Alpen Steel | Renewable Energy

~ Denmark Bantu US$ 10 Juta untuk Program Efisiensi Energi

Pemerintah Kerajaan Denmark melalui duta Besar di Indonesia mengaku sangat mendukung Program efisiensi dan konservasi energi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah Denmark bahkan telah memberikan bantuan dana senilai kurang lebih US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program. 


“Denmark sangat mendukung inisiatif energi bersih di Indonesia, seiring dengan perkembangan di Denmark sendiri, dimana Parlemen Denmark telah menyepakati sebuah inisiatif energi baru,” demikian disampaikan Duta Besar Denmar Borge Peterson ketika menjadi pembicara dalam acara Nasional Energy Efficiency Conference (NEE) di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Senin 11 Juni 2012. 

Lebih lanjut ia mengatakan, perjanjian tersebut menargetkan penghematan 12% dari konsumsi energi Denmark (2006-2020), pengurangan 34% dari emisi CO2 Denmark (1990-2020), target 35% proporsi energi terbarukan dari total bauran energi Denmark pada tahun 2020, dan 100% pada tahun 2050.

Peterson mengaku, Denmark berhasil mempertahankan konsumsi energi nasional dalam kurun 30 tahun dan mampu melipatgandakan PDB pada periode yang sama. Efisiensi energi adalah kunci dan penting bagi kedua negara untuk belajar satu sama lain. Konferensi ini memberikan kesempatan untuk berkolaborasi di bidang efisiensi energi dan juga ekonomi hijau, dimana perusahaan-perusahaan Denmark juga hadir untuk berbagi keahlian mereka dalam efisiensi energi. 

NEE diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari. Tanggal 11 dan 12 Juni 2012. 

Tujuan untuk menggali potensi efisiensi energi di Indonesia serta menggalakkan dukungan secara nasional terhadap gerakan penghematan energi nasional yang telah diumumkan oleh Presiden RI pada tanggal 29 Mei 2012. 

Kebijakan Energi Nasional (2006) menyatakan bahwa Indonesia harus mencapai elastisitas energi kurang dari 1 pada tahun 2025. Saat ini Indonesia ada di 1.63, sedangkan Thailand 1,4 dan Singapura 1,1. Sedangkan negara maju, elastisitas energi berada di 0.1-0.6.

Berdasarkan audit yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dari tahun 2003-2010, potensi efisiensi energi adalah 5% yang setara dengan investasi sebesar 23,8 triliyun rupiah hingga 289 triliyun rupiah setiap tahunnya.

Sementara disatu sisi, sumber energi kita masih sangat tergantung kepada bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui. Konsumsi minyak hingga saat ini masih sangat mendominasi, yaitu sebesar 42,99% dari konsumsi energi total, diikuti oleh gas dan batu bara masing-masing 18,48% dan 34,47%. 

Data menunjukkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 10 tahun lagi, berdasar cadangan terbukti yang ada saat ini. Adapun penggunaan energi baru dan terbarukan baru berkisar 4% dari total konsumsi energi. Situasi ini mengkhawatirkan terkait penipisan sumber daya energi, beban anggaran negara untuk subsidi dan keamanan terhadap perubahan iklim.

“Sudah waktunya kita sebagai bangsa mulai melakukan penghematan energi,” ujar Direktur Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kardaya Warnika.

Tingginya subsidi pemerintah terhadap sektor energi belum sepenuhnya memberikan keadilan sosial dalam pengadaan listrik. Dengan rasio elektrifikasi kurang 80% berarti lebih dari 20% rumah tangga, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki akses listrik. 

Konferensi ini merupakan salah satu program kerja dari Energy Efficiency and Conservation Clearing House for Indonesia (EECCHI). Sebuah unit atau wadah pelayanan informasi efisiensi energi sebagai salah satu komponen dari Program Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) yang merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance).Pemerintah Kerajaan Denmark melalui duta Besar di Indonesia mengaku sangat mendukung Program efisiensi dan konservasi energi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah Denmark bahkan telah memberikan bantuan dana senilai kurang lebih US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program. 



“Denmark sangat mendukung inisiatif energi bersih di Indonesia, seiring dengan perkembangan di Denmark sendiri, dimana Parlemen Denmark telah menyepakati sebuah inisiatif energi baru,” demikian disampaikan Duta Besar Denmar Borge Peterson ketika menjadi pembicara dalam acara Nasional Energy Efficiency Conference (NEE) di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Senin 11 Juni 2012. 

Lebih lanjut ia mengatakan, perjanjian tersebut menargetkan penghematan 12% dari konsumsi energi Denmark (2006-2020), pengurangan 34% dari emisi CO2 Denmark (1990-2020), target 35% proporsi energi terbarukan dari total bauran energi Denmark pada tahun 2020, dan 100% pada tahun 2050.

Peterson mengaku, Denmark berhasil mempertahankan konsumsi energi nasional dalam kurun 30 tahun dan mampu melipatgandakan PDB pada periode yang sama. Efisiensi energi adalah kunci dan penting bagi kedua negara untuk belajar satu sama lain. Konferensi ini memberikan kesempatan untuk berkolaborasi di bidang efisiensi energi dan juga ekonomi hijau, dimana perusahaan-perusahaan Denmark juga hadir untuk berbagi keahlian mereka dalam efisiensi energi. 

NEE diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari. Tanggal 11 dan 12 Juni 2012. 

Tujuan untuk menggali potensi efisiensi energi di Indonesia serta menggalakkan dukungan secara nasional terhadap gerakan penghematan energi nasional yang telah diumumkan oleh Presiden RI pada tanggal 29 Mei 2012. 

Kebijakan Energi Nasional (2006) menyatakan bahwa Indonesia harus mencapai elastisitas energi kurang dari 1 pada tahun 2025. Saat ini Indonesia ada di 1.63, sedangkan Thailand 1,4 dan Singapura 1,1. Sedangkan negara maju, elastisitas energi berada di 0.1-0.6.

Berdasarkan audit yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dari tahun 2003-2010, potensi efisiensi energi adalah 5% yang setara dengan investasi sebesar 23,8 triliyun rupiah hingga 289 triliyun rupiah setiap tahunnya.

Sementara disatu sisi, sumber energi kita masih sangat tergantung kepada bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui. Konsumsi minyak hingga saat ini masih sangat mendominasi, yaitu sebesar 42,99% dari konsumsi energi total, diikuti oleh gas dan batu bara masing-masing 18,48% dan 34,47%. 

Data menunjukkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 10 tahun lagi, berdasar cadangan terbukti yang ada saat ini. Adapun penggunaan energi baru dan terbarukan baru berkisar 4% dari total konsumsi energi. Situasi ini mengkhawatirkan terkait penipisan sumber daya energi, beban anggaran negara untuk subsidi dan keamanan terhadap perubahan iklim.

“Sudah waktunya kita sebagai bangsa mulai melakukan penghematan energi,” ujar Direktur Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kardaya Warnika.

Tingginya subsidi pemerintah terhadap sektor energi belum sepenuhnya memberikan keadilan sosial dalam pengadaan listrik. Dengan rasio elektrifikasi kurang 80% berarti lebih dari 20% rumah tangga, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki akses listrik. 

Konferensi ini merupakan salah satu program kerja dari Energy Efficiency and Conservation Clearing House for Indonesia (EECCHI). Sebuah unit atau wadah pelayanan informasi efisiensi energi sebagai salah satu komponen dari Program Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) yang merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance).

Pemerintah Kerajaan Denmark melalui duta Besar di Indonesia mengaku sangat mendukung Program efisiensi dan konservasi energi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah Denmark bahkan telah memberikan bantuan dana senilai kurang lebih US$ 10 Juta untuk kurun waktu empat tahun program. 


“Denmark sangat mendukung inisiatif energi bersih di Indonesia, seiring dengan perkembangan di Denmark sendiri, dimana Parlemen Denmark telah menyepakati sebuah inisiatif energi baru,” demikian disampaikan Duta Besar Denmar Borge Peterson ketika menjadi pembicara dalam acara Nasional Energy Efficiency Conference (NEE) di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Senin 11 Juni 2012. 

Lebih lanjut ia mengatakan, perjanjian tersebut menargetkan penghematan 12% dari konsumsi energi Denmark (2006-2020), pengurangan 34% dari emisi CO2 Denmark (1990-2020), target 35% proporsi energi terbarukan dari total bauran energi Denmark pada tahun 2020, dan 100% pada tahun 2050.

Peterson mengaku, Denmark berhasil mempertahankan konsumsi energi nasional dalam kurun 30 tahun dan mampu melipatgandakan PDB pada periode yang sama. Efisiensi energi adalah kunci dan penting bagi kedua negara untuk belajar satu sama lain. Konferensi ini memberikan kesempatan untuk berkolaborasi di bidang efisiensi energi dan juga ekonomi hijau, dimana perusahaan-perusahaan Denmark juga hadir untuk berbagi keahlian mereka dalam efisiensi energi. 

NEE diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari. Tanggal 11 dan 12 Juni 2012. 

Tujuan untuk menggali potensi efisiensi energi di Indonesia serta menggalakkan dukungan secara nasional terhadap gerakan penghematan energi nasional yang telah diumumkan oleh Presiden RI pada tanggal 29 Mei 2012. 

Kebijakan Energi Nasional (2006) menyatakan bahwa Indonesia harus mencapai elastisitas energi kurang dari 1 pada tahun 2025. Saat ini Indonesia ada di 1.63, sedangkan Thailand 1,4 dan Singapura 1,1. Sedangkan negara maju, elastisitas energi berada di 0.1-0.6.

Berdasarkan audit yang dilakukan oleh Kementerian ESDM dari tahun 2003-2010, potensi efisiensi energi adalah 5% yang setara dengan investasi sebesar 23,8 triliyun rupiah hingga 289 triliyun rupiah setiap tahunnya.

Sementara disatu sisi, sumber energi kita masih sangat tergantung kepada bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui. Konsumsi minyak hingga saat ini masih sangat mendominasi, yaitu sebesar 42,99% dari konsumsi energi total, diikuti oleh gas dan batu bara masing-masing 18,48% dan 34,47%. 

Data menunjukkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam waktu 10 tahun lagi, berdasar cadangan terbukti yang ada saat ini. Adapun penggunaan energi baru dan terbarukan baru berkisar 4% dari total konsumsi energi. Situasi ini mengkhawatirkan terkait penipisan sumber daya energi, beban anggaran negara untuk subsidi dan keamanan terhadap perubahan iklim.

“Sudah waktunya kita sebagai bangsa mulai melakukan penghematan energi,” ujar Direktur Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kardaya Warnika.

Tingginya subsidi pemerintah terhadap sektor energi belum sepenuhnya memberikan keadilan sosial dalam pengadaan listrik. Dengan rasio elektrifikasi kurang 80% berarti lebih dari 20% rumah tangga, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki akses listrik. 

Konferensi ini merupakan salah satu program kerja dari Energy Efficiency and Conservation Clearing House for Indonesia (EECCHI). Sebuah unit atau wadah pelayanan informasi efisiensi energi sebagai salah satu komponen dari Program Efficiency in Industrial, Commercial and Public Sector (EINCOPS) yang merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral didukung oleh Pemerintah Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Assistance).

http://www.majalahtambang.com
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook