Alpen Steel | Renewable Energy

Longsor di Jalur Trans Sulawesi 2006: Tahun Papua dan Sulawesi Tengah

Kita melewati penghujung tahun 2005 dengan bom di Palu, Sulawesi
Tengah, dan kelaparan di Yahukimo, Papua. Namun, optimisme tetap
menyala tahun 2006 ini, sekalipun semangat itu lebih diwarnai oleh
harapan dan doa ketimbang kepercayaan berdasarkan kalkulasi rasional.

Semakin banyak harapan, justru akan memperberat beban masyarakat,
apabila gagal dicapai tiga elemen yang layak melakukan kalkulasi
rasional adalah pemerintah, parlemen, dan media massa. Kita tidak
hanya perlu melakukan refleksi dan evaluasi atas tahun lalu,
melainkan jauh lebih baik memikirkan proyeksi tahun ini, serta
implementasi ke tataran pengambil kebijakan.

Dalam pertemuan para aktivis tahun 2000, kami hasilkan empat skenario
masyarakat sipil Indonesia tahun 2010, yakni "Layar Terkembang"
(pemerintah kuat, masyarakat kuat), ""Pungguk Merindukan Bulan"
(pemerintah kuat, masyarakat lemah), "Robohnya Surau Kami"
(pemerintah lemah, masyarakat lemah), dan "Revolusi Bunga"
(pemerintah lemah, masyarakat kuat).

Rasanya skenario yang paling mendekati tahun lalu adalah "Robohnya
Surau Kami". Ciri-cirinya antara lain masyarakat menjadi kekuatan
komunal, negara menjadi kekuatan kriminal. Kriminalitas di tingkat
negara ditunjukkan dengan mempreteli setiap bangunan surau untuk
kepentingan sendiri. Modusnya kleptokrasi dan korupsi, berupa
tindakan penghancuran dari dalam tubuh negara. Banyak orang kaya
muncul mendadak, sementara busung lapar juga merajalela.

Apakah Indonesia akan terus dikungkung oleh kematian demi kematian
tanpa alasan, hanya demi pemuasan kepentingan orang per orang? Bukan
hanya masjid yang roboh tahun lalu, tetapi juga sekolah.

Sinergi kepentingan

Sinergi kepentingan berbagai elemen publik dibutuhkan, tanpa harus
muncul penguasaan elemen yang satu terhadap elemen yang lain.

Pemerintah yang kuat tentu tidak menyenangkan kalangan aktivis. Yang
dibayangkan adalah pengebirian, hegemoni, infiltrasi, atau bahkan
semua berjalan amat sempurna. Masyarakat sipil bisa kehilangan elan
apabila pemerintah terlalu kuat.

Tetapi, pemerintahan yang lemah juga sama bahayanya. Akan muncul
kekacauan penyelenggaraan negara. Satu bergerak ke kanan, satu ke
kiri, sementara yang lain berjalan di tempat. Masyarakat sipil juga
bisa habis energinya.

Yang terbaik adalah pemerintah menyadari kekuatannya, lantas tahu
saat menggunakan. Pelayanan publik menjadi parameter tertinggi.
Terjalinnya komunikasi seimbang dan sehat antara pemerintah dan
masyarakat bisa menghasilkan kohesifitas sosial. Dorongan-dorongan
kreatif patut saling dipertukarkan.

Ingatan kolektif tentang penderitaan di masa lalu bisa terus
disampaikan masyarakat sipil, sementara pemerintah mengantisipasi
agar tidak muncul lagi kepiluan demi kepiluan di masa datang.

Kita tidak mungkin bangkit apabila tetap menyeret masa depan ke masa
lalu. Perhitungan rasional akan keadaan yang lebih baik haruslah
dimulai dari pikiran.

Parlemen yang kuat juga bisa menjadi penyeimbang bagi pemerintah.
Citra populisme yang dibangun ternyata terseret dan tercoret oleh
perilaku buruk lembaga ini, baik perseorangan atau kolektif. Parlemen
bukan hanya keliru memaknai kekuasaan, bahkan gagal mendefenisikan
dirinya sendiri. Masyarakat bukan hanya tidak bisa berharap kepada
lembaga ini, malahan parlemen menjadi parasit baru dalam alam
demokrasi.

Media massa terus menyebar kabar "orang menggigit anjing". Kabar itu
bertaburan setiap hari, terutama dalam media lokal. Sekalipun pembaca
surat kabar sedikit, namun efek bacaan yang buruk justru akan
meruntuhkan semangat masyarakat rasional yang menjadikan media
sebagai sumber informasi utama.

Namun, media tetap pesat perkembangannya. Ulasan-ulasan humanistik
makin banyak mengisi rubrikasi media cetak, sekalipun unsur
entertainment juga menjadi menu utama media televisi.

Titik fokus

Dengan elemen-elemen demokrasi yang terus berkembang dan mekar, sulit
melihat perubahan dalam skala besar dan nasional. Harus ada satu atau
dua titik fokus. Bayangkan, satu kasus korupsi diurus oleh lebih dari
tiga lembaga: Komisi Pemberantasan Korupsi, Tim Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, dan Kejaksaan Agung. Masalah apa yang diurus,
bagaimana mengurusnya, serta siapa yang mengurusnya, kini menjadi
persoalan.

Untuk itu, harus ada usaha menyempitkan persoalan. Tahun 2006 ini
mestinya pemerintah, parlemen, dan media massa berkonsentrasi pada
persoalan Sulawesi Tengah dan Papua. Ujung barat Indonesia, yakni
Nanggroe Aceh Darussalam, sedang mulai memasuki tahap konsolidasi
politik dan pemerintahan. Sementara, tepian Lautan Pasifik, Selat
Makassar, Selat Karimata, dan Laut Seram masih menyisakan gelombang
kekerasan dan kelaparan.

Kapal besar Indonesia tidak akan mampu berlayar apabila masih ada
yang bocor. Air laut bisa masuk, menenggelamkan. Persoalan di
Sulawesi Tengah dan Papua memberi efek kebocoran yang dahsyat. Kita
harus menambal kebocoran itu.

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook