Alpen Steel | Renewable Energy

~ Situasi Kantor Di Jepang Ibarat Kelompok Semut

 Belajar dari Etos Kerja Orang Jepang
Situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang sama seperti sekelompok semut. Tidak ada 'semut' yang diam termangu, begitulah kinerja seluruh karyawan kantor yang senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam.
 

Kinerja mereka ibarat sekelompok semut-semut yang bila sedang bekerja tidak mengenal lelah dan terus bekerja.
"Para pegawai itu sanggup duduk berjam-jam, berkonsentrasi dan menatap monitor," kata Safri Bahar, salah seorang mahasiswa di Kobe University Jepang, kepada Upeks di rumahnya saat liburan di Makassar, baru-baru ini.
Tata ruang kantor khas Jepang, mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama tanpa sekat. Ini bertujuan agar bisa melihat semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan.
Di Jepang, ada sebuah paradigma yang berlaku bila ada pekerja yang datang ke kantor pada pukul 09.00, wakturesmi masuk kantor di Jepang dan pulang pada pukul 17.00, waktu resmi pulang kantor di Jepang, maka atasan dan kawan-kawan lainnya akan mengatakan bahwa pekerja tersebut tidak memiliki niat bekerja.
Aksi yang menarik juga kerap ditunjukkan saat pimpinan ataupun staf melayani masyarakat. Mereka berlari dalam arti sesungguhnya dengan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya.
Wajah mereka akan menatap pelanggannya dalam-dalam dengan mimik serius utuh diselingi dengan senyuman. Pada sistem pemerintahan Jepang, gaji pegawai tidak bisa dikatakan berlebihan, sesuai dengan standar upah di Jepang.
Mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara dengan penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain. "Sistem di Jepang selalu berlandaskan pada kejujuran, ini yang membuat Jepang cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien," terangnya.
Selain itu, juga diberikan kemudahan kepada orang asing yang mengurus dokumen di pemerintahan Jepang. Kemudahan itu berupa fasilitas pendampingan sampai urusan dokumen selesai.
Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian, itulah yang terjadi di Jepang. Saat terjadi kesalahan pun, orang-orang Jepang tidak segan-segan meminta maaf berulang kali kepada pelanggannya.
Bahkan menejer pun ikut minta maaf atas kesalahan tersebut dan biasanya akan disertai dengan bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal. Ini membuktikan di Jepang sangat mementingkan kejujuran dan perhatian.
Kejujuran dan perhatian pun tidak hanya berlaku di kantoran tapi juga di pasar. Dia mencontohkan, saat membeli buah yang harganya murah karena kondisinya cacat, penjual buah akan menerangkan dan menunjukkan kondisi tersebut, dan bahkan kembali memastikan niat pembeli untuk mengambil bauh tersebut. Sikap jujur ini tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang.
"Mereka mengerti betul kejujuran adalah syarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan," ceritanya membandingkan perilaku warga di Sulsel.
Saat memberikan uang kembalian pun mereka memegang teguh kejujuran. Uang kembalian tersebut dalam jumlah yang utuh dan sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen. Tidak ada 'pemaksaan' untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu.
Selain itu, sistem perbankan Jepang juga mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. "Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat sepele, hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli," ungkap Safri.
Bila terjadi kesalahan yang diakibatkan ketidaksengajaan pelanggan, pelayan atau petugas akan memaklumi kejadian tersebut dan memberikan bantuan agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Begitu pula saat menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk, namun dia akan mengantar hingga berjumpa dengan barang yang dicari dan baru akan meninggalkan pelanggannya setelah memastikan semuanya baik.
Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang banyak hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar. Justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak, seperti semut.
Contoh di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer juga kasir dan petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang dibeli .
Dalam hal keamanan, polisi memiliki sistem bekerja dan melindungi. Bila terjadi pelanggaran, tidak ada jalan untuk melarikan diri karena ada sistem network yang sangat baik.
Walaupun penampilan polisi di beberapa kota di Jepang sangat sederhana tapi mereka sangat dihargai oleh warga. Polisi di Jepang bekerja lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker).
Kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran, polisi muda berkacamata melakukan patroli hanya dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
Di Jepang jumlah penduduk terbilang besar, hampir separuh jumlah penduduk di Indonesia. Banyaknya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi tapi tetap menyiratkan dua hal, yakni kerapian dan kebersihan.
Akan sangat sulit menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan di Jepang. Kemana mata memandang, maka kesitulah akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi.
"Orang Jepang meletakkan sepatu atau alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata," kata Safri. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Sistem dan sarana transportasi yang baik di Jepang membuat warga tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri, kecuali bila tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum.
Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi transportasi yang digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat 'tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan' mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau, dijamin akan selamat sampai ke seberang, tanpa perlu menengok kiri dan kanan.
Dari sisi kesehatan, Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Seperti mahasiswa di Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan gratis setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah.
"Walaupun orang asing, juga dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat," kata Safri.
Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, juga akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% dari Kementerian Pendidikan Jepang. Berstatuskan mahasiswa asing membayar premi asuransi per-bulan pun jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit atau klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi orang asing di Jepang.
Pihak rumah sakit atau klinik swasta tidak akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi termasuk kartu khusus keluarga tidak mampu.
Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang dan prosedur yang sama sederhananya. Keramahan ini tidak berbeda antara orang kaya atau miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang juga sangat mudah. Saling percaya adalah kuncinya. (mg03/suk/D)

 

 

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook