Alpen Steel | Renewable Energy

~ Don't Look Back, Beragam Cara Pandang

Don’t Look Back, Refleksi Keberanian.

Beragam cara pandang untuk menginterpretasi sebuah kata atau pun kalimat. Seperti itu pula don’t look back! Ada yang menafsirkannya secara positif, tapi juga tidak sedikit yang negatif dan cenderung berbau provokatif.Kalimat don’t look back telah menjadi judul film, lagu, hingga novel.

Setidaknya, don’t look back dipopulerkan sebagai lagu yang sempat hits tahun 1965 oleh The Temptin’ Temptations. Dua tahun berikutnya, 1967, perjalanan konser Bob Dylon yang dijadikan sebagai film dokumenter yang disutradarai DA Pennebaker, berlabel Don’t Look Back. Dan, judul ini pula yang dipakai Karin Fossum untuk novelnya tahun 1996.

Kalaulah kita menyimak sejarah, maka kita akan menemukan pemaknaan kalimat ini yang penuh pesan moral dan heroik. Tersebutlah Thariq Bin Ziyad yang menjabarkan don’t look back untuk menyemangati pasukannya yang hanya berjumlah 12.000 orang untuk menghadapi pasukan Kerajaan Visigothic, wilayah Andalusia (Spanyol) yang jumlahnya seratus ribu tentara.

Kala tiba di Gibraltar, 29 April 711, panglima perang ini memerintahkan untuk membakar semua kapal yang mereka gunakan sebelumnya. Ia kemudian berbicara di depan pasukannya: “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian.

Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.” Dan ketika prajuritnya tetap ada yang keheranan serta bertanya bagaimana caranya kelak kembali, ia berujar, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan,menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua sahid.”

Semangat juang itu berhasil. Pasukan Thariq Bin Ziyad meraih kemenangan yang ditandai dengan terbunuhnya Raja Roderich, 19 Juli 711, dalam pertempuran di Guadalete.

Don’t look back! Makna itu juga digunakan jauh sebelumnya oleh panglima perang Xiang Yu di akhir zaman Dinasti Qin. Saat itu, sekitar tahun 201 Sebelum Masehi, setelah menyeberangi Sungai Zhang, Xiang Yu memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kapal-kapal mereka dan menenggelamkannya ke dasar sungai. Ia juga merusak semua periuk untuk memasak dan membakar tenda tempat mereka menginap.

Di depan pasukannya yang hanya diberi bekal makanan yang cukup untuk tiga hari saja itu, Xiang Yu berkata lantang: “Sekarang tidak ada lagi jalan mundur, yang ada hanyalah berperang dan menang atau mati sia-sia. Saya selalu memilih jalan seorang pemenang dan saya harap kalian juga!” Pasukan Xiang Yu akhirnya menang.

Perantau Bugis-Makassar sejak lama menjabarkan makna don’t look back. Seperti pernah dikatakan penyair Aspar Paturusi ketika tiba di Jakarta untuk merantau bahwa “perahu sudah dihancurkan, pantang kembali sebelum sukses!”

Don’t look back! Memaknai kalimat ini, berarti berani! Sementara keberanian hanya ada kalau seseorang punya cita-cita. Cita-cita itu hanya muncul jika di hati kita hadir, baik itu keberanian dari landasan dogmatis keagamaan, kebenaran dari pendekatan filosofis, maupun kebenaran yuridis dan kultural yang membawa manfaat.

Don’t lock back adalah agenda perubahan. Di mana mereka yang mau berubah itu siap menghadapi tantangan, bagaikan pasukan yang harus melawan di medan perang yang tidak boleh mundur dan takut menghadapi musuh-musuhnya. Dan kata hanya ada, yaitu rebut. Taklukkan dan menangkan peperangan.

Namun, di era kini, kita tidak lagi berada pada masa Xiang Yu maupun Thariq Bin Ziyad. Musuh kita bukanlah orang atau golongan. Yang ada dan yang menjadi musuh bersama adalah kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.
Sebagai agenda perubahan, don’t look back mengajari kita pada pernyataan filsuf Herakleitos pada abad ke-4 Sebelum Masehi bahwa “tidak ada yang abadi kecuali perubahan!” Makanya, kita pasti tidak dapat menolak perubahan.

Kita harus siap pada perubahan. Kita tidak dapat lagi kembali. Walau, kita mestilah tetap menghadapi perubahan itu dengan bercermin pada masa silam, pada sejarah, sebagai landasan pijakan agar dapat lebih memaknai segala tantangan hidup. Akan tetapi, intinya jika kita ingin meraih segala apa yang menjadi impian kita, maka saatnya don’t look back!

Apalagi, kalaulah kita menyadari bahwa bangsa ini bangsa kita, di mana kita wajib memberi pikiran, tangan, dan hati, untuk berkonstribusi melakukan perbaikan, dan ini hak dan sekaligus kewajiban untuk kita, maka patutlah menyemangati diri seperti Thariq Bin Ziyad agar kita sebagai bangsa yang ingin maju dan sukses, meraih kemenangan, meraih kejayaan, dengan tekad don’t look back.

Sebagai refleksi keberanian, don’t look back mengandung optimisme menghadapi tantangan hidup bahwa hidup ini tantangan dan problematik, makanya dia nikmat. Apalah jadinya hidup kalau semua serba enak dan tersedia. Justru nikmatnya hidup bila kita keluar dengan sukses dari satu tantangan ke satu tantangan.

Hal mana dapat kita resapi dari pesan tetuah, yaitu “kalau kamu menghadapi gelombang atau bahkan badai sekalipun, maka jangan membawa menyamping perahumu atau membalik arah dari tujuan, sebab kita harus hadapi gelombang atau badai itu dengan antisipasi dari segala kemampuan!”

Kata tenggelam itu hanya ada dari Allah. Makanya, don’t look back juga berarti jangan mundur, kita harus maju dan maju terus. Bukankah orang yang selalu melihat ke belakang, jadinya tidak dinamis, tidak proaktif, bahkan cenderung statis dan tidak mau ambil risiko, yang akibatnya tidak mau berubah.

Lagipula, secara sosiologis, dijelaskan bahwa salah satu ciri manusia modern adalah yang selalu memiliki pandangan ke depan, don’t look back!

Pada dasarnya, don’t look back menggugah kecerdasan kita di Sulawesi Selatan untuk optimis menghadapi masa depan, optimis menghadapi tantangan, bahkan optimis menghadapi pertandingan apapun untuk dimenangkan. Sebab, hanya orang yang optimisme yang bisa menemukan jalan keluar dari masalah dan tantangan yang dihadapinya.

Karena itu, orang optimis itu akan memberi gambaran bahwa dia percaya dalam doktrin hidupnya selalu ada keadaan yang akan lebih baik dan besok harus lebih baik dari hari ini.

Selain itu, optimisme adalah kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, untuk mencapai hasil yang lebih baik dan lebih berprestasi. Yang jelas, don’t look back juga bermakna bahwa kalau kita memilih pendekatan dan cara kemarin, maka pastilah hasilnya kayak kemarin.

Don’t look back. Kita harus berani menghadapi segala tantangan. Kita harus berani menghadapi segala risiko hidup. Seperti pesan leluhur kita, “sekali layar berkembang, pantang surut ke pantai”. Dan jika kita ingin menemukan pulau harapan, maka kita mestinya berani meninggalkan pantai, kita harus berani hadapi gelombang dahsyat, kita harus berani untuk bersikap dan mengatakan don’t look back!

Yang pasti, ketika kita memaknai kalimat ini, maka dibutuhkan pikiran cerdas dan hati yang bijak agar dapat melihat inti dari takeline ini. Sebab, substansinya adalah don’t look back is mean look for the future.

Sumber : fajar,newsid

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook