Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangunan Pembangkit Listrik 15.000 MW

Mengejar Investasi Rp 10.000 Triliun

 

Oleh Nur Hidayati

Mengawali rapat kerja di Istana Tampaksiring, Bali, pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan 10 arah sasaran untuk dicarikan cara pencapaiannya. Salah satu yang perlu dicari upaya dan caranya adalah mengejar nilai investasi Rp 10.000 triliun dalam lima tahun, yakni hingga 2014. 

Investasi senilai Rp 2.000 triliun per tahun itu diperhitungkan menjadi prasyarat untuk mendukung perekonomian tumbuh 7 persen hingga 7,7 persen tahun 2014.

Rapat kerja yang berlangsung 19-21 April ini diikuti semua menteri, pejabat setingkat menteri, pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, direktur BUMN, gubernur dan ketua DPRD provinsi se-Indonesia, pakar teknologi, ekonom, dan pelaku usaha.

Rapat dibagi dalam empat kelompok kerja (pokja), masing-masing membahas perekonomian, program prorakyat, program keadilan untuk semua, dan program pencapaian tujuan pembangunan milenium.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan memimpin pokja perekonomian. Pada pokja inilah pembahasan yang berlangsung sekitar 1,5 hari berjalan paling alot.

Hasil pembahasan pokja yang dipaparkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa terlihat komprehensif. Namun, bila pada pokja lain program bisa sepenuhnya diturunkan dalam matriks rencana aksi, tidak demikian halnya dalam urusan perekonomian.

Program unggulan

Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 7,7 persen dalam skenario optimis atau 7 persen dalam skenario pesimis tahun 2014. Angka itu haruslah menggambarkan pertumbuhan yang merata. Artinya, kebijakan pengembangan ekonomi yang sinergis antara pemerintah pusat dan daerah menjadi prasyarat.

Pengembangan produk unggulan dengan sistem kluster, pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, dan kawasan ekonomi khusus yang kondusif tak mungkin terjadi tanpa kerja sama pusat-daerah.

Upaya mendorong pertumbuhan membutuhkan investasi sebagai ”bahan bakar”. Dalam pembahasan pokja ditargetkan investasi tumbuh di atas 12 persen tahun 2014.

Investasi ini mesti dikejar dengan pembenahan koordinasi lintas sektoral maupun pusat-daerah. Penghilangan tradisi egosektoral diyakini penting untuk membuat iklim investasi lebih baik. Pembiayaan jangka panjang juga perlu didukung penurunan suku bunga riil dan optimalisasi sumber pendanaan alternatif seperti Jamsostek, asuransi, dan dana pensiun.

Pembiayaan jangka panjang, antara lain, berperan menentukan dalam pengembangan infrastruktur. Khusus proyek infrastruktur, diperkirakan bakal diserap investasi Rp 1.500 triliun dari total investasi Rp 10.000 triliun hingga tahun 2014.

Penyelesaian dry port tahun 2010, pembangunan trek ganda angkutan batu bara dan komoditas lainnya di Sumatera serta Kalimantan tahun 2011 termasuk dalam proyek infrastruktur yang mendesak.

Diprioritaskan pula pembangunan pembangkit listrik 15.000 megawatt, pembangunan dan perbaikan 20.000 kilometer jalan, perluasan pelabuhan utama, dan pembangunan pelabuhan baru yang terintegrasi dengan kawasan ekonomi khusus.

Pokja menyepakati bahwa investasi mesti diarahkan yang lebih bersifat inovatif dan ramah lingkungan. Akan disusun cetak biru kebijakan inovasi nasional yang bakal mendongkrak daya saing ekonomi nasional.

Inovasi yang mampu meningkatkan daya saing perlu dituangkan dalam program strategis bersifat terapan dan riset jangka panjang. Kebijakan inovasi ini akan difokuskan pada pengembangan sumber daya maritim dan sumber daya alam lainnya, sumber daya insani, bioteknologi, dan energi terbarukan.

Pokja juga mengusulkan untuk ditetapkan tiga atau empat inovasi terbaik dan berdampak luas untuk mendapat dukungan biaya riset serta perlindungan pemerintah. Untuk mendorong inovasi yang meningkatkan daya saing, revitalisasi balai-balai latihan di semua provinsi juga mendesak dilakukan.

Sistem insentif yang memungkinkan sektor swasta, BUMN, dan lembaga-lembaga penelitian bersinergi juga perlu diimplementasikan. Perusahaan swasta dan BUMN yang melakukan penelitian dan pengembangan itu dapat dihitung sebagai pengurangan dalam pembayaran pajak.

Menjelang penutupan raker, Wakil Presiden Boediono menyebutkan, ada tiga kunci yang menentukan apakah raker ini bermanfaat atau tidak. ”Pertama, implementasi. Kedua, implementasi. Ketiga, implementasi,” ujar Wapres.

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook