dan akupun beranjak pergi sambil berfikir, pesantren mana yang mengajar ini orang jadi begini?

Selesai silaturahmi di rumah ibunda kami pun berziarah ke kuburan ayahanda. Kemudian pergi ke suatu taman bersudut-sudut seperti mengikuti batas bekas pematang sawah. Taman yang luasnya sekitar 600 meter persegi ini dikelilingi tiang-tiang berwarna hijau dengan inkripsi nama-nama Allah. Gundukan tanah di situ masih tampak baru ditanami rumput hijau dan tanaman bunga yang tumbuh subur.? Pintu taman ini terbuat dari plat besi tebal. Dan di beberapa tempat terdapat batu-batu besar di atas onggokan tanah yang sedikit lebih tinggi dari sekitarnya.? Sebuah jalan berpasir kasar putih membelah taman ini dengan tanda-tanda larangan masuk taman tertera jelas..

Kami berhenti di suatu prasasti granit hitam, dan membaca inkripsi yang terpahat sederhana dalam dua bahasa, Arab dan Aceh. Putriku Azizia tiba-tiba bertanya, ?Apa makna bahasa Aceh di atas itu, Pa??

Aku menatap prasasti itu, paham maknanya, namun, dengan air mata berlinang sulit kata keluar dari kerongkonganku. ?

?Coba baca bahasa Arabnya!?? saranku padanya.

Sebagai puteri Aceh yang mengenyam pendidikan madrasah, ia pasti paham makna penggalan ayat Alquran Surat Al-Anbiya Ayat 18, tanpa perlu ada penjelasan sedikitpun.

Pengunjung umumnya tunduk dan bertafakur dengan pikiran masing-masing. Mereka terlihat sebagai keluarga tak lengkap.? Kadang ada nenek-nenek menggandeng cucunya. Ayah dan anak gadisnya. Anak muda bercelana jean sendirian. Mereka, seperti keluarga yang tak lagi utuh. Sesekali, mereka merekahkan kacamata hitamnya dan menghapus air mata haru. Tak ada tawa, tak ada gurau.? Dalam senyum dan derai air mata, mereka berbisik dan berdoa pada mereka yang kini entah di mana. Adakah mereka, orang-orang terkasih itu ada di sini, ataukah di tempat lain, ataukah ditelan marahnya Samudra Hindia? Hanya Allah yang tahu.? Mereka hanya berharap, berdoa, dan meresapi makna Kullu nafsyin zaikatul maut, yang ditorehkan pada granit hitam itu.. ?

?Mama mimpi, kak As berada? di tepi pantai Ulhee Lheu,? kata ibuku di mobil selesai ziarah ke makam pahlawan Banda Aceh. Kemudian beliau cerita kalau di pantai Ulhee Lheu sudah dibuat taman. Beliau mimpi bertemu putri pertamanya di jembatan dekat taman ini. Dalam impian ibu, kakak kandungku itu tersenyum dan memberikan lima butir mangga pada ibuku yang kini telah sepuh.? Mungkinkan mereka ada di sini?? Kami hanya bisa berharap ada orang yang mengurus mereka ketika kami tidak lagi mampu mengurusnya. ?

Hari ini, kami baru tiba, bersama seluruh anak-anak, mengunjungi daerah tempat terakhir keberadaan kakakku yang diketahui orang di pagi Minggu yang cerah itu. Dua belas ribu orang lebih dimakamkan di sini. Tanpa nama, tanpa nisan. Mereka dikebumikan apa adanya dengan cara yang sangat sederhana, dijajarkan berimpit-impit, dan kemudian ditimbun. Kenapa mereka, orang-orang yang kita sayangi yang menghadap Illahi terlebih dahulu? Kenapa bukan kita? Hanya Allah yang tahu.

Kami meneruskan perjalanan menempuh daerah yang dahulu sangat ramai.? Di sekitar jembatan dulu penuh perahu nelayan besar-besar dengan segala atributnya.? Kini hanya hamparan pasir putih sejauh mata memandang.? Dulu, ketika kecil, aku pernah tergulung ombak di pantai ini. Di keremangan fajar, kami pergi ke pantai. Air laut terasa hangat. Kami biasanya menunggu ombak tiba, dan kemudian meluncur bersama ombak ke pantai.? Pagi itu dengan pongahnya kutantang ombak. Namun tiada daya, ombak besar tiba, menggulungku sampai ke tepian pantai. Aku terteguk asinnya air dan tersedak beberapa kali. Namun tak tebersit sedikitpun kala itu kalau laut ini suatu saat akan marah besar.

Kini, bila ke pantai, pikiranku membayangkan tsunami dan muncul senyuman di wajah-wajah yang kini tiada lagi bersamaku. Kampungku rata tanah.? Nenek istri sepupuku memandang air laut hitam dengan dahsyat menghampiri dirinya.? Anaknya lari naik sepeda motor bersama seorang cucunya.? Ia ditinggal di teras rumah memandang dahsyatnya energi gelombang besar memporak porandakan apa saja yang dilaluinya. Ia tidak lari.

?Hanjeut ku jak lee, Neuk,?? katanya yang berarti aku tak lagi mampu berjalan. nak.

Ia duduk di bangku kecil di teras rumahnya bersama seorang cucu lain yang ditinggal lari oleh ibunya. Ia memeluk cucunya yang menangis ketakutan dengan sisa tubuhnya yang renta, berdoa dan menanti takdir menghampirinya. Malaikat maut menatap lurus-lurus tepat ke mata tuanya yang tidak lagi terang.

?Bila kini kita mendengar kisahnya, tentunya ia tidak syahid di pagi yang indah itu. ?Air hanya sampai ke betis nenek, Aak?.? Anak dan cucunya yang lari, menyongsong takdirnya di tepian sawah beberapa kilometer dari sana. Apa yang menyebabkan nenek itu selamat.? Doanyakah? Atau daftar nama malaikat maut belum sampai padanya.? Allah Maha Mengetahui.? Ketika nyawa setiap insan disampaikan pada janin dalam kandungan ibu, di Lauhul Makhfuz telah tertera jalan hidupnya.? Kita, setiap insan, yang berusaha mencari takdir kita sendiri.

? Aku ingat teman lamaku yang baru bertemu kembali beberapa bulan lalu tanpa sengaja di rumah wali kota.? Ia kini menjadi pejabat di kotanya. Dua minggu kemudian aku kembali ke Aceh dan berjalan bersamanya. Ia menyetir mobil menembus keramaian jalan kota. Kami pun ngobrol tentang riwayat masing-masing sejak tidak bertemu lebih seperempat abad lamanya. Ia begitu ceria dan bangga menceritakan anak-anaknya.

? Tak ada sedikitpun syakwasangka bagiku tsunami merenggut sebahagian besar apa yang dicintainya. Sampai ketika ia bercerita sendiri, ?Saya kehilangan dua anak tercinta, istri, nenek dan beberapa lainnya,? katanya lirih.? ?

Saya tak pernah berani bertanya soal tsunami pada anak jati Aceh, karena tak ingin membuka luka hati.? Dalam obrolan sebelumnya berjam-jam dalam mobil, tak terbersit sedikitpun padaku kepedihan dalam suaranya. ?

?Kami 11 orang bergulung-gulung dalam mobil diterjang tsunami,? sambungnya. Dan akupun menyadari kesalahanku.

Dalam iringan la ilaha illallah, putri bungsunya menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya beberapa jam setelah tsunami. Putri bungsunya seperti menunggu ia kembali dari mencari seteguk air, sebelum menyusul ibu dan saudara kandung serta ratusan ribu syuhada lainnya kembali ke pangkuan Illahi pada pagi Minggu yang cerah itu. Sungguh, tak tepermanai beban lahir dan batin mereka yang ditinggal segalanya sekaligus. Hanya mereka yang kuat saja yang mampu menahan cobaan dahsyat yang diberikan Allah kepada mereka.

Aku tak berani membayangkan suasana hati mereka saat gelombang dahsyat menerjang apa saja yang dilaluinya.? Di bibir pantai Lho Nga, tinggi gelombang lebih dari 30 meter. Garis batas air masih tampak nyata di granit yang bersih diterpa dahsyatnya energi tsunami. Air bah melepas energi pada apa saja yang menghadang jalan yang dilaluinya. Tak ada tanaman tersisa pada tebing terjal yang selama ini tertutup pepohonan.? Pantai tampak dari ujung ke ujung. Granit tersebut kini telanjang menerima gelombang pantai, namun ia tetap tegar menantang alam.


Kami terus bercerita mengenai pengalaman masing-masing.

?Anaku sering memberikan pertanyaan aneh,? katanya sambil menyetir perlahan mobil double cabin-nya.

Ia tanya kenapa Tuhan begitu jahat kepadanya. Anak usia lima tahun ini masih belum mampu mencerna takdir Illahi. Belum hilang dalam ingatan si kecil bagaimana mobilnya berguling-guling tanpa daya diterjang air bah maha dahsyat. Jerit tangis dan doa serta panggilan Illahiah bersatu dalam mobil yang sempit. Seluruh keluarga berada dalam mobil ini yang mencoba menghindar dari terjangan air bah.? Masih terngiang dalam relung hatinya suara ibu yang melindunginya dalam pelukan erat kasih sayang sampai nafas terakhir. Luka hati yang sangat dalam dan sukar untuk dipahami oleh mereka yang tidak pernah merasakannya.

?Ibu dan kakak orang yang sangat baik, Nak,? jelas sang ayah pada putranya. Tuhan berlaku adil pada semua makhluk. Air bah hanya mengambil hak lalunya yang direnggut kehidupan modern. Manusia kini merusak habitat bakau dan menimbun rawa untuk plaza dan graha. Dan air hanya mengambil hak turun temurunnya untuk lalu di tempat yang rendah sesuai fitrahnya. Air itu pernah lalu dibekas rawa itu, dan mungkin kelak akan kembali lalu ke situ pada waktunya nanti. Air tidak membedakan antara manusia baik dan manusia buruk. Ia cuma lalu dan menerjang apa saja yang menjadi penghalang haknya.

Bukankah hutan rumbia itu batas laut dan darat. Bukankah kampung itu dibangun di sawah dekat batas air. Manusia sering lupa pada hak alam.? Ketika rimba ditebang, air bah pun tiba.? Dan manusia menyalahkan alam atas kelalaiannya..? Alam ini diciptakan Tuhan dengan seimbang. Namun, peringatan alam sering diabaikan oleh manusia demi ketamakan dan keserakahan.
Laut Ini Pernah Marah
 
Mobil kami terus melaju melewati bekas terjangan tsunami yang masih melekat erat pada berbagai tempat yang dilalui. Derap rehabilitasi dan rekonstruksi pada berbagai tempat di Banda Aceh tampak mengotorkan jalan-jalan. Hujan lebat seharian menimbulkan banjir di jalan-jalan kota tua ini.? Saluran air mampat belum sempat diperbaiki pemerintah sekalipun bencana hampir dua tahun berlalu. Dan air hanya mencari tempat rendah, seperti galibnya. Ia akan mencari tempat dengan energi potensial minimal, ia tak akan mampu memanjat trotoar menuju parit.? Ia ditakdirkan mengalir ke tempat rendah sesuai hukum gravitasi. Dan itu ketentuan Allah.

?Anakku masuk SD sekarang,? sambungnya penuh keceriaan. Ia tak mau lagi sekolah di TK.? Dalam usia belia ia masuk SD. Kakaknya yang selamat dari tsunami sudah masuk universitas tahun ini. Tampak kebahagian dalam kepedihan hati yang dalam.? Kami berhenti di kedai mie Aceh. Antrean panjang membuat bualan kami bersambung.? Kini kami bicara soal bisnis, Aceh masa depan.? Lebih setengah jam kami ngobrol, dan azan Maghrib pun terdengar sayup dari Masjid Raya Baiturrahman yang terkenal itu.? Bel HP-nya berdering. Ia menyahutnya. ?Iya Nak, Ayah pulang,? sahutnya penuh kasih sayang pada pangeran kecilnya.

Suara sang putra yang lembut dan bening terdengar jelas.

?Ayah lagi beli mie Razali, Nak,? sambungnya. ?

Aku diam-diam langsung membayar mie itu, sebagai penebus rasa bersalahku. Kami pun melangkah pulang dalam rintik hujan di keremangan Magrib.
?La Tahzan ? jangan bersedih!? kataku dalam hati ketika turun dari mobil melangkah pulang ke rumah.? Tetes hujan yang membasahi bahuku terasa dingin sampai ke sumsum.? Kutatap langit kelabu Aceh dalam peralihan malam yang basah.?? Lampu-lampu di Masjid Raya Baiturrahman, tak mampu menembus derai hujan. Tiada seorang pun tampak di luar, kubuka pintu pagar, melangkah masuk perlahan ke halaman rumah.? Diam-diam, kuhapus air mata hangat yang membasahi kelopak mataku.? Bagi sebagian putra Aceh, judul buku populer yang penuh hikmah kehidupan itu, terasa pahit.
Tuhan, ampuni kami yang lalai pada-Mu.***

Banda Aceh, 2 Syawal 1427 H
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook