Alpen Steel | Renewable Energy

Pakoba Bisa Digunakan di Lahan Kritis

Lahan kritis sekunder di sekitar kawasan hutan lindung Mahawu seluas 500 hektar dan kawasan hutan produksi terbatas Tatawiren seluas 1.600 hektar di Tomohon, Sulawesi Utara, mulai tahun ini akan ditanami tanaman endemik Sulawesi Utara, yaitu pakoba (euginia cumini).

Selain berfungsi ekonomis, pakoba juga berfungsi sebagai tanaman produksi sekaligus bermanfaat mencegah longsor yang biasanya mengancam daerah ketinggian seperti Tomohon.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Ervinz DH Liuw, Kamis (28/6) di Bitung, mengatakan, untuk tahap awal, Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon menyediakan 20.000 bibit pakoba untuk ditanam di lahan kritis sekunder dan kawasan hutan produksi.

Di lahan kritis Mahawu dan Tatawiren sudah tidak ada lagi tanaman primer sehingga harus diupayakan tanaman pengganti. Selain pakoba, di lahan kritis dua kawasan itu juga ditanam cempaka, mahoni, dan nyato.

Tanaman-tanaman itu selain berfungsi sebagai tanaman penyangga agar daerah tangkapan air tetap terjaga, juga agar Tomohon aman dari ancaman bencana.

Pakoba bermanfaat untuk menjaga lingkungan, selain tinggi nilai ekonomisnya. Selain kayunya, buahnya bisa dijadikan manisan sehingga masyarakat dapat menikmati hasilnya. Di usia tujuh tahun, pakoba diperkirakan sudah berbuah sehingga dapat diambil hasilnya.

Untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan keseimbangan ekosistem Tomohon, Pemkot Tomohon tiga tahun terakhir ini menyebarkan 400.000 bibit tanaman cempaka, mahoni, dan nyato kepada masyarakat untuk ditanam di halaman rumah mereka.

Menurut Ervinz, tanaman-tanaman itu bermanfaat untuk mempertahankan Tomohon sebagai kota yang dikenal sebagai kota berhawa sejuk di ketinggian 500-1.000 di atas permukaan laut. Pemkot Tomohon akan mengupayakan lebih banyak lagi bibit pakoba bagi masyarakat. (DOE)

Sumber : kompas Luwu Utara

Makassar, Kompas - Sekitar 400 hektar petak contoh atau demplot kakao secara bertahap akan dibuka di Kabupaten Luwu Utara. Program ini adalah bagian dari pencanangan Luwu Utara sebagai salah satu proyek percontohan nasional kakao.

“Demplot kakao ini akan menjadi pusat pembibitan, tempat penelitian, sekaligus tempat belajar para petani,” jelas Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Luwu Utara Syahruddin, Kamis (28/6).

Petak contoh ditempatkan di empat desa, yaitu Desa Tarobok di Kecamatan Sabbang (100 Ha), Desa Pengkendekan di Kecamatan Sabbang (100 ha), Desa Poreang di Kecamatan Bone-Bone (100 Ha), dan Desa Ujung Mattajang di Kecamatan Mappedeceng (100 Ha).

Salah satu alasan pembukaan areal petak contoh di Luwu Utara adalah potensinya yang cukup luas, yaitu 66.714,93 ha. Dari luasan itu, 55.550,70 ha di antaranya adalah lahan kakao. Sebanyak 41.569 keluarga petani yang terhimpun dalam 337 kelompok tani terlibat dalam penanaman kakao sehingga kakao menjadi produk unggulan Luwu Utara.

Terkait ini, tim dari Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian berkunjung ke Masamba untuk melakukan verifikasi. Kedatangan tim untuk mengecek kondisi riil petani kakao di daerah sekaligus meninjau lahan untuk petak contoh.

Petani kakao di Luwu Utara sendiri hingga kini masih berjuang melawan serangan hama kakao, antara lain hama penggerek buah, hama VSD (vascular streak die back), dan penggerek batang. Juga ada penyakit yang menyebabkan mati ranting dan busuk buah.

Serangan hama setidaknya menyebabkan produksi kakao di Luwu Utara menurun drastis dalam tiga tahun terakhir. Sebagai gambaran, kalau tahun 2004 produksi kakao sekitar 42.000 ton, tahun 2005 turun menjadi sekitar 30.000 ton, dan tahun 2006 tinggal 28.515 ton. Produktivitas rata-rata saat ini sekitar 0,6 ton per ha.

Hingga tahun 2006, serangan hama mencapai lebih dari 30.000 ha dari total areal tanaman kakao 55.550 ha.

Program demplot kakao di antaranya diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk model penanaman yang baik. (Ren)

Sumber :kompas Transaksi Elektronik di Sulawesi Selatan

Bertempat di Hotel Singgasana, Jl. Kajaolalido Makassar 26 Juni 2007 Gubernur Sulawesi Selatan diwakili oleh Asisten I Bidang Ketataprajaan, Drs. H. Saleh Radjab, MM membuka acara Sosialisasi Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika RI bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Badan Informasi Komunikasi dan PDE Provinsi Sulawesi Selatan. Acara ini dihadiri oleh Ketua Pansus RUU ITE DPR RI Bapak H. A. Muh. Ghalib, SH, MH, pejabat dari Depkominfo RI, para pejabat provinsi Sulsel, Para dosen Perguruan Tinggi se Sulsel, para pakar dan pemerhati teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan Para Pengusaha ICT.

Gubernur Sulsel dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Asisten Ketataprajaan mengatakan bahwa kemajuan pesat dibidang teknologi informasi dan komunikasi (information and Communication Technologi (ICT)  yang melanda dunia mengakibatkan data, informasi, dan pengetahuan dapat diciptakan dengan teramat cepat dan tepat dan dapat segera disebarluaskan keseluruh lapisan masyarakat diberbagai belahan dunia dalam hitungan detik. Hal demikian mengakibatkan terjadinya pergeseran perilaku disegala bidang dalam bidang politik, ekonomi, tatanan territorial kenegaraan dan budayanya telah membentuk sebuah model tatanan baru dunia yang kita kenal sekarang ini sebagai desa dunia (Global Village). Dalam hal tatanan ekonomi macro dalam bentuk globalisasi pasar dan kompetensi yang ditandai dengan adanya arus investasi, perdagangan industri dan teknologi informasi yang telah melampaui batas geografis dan Negara.
 

Dibidang perdagangan tidak dapat dipungkiri dengan perkembangan informasi dan komunikasi adalah semakin meningkatkannya keintiman antara masyarkat (sebagai pelanggan) dengan pelaku ekonomi (pedagang, investor, perusahaan, dan lain-lain) hal mana telah membuat standar pelayanan yang semakin baik dari waktu kewaktu melalui satu sistem transaksi secara elektronik dengan menggunakan teknologi informasi yang biasa disebut eletronik commerce (e-commerce) atau berdagang secara elektronik yang tentunya bagi seorang pelanggan bertujuan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah. Dengan berdagang secara elektronik seorang yang berada dibelahan bumi manapun dapat melakukan investasi, dan transaksi perdagangan tanpa batas geografis dan Negara lain.

Namun demikian perlu dicermati, bahwa perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi disamping membawa dampak positif yaitu memberikan kemudahan, disisi lain juga mengandung berbagai potensi yang menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif adalah seringnya kita mendengar melalui berbagai media massa terjadinya berbagai pembobolan bank, kartu kredit, pelanggaran privacy, penyebaran virus untuk merusak sistem computer, kemudahan megakses dan menyebarkan hal-hal yang berbau pornografi melalui internet.

Disamping dampak negatif sebagaimana tersebut diatas juga ditemukan berbagai kendala dalam melakukan aktivitas bertransaksi secara elektronik, mengingat kebiasaan bertransaksi secara konvensional dialihwujudkan kesistem elektronik adalah sangat berbeda dan belum banyak dikenal masyarakat kita.

Apa yang terjadi dengan fenomena ini menunjukan bahwa dampak positifnya akan semakin mempermudah seseorang bertransaksi karena mereka sudah dapat bertatapan muka sebagaimana layaknya transaksi secara konvensional, sedangkan dampak negatif juga akan semakin mudah dilakukan, sehingga memang dalam merancang RRU ITE ini kita harus lebih cermat melihat kedepan dan diselaraskan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Sumber : sulsel.

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook