Alpen Steel | Renewable Energy

~ Ramadan Rawan DampakKenaikan Harga Gas Industri

BANDUNG, (PRLM).- Dampak kenaikan harga gas industri sebesar 55% dipastikan akan sangat terasa pada Ramadan. Pasalnya, sebagian besar industri pengguna gas diprediksi baru akan menaikkan harga jual produk pada bulan depan. Kenaikan harga diperkirakan bervariasi, hingga 15%.

Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat (Jabar), Deddy Widjaya, di Bandung, Kamis (14/6). Hingga saat ini, menurut dia, industri umumnya belum menaikkan harga jual produknya karena banyak diantara mereka yang belum menerima surat edaran terkait kenaikan harga gas.

"Kenaikan harga gas industri sudah mulai berlaku sejak Mei. Akan tetapi, sampai sekarang banyak pelaku industri yang bimbang memutuskan langkah ke depan, kapan akan menaikkan harga dan berapa besarannya. Banyak diantara mereka yang belum tahun berapa tagihan gas perusahaannya," kata Deddy.

Jika kenaikan harga gas industri tidak direvisi, ia memastikan, pada Juli industri pengguna gas akan menaikkan harga jual produknya. Dampak terbesar akan dirasakan industri keramik, kaca, dan sebagian makanan, seperti roti juga biskuit.

"Pertengahan Juli sudah masuk Ramadan. Kenaikan harga tentu sangat rawan, apalagi Ramadan adalah periode puncak lonjakan permintaan, khususnya untuk produk makanan. Dorongan terhadap inflasi tentu akan sangat besar," kata Deddy.

Dampak kenaikan harga gas industri, lanjutnya, bukan hanya semata terjadi pada harga jual produk. Deddy menilai, kebijakan tersebut juga akan menggerus daya saing industri nasional, baik di dalam maupun luar negeri. "Apalagi, pasokan gas juga belum memenuhi kebutuhan nasional," tuturnya.

Saat ini, menurut dia, krisis Eropa dan melambatnya pertumbuhan ekonomi sejumlah negara membuat ekspor Indonesia terus merosot. Sementara di dalam negeri produk industri nasional terus digempur produk impor sejenis yang harganya jauh lebih murah.

Ironisnya, lanjut Deddy, produk impor tersebut, khususnya dari Cina, diproduksi dengan menggunakan energi murah dari Indonesia, baik gas maupun batubara. Sementara industri di dalam negeri justru mengeluhkan sulitnya mengakses kedua energi murah tersebut.

"Agustus ini barang-barang impor akan membajiri pasar lokal. Kalau kebijakan gas tidak diubah, kita bisa kalah bersaing. Ancaman PHK bukan tidak mungkin terjadi. Kemungkinan besar PHK akan marak setelah Lebaran," tuturnya.

Itulah, menurut Deddy, mengapa Apindo menilai, ini bukan saat yang tepat untuk menaikkan harga gas industri sebesar itu. "Kalaupun terpaksa naik, besaran kenaikannya sekitar 10%-15%. Kalau itu, masih bisa kami terima," ujarnya.

Untuk itu, ia mengaku berharap, pertemuan antara Menteri Perindustrian MS Hidayat, pelaku industri, dan Direksi Perusahaan Gas Negara (PGN) pekan depan bisa menghasilkan solusi terbaik terkait persoalan gas industri, baik harga maupun pasokan. Pertemuan tersebut diprakarsai Menteri Perindustrian.

"Apindo Jabar akan diwakili Apindo Pusat. Ada beberapa poin penting yang akan kami sampaikan. Diantaranya, keberatan pengusaha Jabar tentang kenaikan harga gas yang sangat memberatkan dan aspirasi kami agar energi murah, seperti batubara dan gas, diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional," kata Deddy.

Pekan depan, Hidayat berencana mempertemukan pelaku industri dan Direksi PGN untuk membahas persoalan harga dan pasokan gas. Melalui pertemuan tersebut, Hidayat menargetkan, semua persoalan terkait gas industri bisa diselesaikan dengan win win solution. 

http://www.pikiran-rakyat.com 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook