Alpen Steel | Renewable Energy

~ Data Potensi Energi Listrik Di Indonesia

ANALISIS PEMANFAATAN ENERGI PADA PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DI INDONESIA

ABSTRACT

Energy demand for various economic sectors in Indonesia is fulfilled by various energy sources, either fossil fuel or renewable energy. Energy supply from various energy sources is known as energy mix.

Energy mix of one economic sector is different from other economic sector. Transportation sector is fulfilled by refined products, natural gas and electricity. Industry sector is fulfilled by refined products, coal, natural gas, electricity and biomass.

Meanwhile electricity generation sector is fulfilled by refined products, coal, natural gas and renewable energy. Energy mix in electricity generation represents also energy utilization status and electricity power generation technology applied. Energy mix of Indonesia is similar to energy mix of Jawa, because most of electricity is generated in Jawa.

Percentage of diesel oil and fuel oil utilization for electricity generation is going down, they are substituted by other type of energy such as coal and natural gas.

1. PENDAHULUAN

Konsumsi listrik nasional tahun 1990 s.d. tahun 2002 meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 10% pertahun dari 27,7 TWh (1990) menjadi 87,1 TWh (2002). Sejalan dengan hal tersebut, produksi listrik PLN meningkat dari 23,29 TWh pada tahun 1990 menjadi 89,29 TWh atau meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 8,8% per tahun. Produksi listrik PLN tersebut memerlukan bahan bakar fosil dan bahan bakar terbarukan sebesar 72,27 Juta SBM pada tahun 1990 menjadi 178,69 Juta SBM pada tahun 2002 atau rata-rata meningkat sebesar 7,8% per tahun.

Jenis bahan bakar yang digunakan oleh pembangkit listrik yang mengalami peningkatan tertinggi selama periode tersebut adalah bahan bakar gas bumi, yaitu sebesar 27,8% per tahun, kemudian diikuti pemakaian panasbumi yang mengalami peningkatan sebesar 15,1%, batubara sebesar 10,1%, minyak solar sebesar 9,5%, dan tenaga air sebesar 2,7%. Adapun pemakaian minyak diesel dan minyak bakar untuk pembangkit listrik selama kurun waktu 12 tahun tersebut menurun masing-masing dengan angka pertumbuhan sebesar -3,3% dan -1% per tahun.

Penurunan pemakaian minyak diesel ini terutama terjadi di pulau Jawa dan Sumatera dimana di kedua wilayah tersebut telah terdapat jaringan transmisi, sehingga diperlukan pembangkit dengan kapasitas besar dalam memenuhi kebutuhan listriknya. Kebutuhan listrik pada beban puncak di Jawa dan Sumatera saat ini sebagian besar dipenuhi oleh PLTG dan PLTGU, dan sebagian kecil oleh PLTD dan tenaga air.
Meskipun pemanfaatan panasbumi dan tenaga air sebagai bahan bakar pembangkit listrik selama kurun tahun 1990 s.d. 2002 meningkat cukup signifikan, pemakaian energi baru dan terbarukan selama kurun waktu tersebut masih belum optimal. Dari potensi panasbumi yang sebesar 27 GW baru dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik sebesar 800 MW atau sekitar 3%, sedangkan tenaga air dengan potensi sebesar 75 GW baru dimanfaatkan sebesar 4,2 GW atau sekitar 5,6%.

Belum optimalnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan disebabkan energi baru dan terbarukan belum kompetitif dibandingkan dengan energi konvensional. Salah satu sebab kurang berkembangnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan sampai saat ini adalah harga listrik yang dibangkitkan dari energi baru dan terbarukan antara lain, PLTN, PLTS, PLTB, PLTMH serta PLT energi terbarukan lainnya, masih lebih tinggi daripada yang dibangkitkan dengan energi fosil. Hal ini disebabkan oleh biaya konstruksi per KW pembangkit listrik energi terbarukan cukup tinggi, dan disamping itu pembangkit listrik tenaga air dan panasbumi biasanya terletak jauh dari pusat kebutuhan yang menyebabkan biaya transmisi dan distribusi menjadi lebih mahal.
Selama periode tersebut, belum terdapat PLTN di Indonesia. Pemanfaatan PLTN biasanya dalam kapasitas pembangkit yang besar, karena pembangkit tenaga nuklir merupakan pembangkit beban dasar dengan biaya investasi yang tinggi, tetapi dibarengi dengan biaya bahan bakar yang rendah. Oleh karena itu, dapat dianggap bahwa PLTN hanya mungkin dibangun di Jawa karena beban listrik di Jawa jauh lebih tinggi dibanding dengan wilayah lainnya.

Sejalan dengan peningkatan kebutuhan listrik dikemudian hari yang diperkirakan dapat tumbuh rata-rata 6,5% per tahun hingga tahun 2020, maka pemanfaatan energi sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga akan meningkat. Untuk itu, diperlukan analisis jumlah dan jenis bahan bakar yang diperlukan pembangkit listrik.

2 POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI PADA

PEMBANGKIT LISTRIK SAAT INI

2.1 Potensi Sumberdaya Energi

Pada tahun 2002, total cadangan minyak bumi nasional mencapai sekitar 9,75 milyar barel minyak (billion barrel oil) dengan cadangan terbukti hanya sekitar 4,72 miliar barel. Pada tahun yang sama, produksi minyak bumi nasional mencapai 455,6 juta barel, sehingga rasio antara cadangan terbukti dan produksi adalah sebesar 10 tahun. Keterbatasan cadangan minyak bumi yang dibarengi dengan peningkatan harga BBM menyebabkan pemanfaatan BBM sebagai bahan bakar pembangkit listrik mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Pemanfaatan BBM lebih diarahkan pada wilayah-wilayah yang belum tersedia jaringan transmisi atau pada wilayah yang terisolasi. Pada wilayah yang yang sudah tersedia jaringan transmisi, pemanfaatan BBM hanya sebagai bahan pengganti ketika alokasi gas bumi dan batubara belum tersedia.
Sumberdaya gas bumi cukup signifikan mencapai 178 TCF pada tahun 2002 dengan cadangan terbukti (R) sebesar 91,17 TCF. Hanya sekitar 6,6% sumberdaya gas bumi tersebut terdapat di Jawa, selebihnya terdapat di Sumatera (24,5%), Natuna (30,8%), Kalimantan Timur (25%), Papua (10,9%), dan Sulawesi (2,3%). Tingkat produksi (P) gas bumi pada tahun 2002 adalah sekitar 3 TCF, sehingga R/P mencapai 30 tahun. Jumlah cadangan gas yang relatif besar menyebabkan pemanfaatan gas bumi pada pembangkit listrik meningkat cukup pesat. Jenis pembangkit yang menggunakan gas bumi adalah PLTGU dan PLTG. Pengoperasian PLTGU untuk memenuhi beban dasar dan menengah, sedangkan pengoperasian PLTG untuk memenuhi beban puncak. Pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar akan meningkat seiring dengan tersedianya infrastruktur pipa gas yang menghubungkan antara sisi produsen (di luar Jawa) dengan sisi konsumen (Jawa).

Sumberdaya batubara pada tahun 2002 mencapai 57 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 12,47 miliar ton, sedangkan perkiraan cadangan yang ekonomis untuk diproduksi mencapai 6,9 miliar ton. Dengan tingkat produksi seperti tahun 2002, yaitu sekitar 100 juta ton, cadangan tersebut akan habis dalam 69 tahun. Pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik diperkirakan akan terus meningkat mengingat biaya pembangkitan PLTU Batubara relatif lebih murah dibanding dengan jenis pembangkit lainnya. Kendala dari pemanfaatan batubara pada pembangkit listrik terutama di Jawa adalah ketersediaan pelabuhan penerima karena umumnya lahan di Pantura sudah ada kepemilikannya, sedangkan lahan di pantai selatan Jawa memerlukan biaya infrastruktur yang lebih mahal.

Selain sumberdaya energi fosil, Indonesia juga memiliki sumberdaya energi terbarukan yang cukup besar, yaitu potensi panasbumi sebesar 27 GW, tenaga air sekitar 75 GW, sedangkan biomasa, energi surya, dan energi angin potensinya masih berlimpah.

Pemanfaatan potensi panas bumi tersebut baru sekitar 800 MW atau sekitar 4%, itupun mayoritas di Jawa. Hal ini disebabkan karena sejauh ini panasbumi secara ekonomi belum layak untuk dikembangkan, terutama di wilayah luar Jawa yang sumur panasbuminya merupakan sumur basah dengan low atau medium enthalphi. Oleh karena itu, efisiensi pembangkit listrik panasbumi di luar Jawa ebih rendah dibanding di Jawa yang kebanyakan mempunyai sumur kering dengan high enthalphi. Energi surya di Indonesia berpotensi untuk dimanfaatkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya, mengingat intensitas radiasi rata-rata di Indonesia cukup besar, yaitu sekitar 4 hingga 5 kWh/m2 dan Indonesia tidak mengenal empat musim, seperti di negara-negara belahan utara dimana matahari hanya bersinar pada musim panas saja. Total kapasitas terpasang PLTS yang telah dikembangkan baru sekitar 5 MWp, yang dimanfaatkan untuk penerangan, pompa air, dan telekomunikasi. PLTS lebih merupakan pembangkit listrik individual, sehingga PLTS akan mampu bersaing dengan pembangkit lain pada wilayah yang terpencil dengan pola pemukiman yang tersebar, dimana biaya distribusi bahan bakar minyak sampai ke lokasi akan sangat mahal. Demikian juga dengan biaya distribusi dari pembangkit ke konsumen, misalnya di pulau-pulau yang terpencil, di pedalaman Kalimantan, Irian ataupun di wilayah dekat dengan puncak gunung. Oleh karena itu, pemanfaatan PLTS diperkirakan akan terus meningkat, terutama untuk memenuhi peningkatan rasio elektrifikasi pedesaan yang saat ini masih sangat rendah, yaitu sekitar 55%.

Dibandingkan dengan tenaga surya, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin di Indonesia tidak begitu pesat. Hal ini disebabkan potensi angin di Indonesia kurang menjanjikan, dimana rata-rata kecepatan angin pada ketinggian 24 m sekitar 3,3 m/detik s.d. 6 m/detik. Hanya lokasi-lokasi tertentu saja terutama daerah timur Indonesia yang bisa dikembangkan dengan skala besar, seperti di Route-Kupang yang pada ketinggian 24 m mempunyai kecepatan angin sebesar 6 m/detik. Pantai selatan Gunung Kidul, Baron, DI Yogyakarta adalah salah satu daerah yang telah terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTB), tetapi kondisi angin yang tidak menentu menyebabkan PLTB ini sering berhenti beroperasi. Hal yang sama juga berlaku untuk wilayah yang lain, dimana sebagian besar mempunyai waktu mati angin yang cukup tinggi, yaitu sekitar 2 bulan atau waktu operasi 300 – 310 hari per tahun.

Mengingat kondisi tersebut, sebagian kincir angin yang ada tidak difungsikan sebagai pembangkit listrik tertapi berfungsi sebagai pompa air. Hal ini karena pada saat kincir berputar, air yang dihasilkan dapat disimpan di dalam tanki atau tandon penyimpanan sehingga dapat terus dimanfaatkan walaupun angin mati, sedangkan bila untuk membangkitkan listrik akan diperlukan accu dengan kapasitas yang sangat besar sehingga tidak mungkin dapat dilaksanakan. Sistem yang layak dan telah diterapkan di beberapa wilayah ialah sistem hibrid, yaitu kombinasi antara beberapa jenis pembangkit, seperti PV–diesel, bayu–diesel atau bayu–PV–diesel. Dengan hibrid, maka pada saat ada angin, diesel tidak dioperasikan, dan saat mati angin diesel diaktifkan, sedangkan waktu siang hari dimana beban kicil atau kosong listrik yang dihasilkan oleh PLTB dapat dipergunakan untuk memompa air.

2.2 Pemanfaatan Bahan Bakar

Pemanfaatan bahan bakar untuk pembangkit listrik selama tahun 1990 s.d. tahun 2002 ditunjukkan pada Tabel 1, sedangkan pangsa kebutuhan bahan bakar menurut jenis ditunjukkan pada Grafik 1. Pemanfaatan bahan bakar selama tahun 1990 s.d. tahun 2002 meningkat rata-rata 7,9% per tahun dari 70,15 juta SBM tahun 1990 menjadi 174,73 juta SBM tahun 2002. Pada periode tersebut pemakaian bahan bakar fosil pada pembangkit listrik meningkat, dimana peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan pemanfaatan batubaradan gas alam, sedangkan pemakaian bahan bakar minyak terutama minyak diesel/solar dan minyak bakar terutama di pulau Jawa menurun. Pemanfaatan bahan bakar minyak khususnya minyak diesel/solar untuk pembangkit listrik masih dominan di luar Jawa. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah di luar Jawa belum terhubung dengan jaringan transmisi. Disamping itu, dominasi pengunaan listrik di luar Jawa adalah untuk penerangan sehingga beban listrik di siang hari (off-peak) sangat rendah dibanding di malam hari (peak). Kondisi ini menyebabkan tidak mungkin membangun pembangkit listrik skala besar, seperti PLTU batubara dan lain-lain.

Peningkatan penggunaan bahan bakar terbesar adalah gas bumi dari 0,01 BCF pada tahun 1990 menjadi 0,19 BCF pada tahun 2002. Konsumsi gas bumi bahkan pernah mencapai 0,25 BCF pada tahun 1996. Penurunan konsumsi gas bumi disebabkan terjadinya depleted cadangan pada beberapa lapangan gas, sehingga pasokan gas ke pembangkit terbatas. Peningkatan pemanfaatan gas bumi terutama dibutuhkan sebagai bahan bakar PLTGU. Kapasitas PLTGU selama kurun waktu tersebut mengalami peningkatan dari 0 GW pada tahun 1990 menjadi 6,86 GW pada tahun 2002. Kapasitas PLTGU pada tahun 2002 hampir sama dengan kapasitas PLTU Batubara, namun pangsa kebutuhan gas bumi pada tahun 2002 hanya sekitar 19% terhadap total konsumsi bahan bakar.

Pangsa bahan bakar tertinggi adalah konsumsi bahan bakar batubara yang mencapai 33% pada tahun 2002. Selama kurun waktu 1990 s.d. 2002, konsumsi batubara meningkat dari 4,4 juta ton menjadi 14,05 juta ton, sedangkan kapasitas PLTU-B meningkat dari 3,4 GW menjadi 6,9 GW. Tingginya konsumsi batubara karena PLTU-Batubara mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan, namun pengembangan PLTU-B secara besar-besaran, terutama di Pulau Jawa dikhawatirkan terbentur masalah ketersediaan lahan dan lokasi untuk pelabuhan penerima batubara. Untuk mengatasi kendala tersebut, dapat dilakukan dengan jalan mengembangkan PLTU batubara di Sumatera Selatan dan mentransmisikan listriknya ke pulau Jawa melalui kabel bawah laut.

Pemanfaatan bahan bakar terbarukan khususnya tenaga air dan panasbumi selama tahun 1990 s.d. tahun 2002 cukup signifikan, sehingga pangsa konsumsi tenaga air dan panasbumi pada tahun 2002 mencapai 24% terhadap total konsumsi bahan bakar untuk pembangkit listrik. Pada periode tersebut, kapasitas PLTA dan PLTP meningkat dari 2,1 GW ke 3,16 GW untuk PLTA dan dari 0,14 GW ke 0,8 GW untuk PLTP. Tingginya kapasitas kedua jenis pembangkit energi terbarukan tersebut berlangsung terutama di pulau Jawa dan dioperasikan sebagai beban dasar dan beban menengah. Pemanfaatan bahan bakar energi baru di luar Jawa dianggap belum kompetitif karena terbatasnya kapasitas pembangkit, adanya subsidi harga BBM, dan harga jual listrik yang belum ditetapkan sesuai nilai ekonominya. Seiring dengan pengurangan subsidi harga BBM dan penetapan harga jual listrik sesuai dengan nilai keekonomiannya, diharapkan pemanfaatan pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan semakin berkembang. Pemanfaatan bahan bakar energi baru juga akan berkembang ketika produksi BBM nasional terbatas.

 

data potensi energi listrik di indonesia


3 PRAKIRAAN KAPASITAS DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKAR PEMBANGKIT LISTRIK

 

3.1 Kapasitas Pembangkit Listrik

Seperti diketahui bahwa kebutuhan listrik nasional diperkirakan meningkat rata-rata 6,5% per tahun dari 91,72 TWh pada tahun 2003 menjadi 272,34 GWh pada tahun 2020. Peningkatan kebutuhan listrik tersebut memerlukan dukungan kapasitas pembangkit listrik. Menurut hasil analisis BPPT menggunakan Model MARKAL, kapasitas pembangkit listrik diperkirakan tumbuh dari 23,26 GW pada tahun 2003 menjadi 63,16 GW pada tahun 2020.

Jenis pembangkit listrik terbesar pada tahun 2003 adalah PLTU-B dengan kapasitas sekitar 5,32 GW atau sekitar 23%. Peranan PLTU-B dalam memenuhi kebutuhan listrik pada tahun 2020 cukup siginifikan yang mencapai sekitar 24% terhadap total kapasitas pembangkit nasional atau sekitar 15,19 GW.
Peningkatan kapasitas PLTU-B relatif terbatas karena dalam kajian prakiraan kapasitas pembangkit listrik nasional jangka panjang sudah mempertimbangkan kendala infrastruktur pelabuhan penerima batubara di Jawa.

Selain PLTU-B, jenis pembangkit yang diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan listrik tersebut adalah pembangkit listrik berbahan bakar gas bumi, seperti PLTG dan PLTGU. Total kapasitas PLTG-G pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 11,51 GW, sedangkan kapasitas PLTGU-G mencapai 8,36 GW.
Tingginya kapasitas PLTG-G dan PLTGU-G tersebut disebabkan karena dalam kajian prakiraan kapasitas pembangkit listrik nasional jangka panjang kendala pasokan gas untuk pembangkit listrik dianggap tidak ada. Namun, seperti diketahui bahwa pemanfaatan gas bumi nasional lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri baik sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan baku. Pemanfaatan gas bumi pada sektor industri adalah sebagai substitutor BBM.

Berbeda dengan PLTU-B, PLTG-G, dan PLTGU, kapasitas PLTD diperkirakan akan meningkat relatif terbatas namun secara total pangsanya menurun. Penurunan pangsa PLTD karena semakin berkembangnya jaringan transmisi nasional, terutama di Kawasan Timur Indonesia, sehingga diperlukan pembangkit skala besar yang lebih ekonomis.

Selanjutnya, pemanfaatan pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan, seperti PLTP dan PLTA juga meningkat siginifikan seiring dengan isu lingkungan, ’kelangkaan’ pasokan yang dibarengi dengan peningkatan harga energi fosil. Adapun grafik kapasitas dan pangsa kapasitas pembangkit listrik tahun 2003 s.d. 2020 ditunjukkan pada Grafik 2 dan Grafik 3.

data potensi energi listrik di indonesia

 

data potensi energi listrik di indonesia

3.2 Bauran Energi Pada Pembangkitan Tenaga Listrik

Bauran energi atau sering disebut sebagai Energy Mix pada pembangkitan tenaga listrik adalah kebutuhan berbagai jenis energi dalam pembangkitan tenaga listrik. Penggunaan Model MARKAL dalam analisis kebutuhan kapasitas pembangkit listrik jangka panjang diharapkan akan dapat memberikan gambaran kondisi bauran energi yang optimal.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional dengan pilihan teknologi pembangkit listrik seperti dijelaskan sebelumnya menyebabkan total kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di Indonesia selama tahun 2003 s.d. 2020 diperkirakan meningkat dari 152,11 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 379,71 juta SBM pada tahun 2020 atau meningkat sekitar 5,5% per tahun. Peningkatan tertinggi terjadi pada tenaga air dimana selama kurun waktu tersebut pemanfaatan tenaga air rata-rata tumbuh sekitar 11% per tahun, kemudian berturut-turut diikuti gas bumi dengan laju pertumbuhan sekitar 9% per tahun, panasbumi dengan laju pertumbuhan sekitar 7% per tahun, dan batubara dengan laju pertumbuhan sekitar 6% per tahun.

Berlainan dengan bahan bakar tersebut di atas yang dalam pemanfaatannya untuk pembangkit listrik mengalami peningkatan, pemanfaatan minyak solar dan minyak bakar pada kurun waktu yang sama justru mengalami penurunan, dimana laju penurunannya masing-masing berturut-turut adalah sekitar 5% dan 12% per tahun. Kondisi bauran energi tersebut dapat menjadi masukan kepada Pemerintah dalam menekan pemakaian BBM khususnya dalam penyediaan minyak solar dan minyak bakar untuk pembangkitan tenaga listrik. Perlu diketahui bahwa sekitar 74% dari total bahan bakar yang dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik Indonesia, diserap oleh pembangkit listrik Jawa. Hal tersebut sangat beralasan, karena selain Jawa mempunyai jumlah penduduk dan rumah tangga terbesar dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, juga konsentrasi kegiatan yang mendukung perekonomian Indonesia juga berada di Jawa.
Semangat otonomi daerah akan memicu pesatnya perkembangan industri di daerah, sehingga meningkatkan kebutuhan listrik di daerah, dan selanjutnyaakan meningkatkan pula pemakaian bahan bakar untuk pembangkit listrik. Alasan itu yang mendasari anggapan bahwa laju peningkatan kebutuhan listrik di Luar Jawa akan lebih tinggi daripada laju peningkatan kebutuhan listrik di Jawa. Kondisi tersebut akan mempengaruhi pangsa pemakaian bahan bakar untuk pembangkit listrik Jawa terhadap total pemakaian listrik di Indonesia. Besarnya kebutuhan bahan bakar dan pangsanya untuk pembangkit listrik di Indonesia tahun 2003 s.d. 2020 ditunjukkan pada Grafik 4 dan Grafik 5.

data potensi energi listrik di indonesia

3.2.1 Kebutuhan Bahan Bakar di Jawa

Kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di Jawa pada tahun 2003 mencapai 74% terhadap total kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit nasional, selanjutnya pada tahun 2020 menurun menjadi 64%. Penurunan pangsa kebutuhan bahan bakar di Jawa disebabkan karena adanya pasokan listrik dari PLTU Mulut Tambang di Sumatera Selatan dan pesatnya pertumbuhan kebutuhan listrik di luar Jawa. Meskipun pangsa kebutuhan bahan bakar di Jawa menurun, namun kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di Jawa meningkat rata-rata 4,6% per tahun selama kurun waktu tersebut.

Pola pemakaian jenis bahan bakar di Jawa pada tahun 2003 sama seperti di Indonesia, karena pada saat ini hampir seluruh pembangkit listrik skala besar terdapat di Jawa, sehingga urutan pemakaian jenis bahan bakar di Jawa sama seperti Indonesia, walaupun besarnya berbeda. Gambaran kebutuhan bahan bakar dan pangsa pemakaian bahan bakar untuk pembangkit listrik di Jawa tahun 2003 s.d. 2020 ditunjukkan pada Grafik 6 dan Grafik 7.

data potensi energi listrik di indonesia

3.2.2 Pangsa Pemakaian Jenis Bahan Bakar terhadap Total Pemakaian Bahan Bakar di Indonesia dan Jawa

Pada tahun 2003, urutan pangsa pemakaian bahan bakar di pembangkit listrik di Indonesia dan di Jawa dari mulai yang tertinggi hingga yang paling rendah adalah batubara, gas bumi, minyak bakar, tenaga air, minyak diesel/solar, panasbumi, dan biomasa, namun pemakaian biomasa untuk pembangkit listrik di Jawa hampir tidak ada. Biomasa biasanya banyak dimanfaatkan pada pembangkit listrik di wilayah yang mempunyai industri perkayuan. Pada tahun 2020, pola pemanfaatan bahan bakar untuk pembangkitan listrik baik di Indonesia maupun di pulau Jawa agak mengalami perubahan dimana urutanpangsa pemanfaatan jenis bahan bakar berturut-turut adalah gas bumi, batubara, hidro, panasbumi, minyak diesel/solar, dan minyak bakar.

Dominasi gas bumi dalam pembangkitan listrik dimungkinkan dengan akan dibangunnya jaringan pipa gas bumi dari Sumatera ke Jawa, beroperasinya Blok Cepu, serta kemungkinan instalasi jaringan pipa gas Kalimantan ke Jawa. Gambaran pangsa pemakaian bahan bakar untuk pembangkit listrik di Indonesia Tahun 2003 dan 2020 ditunjukkan pada Grafik 8, sedangkan pangsa pemakaian bahan bakar untuk pembangkit listrik di Jawa Tahun 2003 dan 2020 ditunjukkan pada Grafik 9.

data potensi energi listrik di indonesia

Tahun 2003 dan 2020 Selama kurun waktu 12 tahun dari tahun 1990 s.d. 2002 pemakaian bahan bakar gas untuk pembangkit listrik mengalami peningkatan tertinggi, yaitu sebesar 25,3% per tahun, kemudian diikuti pemakaian bahan bakar batubara, sedangkan pemakaian minyak diesel/solar dan minyak bakar untuk pembangkit listrik selama kurun waktu yang sama mengalami penurunan. Penurunan pemakaian minyak diesel/solar dan minyak bakar pada pembangkit listrik umumnya berlangsung di luar Jawa dan penurunan ini dapat menunjukkan keberhasilan Pemerintah dalam diversifikasi pemakaian bahan bakar untuk mengurangi atau menggantikan BBM.

Kondisi tersebut berlanjut pada kurun waktu 17 tahun mendatang, yaitu dari tahun 2003 s.d. 2020, dimana pangsa pemanfaatan minyak diesel/solar dan minyak bakar di Indonesia untuk pembangkitan listrik terus mengalami penurunan, dengan pangsa pemanfaatan minyak diesel/solar dari 13% menjadi 2% dan minyak bakar dari 20% menjadi 1%.

3.2.3 Kebutuhan Bahan Bakar di Luar Jawa

Kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa diperkirakan meningkat rata-rata 7,6% per tahun dari 38,96 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 135,98 juta SBM pada tahun 2020. Peningkatan kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa lebih tinggi daripada Jawa, sehingga pangsa bahan bakar di luar Jawa pada tahun 2020 meningkat menjadi 35,8% terhadap total konsumsi bahan bakar untuk pembangkit listrik nasional yang pada tahun 2003 baru mencapai 25,6%. Grafik kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa tahun 2003 s.d. tahun 2020 dan pangsanya ditunjukkan pada Grafik 10 dan Grafik 11.

Pada tahun 2003, pangsa kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa masing-masing adalah minyak solar/diesel sebesar 41,5%, batubara sebanyak 16%, minyak bakar sejumlah 14,7%, tenaga air sebesar 14%, gas bumi sebanyak 12,7%, dan panasbumi sejumlah 1,1%. Pangsa kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik pada tahun 2020 akan bergeser dimana kebutuhan BBM berupa minyak solar dan minyak bakar pangsanya akan menurun menjadi 6% dan 0,1% atau mengalami penurunan rata-rata 3,9% per tahun untuk minyak solar/diesel dan 22,4% untuk minyak bakar. Penurunan pangsa BBM tersebut akan diiringi dengan peningkatan kebutuhan bahan bakar non-BBM dengan pangsa yang bervariasi, masing-masing batubara sebanyak 33,4%, gas bumi sejumlah 24,5%, tenaga air sebesar 33%, panasbumi sebanyak 2,8%, dan biomasa sejumlah 0,1%. Penurunan kebutuhan BBM untuk pembangkit listrik disebabkan oleh lebih mahalnya harga BBM, tersedianya jaringan transmisi, dan terbatasnya pasokan BBM.

Peningkatan kebutuhan batubara terutama berlangsung di hampir seluruh wilayah di luar Jawa mengingat pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar PLTU-B akan menghasilkan biaya produksi listrik yang relatif lebih murah dibanding bahan bakar lainnya. Peningkatan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar pembangkit listrik akan berlangsung pada wilayah yang terdapat lapangan gas bumi, seperti di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Pemanfaatan gas bumi berupa LNG untuk pembangkit listrik juga akan berlangsung pada wilayah-wilayah yang tidak mempunyai dan lokasinya jauh dari sumberdaya energi, seperti Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Pemanfaatan panasbumi diperkirakan akan berlangsung pada wilayah Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Peningkatan pemanfaatan PLTA umumnya akan berlangsung pada wilayah Sumbagsel, S2JB (Sumatera Selatan-Jambi-Bengkulu), dan Sulawesi Selatan, serta dalam jumlah yang terbatas (PLTM) terjadi di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Papua.

data potensi energi listrik di indonesia


4. KESIMPULAN
Dari gambaran tentang analisis pemanfaatan energi pada pembangkit listrik nasional dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Secara umum, pola pemakaian jenis bahan bakar di Indonesia sama seperti di Jawa, karena produksi listrik di Jawa mencapai 75% terhadap produksi listrik nasional. Dapat dikatakan bahwa dengan telah tersedianya jaringan transmisi tegangan tinggi di Jawa, hampir seluruh pembangkit listrik berskala besar dipasang di Jawa.
  2. Dalam periode tahun 2003 s.d. 2020, pemanfaatan minyak diesel/solar dan minyak bakar di Indonesia untuk pembangkitan listrik terus mengalami penurunan, dengan laju penurunan berturut-turut 11,6% per tahun dan 5,6% per tahun, sementara untuk pulau Jawa pada kurun waktu yang sma laju penurunannya adalah minyak diesel/solar sebesar 2,8% per tahun dan minyak bakar sebesar 11,8%.
  3. Pada awal tahun 2003, hampir seluruh potensi tenaga panasbumi di Jawa telah dimanfaatkan, sehingga wilayah Jawa merupakan wilayah yang memanfaatkan panasbumi terbesar di Indonesia.
  4. Hasil kajian menunjukkan bahwa pangsa batubara di Jawa yang sebelumnya mendominasi pembangkitan listrik dari tahun 2003 sampai tahun 2020 menurun, dan peranannya digantikan oleh gas alam dimana pangsanya dalam pembangkitan listrik tahun 2003 sebesar 24% menjadi 45% pada tahun 2020. Penurunan pangsa batubara tersebut karena adanya kendala keterbatasan infrastruktur pelabuhan batubara di Jawa.
  5. Kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa diperkirakan meningkat rata-rata 7,6% per tahun dari 38,96 juta SBM pada tahun 2003 menjadi 135,98 juta SBM pada tahun 2020. Peningkatan kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik di luar Jawa lebih tinggi daripada Jawa, sehingga pangsa bahan bakar di luar Jawa pada tahun 2020 meningkat menjadi 35,8% terhadap total konsumsi bahan bakar untuk pembangkit listrik nasional yang pada tahun 2003 baru mencapai 25,6%.
Sumber.(Bppt).

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook