Alpen Steel | Renewable Energy

~ Ke Tempo Ditolak Gugatan Dari Texmaco

Gugatan Texmaco Ke Tempo Ditolak

Ternyata masih ada hakim yang menghargai keberadaan Undang-Undang No 40/1999 tentang Pers. Kemarin, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat menolak gugatan PT Texmaco dan Marimutu Sinivasan terhadap Majalah Tempo.

Pertimbangan yang dijadikan dasar amar putusan majelis hakim adalah prosedur penggugat (Texmaco dan Sinivasan) yang tidak menggunakan hak jawab sebagaimana diatur Pasal 5 UU Pers.

Hakim Ketua Silvester menganggap gugatan Texmaco tidak jelas, kabur, dan tidak dapat diterima. ''(Karena itu) gugatan ditolak dan dibatalkan,'' kata Hakim Ketua Silvester Djuma. Amar putusan itu kontan disambut suka cita tergugat.

Vonis hakim tersebut disambut gembira sejumlah pengunjung sidang yang umumnya para wartawan. Termasuk, Pemred Tempo Bambang Harymurti dan belasan wartawan Tempo. Raut wajah praktisi dan pembela pers sumringah penuh kegembiraan begitu putusan hakim dibacakan.

Bambang Harymurti menyebut penolakan hakim terhadap gugatan Texmaco merupakan awal kemenangan pers. Putusan itu sekaligus diharapkan jadi yurisprudensi bagi kebebasan pers di Indonesia. Kepada majelis hakim, Bambang mengucapkan terima kasih karena dianggap melindungi kebebasan pers Indonesia. ''Hakim masih punya hati nurani untuk membela pers,'' ucapnya. Hanya, selain membatalkan gugatan, majelis hakim juga menolak rekonvensi (gugatan balik) Tempo terhadap Texmaco. "Kita tetap hormati hak orang untuk menggugat dan kita juga tetap hormati putusan pengadilan, meskipun kita menang tapi tak perlu menginjak-injak," kata Bambang.

Sidang kemarin terbagi dua dan dimulau pukul 10.30. Yang pertama mengadili gugatan Texmaco dan Sinivasan terhadap Tempo. Setelah itu dijadwalkan digelar sidang Texmaco melawan Kompas.

Dua sidang itu dipimpin Ketua majelis Hakim Silvester Djuma. Hanya, sidang kedua batal tanpa putusan palu hakim karena kedua pihak sudah menandatangani surat akte perjanjian perdamaian.

Seperti diketahui, Sinivasan bersama 18 perusahaan Grup Texmaco menggugat Tempo dan Kompas setelah merasa dirugikan atas serangkaian pemberitaan di dua media tersebut mulai edisi 19 Desember 1999 sampai 6 Desember 2000. Seperti, berita berjudul "Setelah Sinivasan Bertemu Gus Dur", dan "Loby Hilang Perkasa Melayang".

Sesuai surat gugatan, Sinivasan menuntut ganti rugi Tempo senilai USD 51 juta. Para tergugatnya adalah Pempinan Perusahaan (PU) Zulkifli Lubis (tergugat I), Pemred Majalah Berita Tempo Bambang Harrymurti (tergugat II), dan PT Tempo Inti Media (tergugat III). Dalam berkas terpisah, pimpinan Kompas juga menjadi tergugat.

Dalam perkara Texmaco versus Kompas, kedua pihak ternyata sudah meneken surat perjanjian perdamaian pada 14 November 2004. Surat perdamaian tersebut dibaca di depan persidangan.

Dari uraiannya, terungkap Texmaco selaku penggugat akan mencabut gugatan tanpa syarat. Sebaliknya pihak Kompas juga akan mencabut gugatan rekompensi (gugatan balik) secara tanpa syarat. Perdamaian itu diteken Dirut Texmaco Marimutu Sinivasan, Pemimpin Umum Kompas Jacob Oetama dan Pemred Kompas Suryopratomo.

Atas perjanjian perdamaian tersebut, kuasa hukum Kompas Amir Syamsuddin meminta ketegasan kuasa hukum penggugat akan mencabut gugatan tanpa syarat. Atas keinginan tersebut, pengacara Texmaco Oce Kaligis menegaskan akan mencabut gugatan dengan tanpa syarat. Sedang majelis hakim menanyakan keseriusan kedua pihak.

Setelah bisa dipastikan, Hakim Ketua Silvester lalu mengeluarkan surat penetapan adanya perdamaian antara kedua belah pihak tersebut. Majelis hakim dalam penetapannya menyatakan bahwa pencabutan perkara oleh penggugat cukup beralasan dan oleh karenanya patut dikabulkan.

"Menyatakan mengabulkan pencabutan gugatan oleh penggugat dan menyatakan pencabutan gugatan sah," kata Hakim Silvester Djuma. Namun demikian majelis hakim akhirnya membebankan biaya perkara sebesar Rp 295.000 kepada Texmaco dan Sinivasan selaku penggugat.

Sementara itu, di PN Jakarta Timur, sidang lanjutan gugatan bos Grup Artha Graha Tomy Winata (TW) terhadap PT Tempo Inti Media dan Goenawan Mohamad kembali digelar. Dalam sidang kemarin, pengacara Tempo Darwin Aritonang masih diberi kesempatan untuk menyerahkan bukti-bukti tambahan.

Bukti tambahan itu adalah surat ketua Mahkamah Agung (MA) Nomor KMA/736/X/2003 tanggal 30 Oktober 2003 yang ditujukan kepada ketua PN Jaktim, yang isinya sebelum melaksanakan sita jaminan harus menerapkan ketentuan pasal 227 HIR serta memperhatikan surat edaran MA.

Surat edaran itu berbunyi: sebelum dikeluarkan surat ketetapan yang mengabulkan permohonan conservatoir beslag (sita jaminan) diadakan penelitian lebih dahulu tentang ada tidaknya alasan yang dikemukanakan oleh pemohon. "Seharusnya pengadilan telah melakukan penelitian terlebih dahulu,"kata Darwin.

Sedang Hakim Sangadji mengatakan prosedur penetapan sita jaminan telah dilakukan majelis hakim sementara. Pihaknya masih memperhatikan hal tersebut. ''Sedang sikap kami akan diputuskan pada putusan akhir," kata Sangadji yang kemarin tetap menawarkan perdamaian kedua pihak. Sidang ditunda 10 Desember 2003. (agm)

JAKARTA (kata Darwin).
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook