Alpen Steel | Renewable Energy

~ Industri Kecil Terpukul dengan Kenaikan Harga Elpiji

BANYUMAS, (PRLM).- Industri kecil terpukul dengan kenaikan harga gas elpiji isi tabung 50 kilogram (kg). Ketakutan terjadi kebangkrutan industri kecil banyak yang beralih ke gas elpiji tabung isi 12 kg atau gas untuk rumah tangga.

Sektor usaha kecil yang terpukul dengan kenaikan gas elpiji isi 50 kg antara lain dialami oleh usaha kecil makanan di Banyumas, industri knalpot di Purbalingga, dan perajin keramik di Banjarnegara.

"Masalahnya kenaikkan harga gas elpiji 50 kg untuk industri kecil tidak kira-kira, berkisar Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per tabung," kata pemilik industri keripik tempe 'Niti', Puguh Jatmiko.

Puguh mengaku, sangat terpukul dengan kenaikan tersebut. Mengingat bukan hanya masalah bahan bakar saja yang mengalami kenaikan. Bahan baku kedelai impor dari Amerika juga mengalami kenaikan.

Sebelumnya harga gas elpiji isi tabung 50 di tingkat agen dan pengecer Rp 375.000 hingga Rp 385.000. Namun awal Mei lalu, harga gas elpiji tersebut naik menjadi Rp 470.000 hingga Rp 490.000 per tabung.

Padahal, kebutuhan bahan bakar untuk menggoreng keripik tempe cukup banyak. Dalam sehari dibutuhkan gas sebanyak 2
tabung isi 50 kg per. Atau sekitar Rp 23 juta per bulan hanya untuk membeli gas. "Tapi sejak ada kenaikan saya harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 26 juta perbulan atau naik Rp 6 juta perbulannya," terang Puguh.

Uang Rp 6 juta bagi pemilik industri kecil seperti dirinya sangat berarti. Sebab pelanggan tidak mau jika harga tempe kripik naik. Di samping itu harga tempe sebagai bahan baku usahanya, juga mengalami kenaikan akibat harga kedelai yang naik.

Menghadapi kondisi semacam ini, dia mengaku, saat ini terpaksa beralih menggunakan gas isi 12 kg agar usahanya tidak bangkrut. "Saya harus bertahan tanpa harus menaikkan harga produksi tempenya. Oleh karena saya terpaksa beralih menggunakan gas isi tabung 12 kg," katanya.

Sebab harga gas elpiji isi tabung 12 kg sejauh ini tidak mengalami kenaikan. Di tingkat pengecer, harga gas ini masih dijual seharga Rp 75.000 hingga Rp 77.000 per tabung. Kalau menggunakan gas isi 3 kg, Puguh mengaku tidak berani dan tidak etis. Sebab gas isi 3 kg hanya diperuntukkan bagi warga miskin.

Perajin kecil knalpot Warhan (45) Pesayangan Kabupaten Purbalingga mengaku terpukul dengan kenaikan gas isi 50 kg. Sudah beberapa hari belakangan menggunakan gas isi 12 untuk pengelasan. Sebab kebutuhan gas cukup tinggi, perminggu bisa mencapai antara 5-6 tabung isi kg.

Sebelumnya industri kecil knalpot terpukul oleh naiknya harga logam. Kini mereka harus membayar lebih untuk kebutuhan bahan bakarnya.

Langkah serupa dilakukan pengusaha kerajinan keramik di Kecamatan Purworejo Klampok Kabupaten Banjarnegara. Ketua Sentra Keramik Purworejo Klampok, Sahri, mengaku perajin keramik di wilayahnya terpaksa beralih menggunakan gas elpiji isi tabung 12 kg untuk melakukan proses pembakaran kerajinan keramik yang dibuat. "Usaha kecil sudah mensiasati kenaikan gas elpiji 50 dengan beralih ke gas elpiji isi 12," kata Sahri.

"Kita tidak mau bangkrut dengan kenaikkan harga elpiji. Sebab kita tidak bisa. menaikkan harga jual keramik. Saat ini saja kita harus bertahan dengan gempuran keramik Cina yang lebih murah. Kalau kita naikkan harga maka usaha kita bisa mati," terangnya.

http://www.pikiran-rakyat.com 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook