Alpen Steel | Renewable Energy

~ "Kebun Energi" Akan Menjamin Pasokan Energi Alternatif (BioFuel)

Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merekomendasikan skenario perkebunan energi yang diharapkan mampu menjamin ketersediaan bahan bakar nabati (biofuel) untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

"Kebun energi ini misalnya perkebunan sawit yang dikhususkan untuk bahan baku biodiesel, tidak boleh untuk keperluan lainnya seperti komoditas ekspor," kata Deputi Kepala BPPT BIdang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Dr Unggul Priyanto di Jakarta, Rabu (2/5).

Ia menyatakan prihatin, produksi biodiesel saat ini hanya sekitar 10 persen saja dari kapasitas terpasang pabrik biodiesel yang mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun. Hal tersebut karena pengusaha CPO (minyak sawit mentah) lebih senang mengekspornya ke pasar internasional terkait harganya yang sedang bagus Rp8.500 per liter.

Kondisi yang lebih parah, lanjutnya, dialami oleh bioethanol yang hanya diproduksi 1 persen dari kapasitas produksi yang sekitar 300 ribu kiloliter per tahun. Bahan bakun yang berupa singkong, tebu, dan sejenisnya sebagian besar lebih digunakan sebagai bahan pangan.

Menurut Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT Dr Adiarso, area industri biodiesel sebenarnya sangat luas dan potensial dikembangkan di Indonesia. Bahkan, industri dinilai dapat berkelanjutan dan terintegrasi dari hulu sampai ke hilir.

Saat ini, lahan sawit sudah mencapai 8,4 juta hektare dari keseluruhan potensi seluas 45 juta hektare. Padahal produksi CPO saat ini sudah berlebih yaitu sekitar 25 juta ton per hektare.

"Seandainya 0,5 persen atau sekitar sejuta hektare saja dijadikan perkebunan energi dengan menanam kelapa sawit, maka bisa diproduksi biodiesel sebanyak 75 ribu barel per hari. Suatu jumlah yang sangat besar, termasuk untuk kebutuhan B10 (campuran 10 persen biodiesel dan 90 persen solar) atau bahkan B20 sekalipun," katanya.

Menurutnya melalui kebun energi ini diharapkan bisa dikembangkan pula dari beberapa jenis tanaman lainnya. Singkong, tebu sorgum, dan sejumlah tanaman lainnya bisa menjadi bahan produksi bioethanol tergantung dari kecocokan lahan.

Pada prinsipnya, ujar Diarso, perkebunan energi ini merupakan sebuah entitas bisnis perkebunan yang dikelola pemerintah untuk menjalankan usaha khusus dalam penyediaan energi bagi masyarakat.

Bila konsep ini berhasil, urainya, sangat dimungkinkan pasokan biofuel akan stabil. Selain itu, harganya pun bisa menjadi cukup murah di bawah harga solar bersubsidi Rp4.500 per liter.

"Brasil adalah contoh negara yang berhasil mengembangkan bioethanol dari tanaman tebu. Indonesia seharusnya juga bisa," katanya. (metrotvnews.com)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook