Alpen Steel | Renewable Energy

~ Krisis Ekonomi Global Pengaruhi Kegiatan Jurnalistik Di Asia

Krisis Global Pengaruhi Kegiatan Media di Asia

Krisis ekonomi global yang kini melanda dunia juga memberikan pengaruh terhadap kegiatan jurnalistik di kawasan Asia, sementara media massa saat ini juga menghadapi tantangan serius antara membangun kebebasan pers dan memenuhi tanggungjawab kepada demokrasi.

Demikian dialog yang terungkap dalam Asian Jurnalistik Simposium yang melibatkan para wartawan Asia dan pakar media Jepang di kampus United Nation University di Tokyo, Rabu.

Empat wartawan dari Asia, termasuk dari Indonesia, menjadi panelis dari forum yang dihadiri sekitar seratus orang yang terdiri atas kalangan wartawan dalam dan luar Jepang, para pakar media, sejumlah diplomat asing di Tokyo dan kalangan pemerintahan Jepang.

Masing-masing panelis adalah Myrna Ratna Maulidina Editor politik harian Kompas, Akiro Fujino Senior Editor harian Jepang Yomiuri Shimbun, Unni Rajen Shanker Executive Editor The Indian Express dari India, serta Yeon Ho Oh pendiri situs online Ohmynews.com dari Korsel.

Dalam simposium bertema "Development of Fundamental Values and Jurnalism - Past, Present, and Future, Achievement and Prospect of the Media", pakar media dari Dokkyo University Profesor Isami Takeda mengemukakan saat ini terjadi kecenderungan yang semakin kuat media-media di Asia untuk bekerja sama.

"Jaringan pemberitaan seperti Asia News Network (ANN) dan juga AsiaViews yang merupakan kerja sama harian dan majalah mingguan menjadi kecenderungan dan nampaknya menjadi alternatif mengatasi semakin menurunnya media cetak," kata Takeda.

Lebih jauh Takeda menekankan tantangan yang dihadapi media saat ini ketika media baru seperti internet semakin menguat, yaitu antara mempertahankan kebebasan pers dan tanggungjawab yang diembannya.

"Fungsi pers untuk melakukan `check and balance` menjadi semakin penting di era online ini, khususnya untuk menjaga kredibilitas dari media tersebut," kata Takeda yang menceritakan terjadinya persaingan kuat antara media online dan media televisi dewasa ini.

Simposium sehari itu menampilkan tiga sesi diskusi yaitu mengenai peran jurnalisme dan demokratisasi, pengaruh ekonomi dan jurnalisme, serta media digital dan jurnalisme.

Tiga panelis Myrna Ratna (Kompas), Unni Rajen Shanker (The Indian Express) dan Yeon Ho Oh (Ohmynews.com) menceritakan bahwa saat ini peranan media menjadi sangat penting dalam mendorong demokratisasi di Asia, seperti yang terjadi di Indonesia, Korsel dan India.

"Momentum kebebasan pers Indonesia berawal dari tahun 1998 saat terjadinya era reformasi. Sejak itulah media ikut berperan besar dalam menumbuhkan iklim demokrasi," kata Myrna yang bergabung dengan Kompas 20 tahun lalu.

Hal senada juga dikemukakan dua panelis lainnya bahwa terjadi pergeseran ke arah kebebasan pers yang lebih "merdeka" ketimbang sebelumnya yang selalu dikontrol oleh militer atau pun kekuatan politik dominan.

"Yang jelas kebebasan pers di Asia bukan diperoleh dengan gratis tetapi dengan perjuangan berat," kata Myrna lagi.

Panelis dari Jepang, Akiro Fujino lebih banyak menceritakan perbedaan yang mendasar antara fundamental pers di Jepang dan China. Jepang lebih menganut kebebasan pers seperti di Amerika Serikat, sementara di China terjadi hambatan dalam kebebasan persnya.

Bagi Unni Shanker, kebebaan pers di masyarakat yang menganut demokrasi mutlak untuk memberdayakan masyarakatnya dan memberikan akses yang luas kepada publik untuk memperoleh pencerahan.

Krisis Pengaruhi media

Dalam sesi lainnya muncul persoalan mengenai pengaruh dari krisis ekonomi global terhadap kinerja pers di kawasan Asia. Para panelis memiliki pandangan yang seragam bahwa terjadi pengaruh yang sangat jelas, sehingga perlu dicari cara untuk mengatasi persoalan serius tersebut.

"Pengaruhnya jelas sekali. Berkurangnya pemasang iklan berarti memaksa media mengurangi `kecepatan` dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Hal itu terlihat dari pengurangan jumlah halaman dari media cetak," kata Akiro Fujino senior editor Yomiuri Shimbun.

Sementara itu, Yeon Ho Oh mengatakan kerisauannya bahwa media yang mengindustri dan bergantung pada iklan membuat iklim kebebabsan pers menjadi berbahaya.

"Media menjadi kompromistis terhadap kepentingan pasar. Memelihara idealisme pers saat ini memang tidak mudah, namun bagaimanapun juga harus tetap diperjuangkan," kata Yeon Ho Oh.

Lebih jauh juga dibicarakan mengenai peran media dalam mempromosikan isu-isu global seperti bencana alam, pemanasan global, serta penanganan Korupsi.

Umumnya para panelis senada bahwa media memberi tempat walau masih kalah dengan isu-isu ekonomi. Sedangkan dalam pemberitaan korupsi juga lebih leluasa walau media diharuskan lebih akurat dan komprehensif jika tidak mau berurusan dengan hukum. ant/pur

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook